sejarah
Hari ini Kamis tanggal 23 November: pada tahun 1616 John Wallis, matematikawan Inggris lahir dan th. 1945 Laskar Hizbullah diresmikan di Pd. Panjang.
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
BANGUN NAGARI
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (73 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di Nagari Sulik Aie - 995877
  • Tiga Peristiwa Tragis di nagari Batipuah - 1054134
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 1064866
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 1125714
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 1302798
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 1526793
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 1429805
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 1437111
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 1559139
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 1440694
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya

  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)

  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • Unduh yg Diperlukan

  • PRRI di Kt. Anau
  • PRRI di Simarasok
  • Menjaga M. Natsir
    di Rimba Masang
  • Telah dibaca oleh: 1302798 orang.

    Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh

    Dikarang oleh : H. si Am Dt. Soda

    7 Juli 2013

    Pendahuluan

    Untuk melengkapi bukti sejarah
    Syair ditulis dengan Bismillah
    Membuat catatan bermacam kisah
    Sekitar perang berdarah darah

    Ada petuah orang Yunani
    Sering dikutip para ahli
    Ini merupakan sebagai motivasi
    Ketika menuliskan syair ini

    Historia vero testis temporum = sejarah adalah saksi zaman
    Lux veritatis = sinar kebenaran
    Vita memoriae = kenangan hidup
    Magistra vitae = guru kehidupan
    Nuntia vetustatis = pesan dari masa silam

    Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM)

    Mohon dimaafkan dengan ikhlas
    Seandainya cerita kurang jelas
    Mungkin kalimat terlalu keras
    Atau kisah tidak tuntas

    Jangan jadikan bahan olok-olok
    Kalau data tidak cocok
    Lakukan survey, pergilah tengok
    Itulah sikap yang lebih elok

    Walau isinya merupakan fakta
    Membaca syair jangan tergesa
    Karena menyangkut masalah rasa
    Setiap orang berbeda-beda

    Penulis bukan seorang Doktor
    Tidak pula berprofesi motivator
    Hanyalah pensiunan pegawai kantor
    Orang awam, bisa teledor

    Ibarat cenderamata Oleh-oleh
    Kalau berkunjung ke Muaro Paneh
    Ada tugu bentuknya aneh
    Bukti sejarah perlu ditoleh

    Orang membaca masa lalu
    Dari tonggak disebut Tugu
    Bentuknya mirip seperti peluru
    Karena dibuat penguasa serdadu

    Melihat tugu tegak berdiri
    Di simpang jalan menuju Kinari
    Pesan penting memberi inspirasi
    Menulis syair, kaba PRRI

    Setelah nagari kalah ditaklukkan
    Di setiap tempat, kota kecamatan
    Dibangun tugu sebagai peringatan
    Menandai peristiwa tanggal kejadian

    Jurnalis Labuah Basa

    Narasumber bergelar Labuah Basa
    Manusia langka nyawa tersisa
    Di tubuh tersimpan peluru senjata
    Difoto ronsen tampak tiga

    Ketika luka telah sembuh
    Peluru tertanam di dalam tubuh
    Tiada sakit bila disentuh
    Terlihat peluru masih utuh

    Di Sikapuah daerah Palangki
    Bukit Putuih berhutan sepi
    Basis penting pejuang PRRI
    Di situ Jurnalis hampir mati

    Ketika Jurnalis seorang diri
    Menjemput makanan untuk konsumsi
    Tentara Pusat telah menanti
    Dia ditembak berkali kali

    Jurnalis terkejut tak bisa menghindar
    Lalu berlari menyusup belukar
    Sambil mengucap kalimat istigfar
    Astagfirullah, Allohu akbar

    Walau kepala sedikit pusing
    Jurnalis berlari ke arah tebing
    Ke tepi bukit agak miring
    Kemudian melompat berguling-guling

    Musuh melacak ke dalam hutan
    Mengikuti tetes darah berceceran
    Tapi takdir pertolongan Tuhan
    Darah dibersihkan oleh hujan

    Ketika dicari tentara pusat
    Jurnalis sembunyi, tidak terlihat
    Hutan rimba sangat lebat
    Telah terbukti sangat bermanfaat

    Tanda bukti orang beriman
    Tidak menduakan kehendak Tuhan
    Walaupun berat memikul beban
    Anggaplah itu datang Cobaan

    Sebelum ajal, berpantang mati
    Jurnalis selamat sampai kini
    Hidup di kampung sebagai petani
    Menjadi sumber kisah PRRI

    Basa bernama Engku Jurnalis
    Mantan Kokam, anti Komunis
    Dunsanak senagari Irlan Idris
    Orang Kinari kawan penulis

    Waktu negara dalam bahaya
    Soekarno berbuat semena mena
    Jurnalis berusia masih remaja
    Dia berniat masuk tentara

    Pergi mendaftar anggota DBI
    Pasukan khusus bagian Infantri
    Mampu menembak sambil berlari
    Latihannya berat petang dan pagi

    Sebagai wakil komandan Regu
    Jurnalis ingat tanpa ragu
    Nomor Register tercatat di buku
    0181

    Komandan regu bernama Edi Kapoyos
    Orang Minahasa bersifat polos
    Di Ladang Padi mendirikan Pos
    Guna menghambat musuh menerobos

    Penjagaan di Ladang belum siap
    Menghadapi musuh bersenjata lengkap
    Pertahanan jatuh dalam sekejap
    Kapoyos terkepung lalu ditangkap

    Waktu ditangkap di Ladang Padi
    Kopoyos diikat sambil diinterogasi
    Menjadi sumber banyak informasi
    Tentang anggota pasukan DBI

    Karena komandan telah hilang
    Jurnalis mundur ke arah Talang
    Untuk terus ikut berperang
    Melawan Pusat ikhlas berjuang

    Akhir 59 di Solok Kinari
    Kapoyos disertakan dalam operasi
    Jurnalis ditanyakan kemana pergi
    Penduduk menjawab sesuka hati

    Serangan Udara di Kinari

    Kisah di ceritakan Angku Warneri
    Serangan udara di Nagari Kinari
    Ketika dia seorang diri
    Duduk di Lapau menunggu pembeli

    Masih langka tinta Dawat
    Tanggal peristiwa tidak dicatat
    Hanya Warneri selalu ingat
    Karena dirinya telah selamat

    Angku Murad Dubalang Sati
    Ayah kandung saudara Warneri
    Termasuk aktivis partai Masyumi
    Pendukung setia perjuangan PRRI

    Karena mendukung kelompok perjuangan
    Tokoh Masyumi masuk catatan
    Menjadi target perlu dihancurkan
    Dengan Bom atau tembakan

    Warneri berusia delapan tahun
    Karena mengantuk baru bangun
    Menjaga warung sambil melamun
    Kampung ditembak tanpa ampun

    Walau tidak asrama tentara
    Bukan pula tanpa sengaja
    Telah digambar di dalam peta
    Menjadi target serangan udara

    Ketika peluru mengenai drum minyak
    Warneri terkejut, lalu berteriak
    Memanggil Ibu serta Bapak
    Begitulah sifat anak-anak

    Bahan bakar minyak tanah
    Harga sekaleng sepuluh Rupiah
    Kena peluru menjadi tumpah
    Lantai lapau semuanya basah

    Ketika perang masih berkobar
    Minyak tanah bahan bakar
    Untuk penerangan dapur dan kamar
    Tetap tersedia di pasar pasar

    Sumber penerangan saat itu
    Baru dinyalakan kalau perlu
    Lampu dinding yang ada sumbu
    atau Suluh dari ruas Bambu

    Sesudah minyak tumpah ke lantai
    Warneri sigap tiada lalai
    Dia melompat ke luar Kedai
    Menatap langit, mata mengintai

    Tampak di langit ada pesawat
    Terbang rendah sangat cepat
    Begitu jelas mudah terlihat
    Angkatan Udara tentara Pusat

    Sumber barang selundupan dari kota Solok

    Pasar gelap tempat jual beli
    Ada di nagari Sungai Lasi
    Lima belas kilo dari Kinari
    Melewati rimba hutan yang sepi

    Nagari Sungai Lasi kalau disebut
    800 meter di atas laut
    Ketika pagi sering berkabut
    Kalau malam tidur berselimut

    Dari Kinari ke Sungai Lasi
    Bukit Tandang dan Bukit Bai
    Banyak bukit yang harus didaki
    Lima jam berjalan kaki

    Minyak tanah kebutuhan pokok
    Pecah belah garpu dan sendok
    Termasuk Citi merek rokok
    Barang selundupan dari Solok

    Inilah pekerjaan yang tidak ringan
    Sambil menjunjung beratnya beban
    Berjalan kaki pelan-pelan
    Bukit dan Lurah harus ditaklukkan

    Besar resiko orang Dagang
    Nyawa di badan bisa melayang
    Saat membawa beratnya barang
    Bisa terjatuh masuk jurang

    Asrama tentara Permesta di tanah orang Koto

    Kebaikan hati orang Kinari
    Rumah yang kosong boleh ditempati
    Tempatnya berada kampung Ponti
    Agak ke pinggir dari nagari

    Walaupun jauh kampung halaman
    Datang ke Ranah membantu perjuangan
    Tentara Permesta lalu dikirimkan
    Guna melatih anggota pasukan

    Banyak tentara dari Sulawesi
    Ada yang membawa anak isteri
    Mereka dianggap keluarga sendiri
    Termasuk Kapten Fam Polii

    Letak asrama di tanah Koto
    Dari kampung seperempat kilo
    Lokasi sepi tiada toko
    Hanya Lapau tempat berdomino

    Kelak terjadi di lain waktu
    Di tengah tangis tersedu-sedu
    Rumah di Koto dijadikan abu
    Saat Apri datang menyerbu

    Karena OPR marah besar
    Ada perempuan yang ditampar
    Rumah Nurdin segera dibakar
    Dalam sekejap api membesar

    Inilah peristiwa sangat tragis
    Agar tak lupa perlu ditulis
    Lima rumah dibakar habis
    Oleh oknum simpatisan Komunis

    Dt. Tan Bandaro

    Narasumber lainnya Dt. Tan Bandaro
    Mantan prajurit bekas Heiho
    Pangulu di Cupak dekat Salayo
    Wajahnya jelas tampak di foto

    Datuk Tan Bandaro bernama Agussamin
    Tokoh masyarakat, seorang pemimpin
    Biasa hidup penuh disiplin
    Ceritanya benar, bisa dijamin

    Bekas Heiho tentara Jepang
    Setelah proklamasi ikut berjuang
    Saat Bergolak ikut berperang
    Sebagai prajurit batalyon Lembang

    Batalyon Lembang, tentara PRRI
    Anggotanya banyak lima Kompi
    Menjaga kampung setiap nagari
    Termasuk Parambahan serta Kinari

    Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
    Memilih markas di sekitar Parambahan
    Di sana tersedia bahan makanan
    Untuk logistik konsumsi pasukan

    Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
    Jalannya kecil berbelok-belok
    Pemandangan alam sangat elok
    Di sana markas Buya Okok

    Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

    Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
    Antara Pejuang dengan tentara Pusat
    Orang tua tua pasti ingat
    Peristiwa berlangsung hari Jum’at

    Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
    Anggotanya banyak Tentara Pelajar
    Punya tanggung jawab sangat besar
    Diberi tugas tiada menghindar

    Hari Jum’at ada penyergapan
    Di tepi jalan menuju Parambahan
    Tentara Soekarno jadi ketakutan
    Mereka mundur meninggalkan korban

    Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
    Menimbulkan korban tidak sedikit
    Pasukan Badai di lereng bukit
    Musuh berlindung di parit - parit


    Jembatan di atas Batang Air Alim, di jalan menuju nagari Parambahan
    Anak sungai ini bermuara ke Batang Lembang

    Karena Allah telah mengatur
    Di pihak pejuang seorang gugur
    Namanya Burhanuddin alias Uda Bur
    Jenazah disholatkan lalu dikubur

    Kalau tiada lupa sholat
    Orang yang tewas di hari Jum-at
    Ketika berjuang membela rakyat
    Semoga nabi memberi safaat

    Ada berita yang penulis dengar
    Entah salah, entah benar
    Kabar burung banyak beredar
    Batang Lembang jadi tercemar

    Airnya busuk tak bisa dipakai
    Banyak mayat hanyut di sungai
    Kondisinya rusak, perut terburai
    Akibat tembakan pasukan Badai

    Saat tentara menyerbu Parambahan
    Orang Muaro Paneh tidak memperhatikan
    Jalan melingkar Apri lakukan
    Mereka lewat melalui Panyakalan

    Kalau melewati nagari Kinari
    Jalan utama, tak lagi berfungsi
    Parit menganga 300 senti
    Kenderaan militer terpaksa berhenti

    Karena korban banyak yang tewas
    Markas Komando menjadi cemas
    Ingin segera menuntut balas
    Kompi Badai harus dilibas

    Inilah petuah menurut Adat
    Celaka bersilang, tuah sepakat
    Penduduk bekerja dengan semangat
    Membuat parit cepat-cepat

    Dalam keadaan ngeri mencekam
    Hari gelap sangat kelam
    Bergotong royong diwaktu malam
    Menggali parit berjam-jam

    Walau kehidupan sedang susah
    Karena sepakat menjaga Tuah
    Masyarakat bekerja tanpa diupah
    Membantu perjuangan tiada lelah

    Bukti masyarakat ikut berjuang
    Dengan ikhlas ikut menyumbang
    Batang pohon telah ditebang
    Tanpa diminta ganti uang

    Karena mendapat hambatan besar
    Manuver musuh tak lagi lancar
    Di jalan utama banyak tersebar
    Pohon rebah dan batu-batu besar

    Pembakaran rumah di Parambahan pada hari Sabtu.


    Hari Sabtu, musuh kembali
    Tiada ditemukan penduduk laki-laki
    Ope-er dan tentara marah sekali
    Mereka berteriak memaki maki

    Berkeliling kampung berteriak-teriak
    Rakyat dilarang membantu pemberontak
    Siapa melawan akan ditembak
    Tidak peduli Niniak-Mamak

    Rumah Gadang saling berjejeran
    Di tepi jalan berhadap-hadapan
    Di kaki bukit nagari Parambahan
    Rancak dilihat dari kejauhan

    Ketika rumah akan dibakar
    Para penghuni disuruh keluar
    Musuh membentak secara kasar
    Yang membantah langsung ditampar

    Ada nenek andung-andung
    Menjatuhkan diri bergulung-bergulung
    Lalu menangis meraung-raung
    Melihat musibah terjadi di kampung

    Perlu diketahui anak cucu
    Nagari Parambahan menjadi abu
    Tiada tersisa satu pintu
    Pembakaran terjadi di hari Sabtu

    Belum didata secara benar
    300 bangunan perhitungan kasar
    Rumah Surau serta Langgar
    Habis musnah karena dibakar

    Sudah ketetapan ilahi Robbi
    Hanya mesjid tetap berdiri
    Bisa selamat sampai kini
    Menjaga iman anak nagari

    Sesudah musuh kembali ke Solok
    Orang berunding dalam kelompok
    Tentang bantuan yang mungkin cocok
    Untuk dibawa saat menengok

    Ketika melawan perbuatan batil
    Walaupun tidak menyandang bedil
    Semua orang merasa terpanggil
    Ikut pula Muchlis kecil

    Muchlis Hamid dan kawan kawan
    Pergi menjenguk ke nagari Parambahan
    Sambil membawa sedikit bantuan
    Nasi bungkus serta pakaian

    Tampak hewan banyak yang mati
    Ada Kerbau, Kambing dan Sapi
    Hangus terpanggang nyala api
    Karena dikebat tak bisa lari

    Beginilah sifat anak-anak
    Kalau berkawan ajak-mengajak
    Perjalanan lanjut ke Batu Karak
    Lokasi ijok Bapak-bapak

    Karena Parambahan menjadi abu
    Batu Karak tempat yang baru
    Pengungsi datang satu persatu
    Disertai Ulama dengan pangulu

    Di jalan sepi sangat lengang
    Tiada banyak terlihat orang
    Tampak satu-dua para pedagang
    Membawa kebutuhan bermacam barang

    Di tepi jalan menuju nagari Parambahan.

    Pemandangan umum yang jelas tampak
    Sarana jalan telah dirusak
    Konvoi musuh sering terjebak
    Menjadi objek sasaran tembak

    Di Batu Karak Muchlis bertanya
    Tentang Engku Mudo Yahya
    Guru mencakup sebagai Ulama
    Biasa dipanggil sebagai Buya

    Syukur alhamdullillah Buya selamat
    Dalam kondisi sehat walafiat
    Hanya sedikit tampak pucat
    Kurang tidur, bekerja berat

    Di tempat umum Buya berceramah
    Mengenai kondisi, keadaan pemerintah
    Presiden Soekarno dipihak yang salah
    Berkonco erat, dengan Kaum Merah

    Dinding rumah diberi Kode serta pesan indoktrinasi

    Pasti diketahui orang Jakarta
    Dinding rumah ditulis B III
    Kalau mau tahu maksud artinya
    Kasih tahu nggak yaaaaa !!

    Akibat B III, kampung dibakar
    Hak azasi telah dilanggar
    Kini disebut perbuatan makar
    Itulah dosa yang sangat besar

    Untuk kecamatan Bukit Sundi
    Tulisan B III lalu diganti
    Dengan lambang tanda kali
    Warnanya hitam, jelas sekali

    Rumah diberi tanda silang
    Bisa dilihat semua orang
    Bukti penghuninya ikut berperang
    Menyandang bedil atau senapang

    Perintah Soekarno tak habis-habis
    Membuat semboyan bermacam jenis
    Dinding rumah dianggap strategis
    Banyak indoktrinasi harus ditulis

    Rumah yang bagus atau jelek
    Berdinding papan atau gedhek
    Milik kakek atau nenek
    Harus ditulis Manipol Usdek

    Cerita dialihkan ke nagari Cupak
    Penuturan Agussalim yang disimak
    Rumah dibakar juga banyak
    Hanya terjadi tidak serentak

    Di jorong Sungai Rotan 20
    Di jorong Balai Pandan 5
    Di Jorong Panjalai 7

    Di dalam adat budaya kita
    Rumah Gadang mengumpulkan keluarga
    Hangus terbakar, tiada tersisa
    Kalau dijumlah 32

    Menurut falsafah tahu di nan Empat
    Sebagai kebiasaan Adat yang Teradat
    Rumah Gadang adalah Pusat
    Tegak berdiri, harus terlihat

    Engku Sawi ditembak, Orang Muaro Paneh merasa Kehilangan

    Setiap Apri melakukan patroli
    Sawi diincar dicari-cari
    Ketika bertemu di daerah Kinari
    Sawi ditembak, dibunuh mati

    Nama lengkapnya Sawi Renyu
    Sopan santunnya patut ditiru
    Takutnya hanya kepada ibu
    Sangat memuliakan para tamu

    Punya anak bernama Emi
    Gadis kecil lucu sekali
    Sudah lancar kalau mengaji
    Dilatih langsung oleh Umi

    Orang kampung semua kenal
    Setiap waktu Sawi beramal
    Mencari uang secara halal
    Dengan sedikit persiapan modal

    Dahulu Pasar, kini Market
    Sawi berjualan tak pakai target
    Tiada pula istilah Omzet
    Apalagi bisnis memakai internet

    Tak semua orang bisa mampu
    Membuat sandal dan sepatu
    Mengolah sendiri bahan baku
    Dari jangat kulit Lembu

    Banyak kerabat saudara sendiri
    Terkadang berutang, dibayar nanti
    Menunggu panen, hasil Padi
    Atau dibayar, sekarung Ubi

    Pedoman hidup orang Muaro Panas
    Dalam melaksanakan setiap aktivitas
    Hablumminallah Wahamblumminannas
    Sawi memahaminya secara luas

    Tiba waktunya masa perang
    Inilah petuah adat Minang
    Tuah sakato, celaka bersilang
    Sawi berperan di garis belakang

    Mencari simpati dengan halus
    Ketika berjuang dengan tulus
    Memakai sarana orkes gambus
    Iramanya terdengar sangat bagus

    Begini lirik lagu si Sawi
    Anti Indonesia billadi
    Anti’ul wanul faqoma

    Kalau ditafsirkan kira kira begini
    Indonesia negara kami
    Di sanalah aku tegak berdiri

    Menurut pesan orang tua-tua
    Malang terjadi dalam seketika
    Waktu Sawi mengayuh sepeda
    Terjadi sesuatu tidak dikira

    Niat dihati menemui kerabat
    Di Kinari yang cukup dekat
    Ada patroli tentara Pusat
    Sawi berhenti karena dicegat

    Dia bernasib sangat malang
    Disuruh berjongkok tangan kebelakang
    Lalu ditodong pakai senapang
    Bedil meletus, nyawa melayang

    Ketika korban ditembak mati
    Dalam jarak dekat sekali
    Peluru menembus pembuluh nadi
    Darah mengalir tak mau henti

    Jenazah dibawa ke rumah panjang
    Di Muaro Paneh di Pasar Usang
    Mantari Udin segera datang
    Melihat kepala telah berlubang

    Kepala berlubang mengeluarkan darah
    Terus mengalir tak bisa dicegah
    Karena arteri banyak yang pecah
    Disumbat kapas langsung basah

    Kisah diceritakan kepada penulis
    Oleh dunsanak bernama Muchlis
    Melihat sendiri peristiwa sadis
    Perbuatan oknum simpatisan Komunis

    Bermacam suku ikut PRRI

    Piagam PRRI anti Komunis
    Bukan gerakan bersifat separatis
    Diikuti suku berbagai jenis
    Ada Minahasa, Ambon serta Bugis

    Orang Ambon bernama Kapten Petrus
    Di Sibakua bernasib bagus
    Ada perempuan bersedia mengurus
    Dijadikan suami dengan tulus

    Kapten Polii orang Minahasa
    Divisi Banteng bagian Personalia
    Mundur ke Kinari dapat celaka
    Polii ditangkap lalu ditanya

    Ketika Apri melakukan operasi
    Dari Solok menuju Kinari
    Diwaktu subuh pagi sekali
    Polii terkepung tak bisa lari

    Dia ditangkap jadi tawanan
    Dipaksa menjawab berbagai pertanyaan
    Tentang jumlah besar pasukan
    Polii bersumpah, pantang membocorkan

    Sebagai komadan perwira sejati
    Punya kehormatan harga diri
    Meskipun diintrogasi berhari hari
    Tetap bungkam berdiam diri

    Jauh dari Minahasa tanah leluhur
    Walau tidak sdang bertempur
    Di tepi pantai Teluk Bayur
    Polii ditembak sampai gugur

    Wali Perang

    Waktu terjadi perang saudara
    Nagari Kinari pimpinannya dua
    Angku Samsudin wali pertama
    Inyiak Sarai wali yang kedua

    Wali Perang bernama Samsudin
    Dipilih masyarakat sebagai pemimpin
    Melaksanakan amanah penuh disiplin
    Karena berjuang dengan yakin

    Ketika perang hujat-menghujat
    Pekerjaan Samsudin sangat berat
    Lokasi musuh sangat dekat
    Menjadi musibah setiap saat

    Memimpin masyarakat yang sedang susah
    Terkadang muncul bermacam fitnah
    Bisa berakibat dapat musibah
    Nyawa di badan bisa berpisah

    Dapur Umum

    Hasil musyawarah dengan kesepakatan
    Tiada seorang yang berkeberatan
    Setiap rumah menyumbang makanan
    Waktunya diatur secara giliran

    Bukan pengemis peminta-minta
    Tegak menunggu di depan tangga
    Para perempuan tenaga sukarela
    Mereka bertugas lillahi ta-ala

    Ibarat bunga kembang sekuntum
    Para perempuan di Dapur Umum
    Ikhlas bekerja dengan senyum
    Mengatur jatah pembagian ransum

    Nasi bungkus pagi dan sore
    Untuk pasukan anggota T.P.
    Berisi lauk seiris tempe
    Terkadang disertai sepotong kue

    Walau menu selalu berganti
    Tempe goreng sangat disenangi
    Sumbernya mudah bisa dicari
    Banyak dijual di pasar Kinari

    OPR menggunakan bahasa Minang-Indonesia

    Sebagai OPR yang taat perintah
    Buyung Saram masuk ke rumah-rumah
    Loteng dan kamar dia geledah
    Tiada orang yang berani mencegah

    Karena tak mahir bahasa Indonesia
    Kedengaran lucu membuat tertawa
    Saat OPR lakukan razia
    mencari radio dengan senjata

    Bukan menghibur anak-anak
    Kalimatnya lucu seperti melawak
    Buyung bertanya sambil membentak
    Senjata dikokang siap tembak

    Dia ingin terlihat pandai
    Bahasa Indonesia yang dia pakai
    Bunyinya aneh tidak sesuai
    Ibarat Kuda disebut Keledai

    Menurut pengakuan seorang saksi
    Orang kampung penduduk asli
    Kalau teringat merasa geli
    Kalimat OPR di bawah ini

    Siapa yang punya radia di sika
    Kalau bersua saya sita
    Saya tidak bergara-gara
    Jangan main-main dengan saya

    Ketika perang sudah selesai
    Suasana di kampung telah damai
    OPR dibubarkan tak lagi dipakai
    Saram kembali berjualan Tapai

    Karena malu hidup di kampung
    Bertemu dunsanak merasa canggung
    Tampak di wajah terlihat murung
    Buyung melamun sering bermenung

    Mengingat peristiwa di masa lalu
    Saat OPR sering mengganggu
    Saram menyesal menahan malu
    Keputusan penting sangat perlu

    Untuk menghilangkan identitas diri
    Buyung memutuskan pindah ke Jambi
    Hidup di rantau melupakan Kinari
    Kembali ke kampung tak mau lagi

    Beberapa tahun kemudian, di tengah keramaian pedagang kaki lima di pasar Angso Duo, kota Jambi, seorang dunsanak dari Kinari bertemu dengan Buyung Saram.
    Adat kebiasaan orang Minang menjamu dunsanak yang baru datang dari kampung, maka Buyung juga mengajak makan tamunya di restoran.

    Ketika sedang makan, Buyung minta izin untuk ke kamar kecil, tapi lama ditunggu , dia tak kembali lagi ke meja makan.
    Ternyata Buyung telah melunasi bon harga makanan disertai titipan amplop yang berisi uang dengan pesan agar Kasir menyerahkannya kepada kawannya.
    Peristiwa semacam ini bak kata peribahasa menyuruk di bawah selembar daun Ilalang, sungguh tak mungkin dilakukan dalam budaya ba nagari di Minang Kabau.

    Keterangan:
    Bersua = bertemu
    Disiko (Minang) = disini
    Bergara-gara (Minang) = main-main
    Buyung: panggilan terhadap anak laki laki orang MK

    Wali nagari tandingan

    Ketika perang belum berdamai
    Apri memilih mitra yang sesuai
    Dari golongan anggota partai
    Oknumnya bernama Inyiak Sarai

    Bukan sembunyi pergi ijok
    Inyiak berlindung di kota Solok
    Kampung halaman tak lagi ditengok
    Dengan dunsanak tetap elok

    Waktu pertempuran mulai berkurang
    Pasukan PRRI mundur ke belakang
    Menuju nagari Batu Bajanjang
    Barulah Inyiak kembali pulang

    Rangkayo Rahmah El Yunusiah
    Tokoh pendidikan disebut tarbiyah
    Kepada Apri tak mau menyerah
    Ijok ke Talaok ibarat Hijrah




    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH ||
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px