sejarah
Hari ini Kamis tanggal 23 November: pada tahun 1616 John Wallis, matematikawan Inggris lahir dan th. 1945 Laskar Hizbullah diresmikan di Pd. Panjang.
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
BANGUN NAGARI
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (73 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di Nagari Sulik Aie - 995875
  • Tiga Peristiwa Tragis di nagari Batipuah - 1054134
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 1064864
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 1125712
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 1302797
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 1526791
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 1429803
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 1437109
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 1559137
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 1440694
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya

  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)

  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • Unduh yg Diperlukan

  • PRRI di Kt. Anau
  • PRRI di Simarasok
  • Menjaga M. Natsir
    di Rimba Masang
  • Telah dibaca oleh: 1216969 orang.

    PRRI di nagari Manggopoh

    Dikarang oleh : Deka Maita Sa


    Historia vero testis temporum = sejarah adalah saksi zaman
    Lux veritatis = sinar kebenaran
    Vita memoriae = kenangan hidup
    Magistra vitae = guru kehidupan
    Nuntia vetustatis = pesan dari masa silam

    Naskah asli oleh : Deka Maita Sa
    Diedit ulang tg. 15 - 12 - 2012 oleh : DR. Mestika Zed, Abraham Ilyas, Drg.

    Marcus Tullius Cicero (106 43 SM)

    A. Pendahuluan

    Puji syukur pada Illahi Rabbi
    Salawat dan salam kepada Nabi
    Ini kisah masa PRRI
    Ketika perang melanda nagari

    Suka duka takdir Allah
    Tuhan semesta yang disembah
    Mohon izin kami berkisah
    Nagari Manggopoh dalam sejarah

    Ampun dimohon pada Illahi
    Maaf diminta kepada yang ahli
    Jika khilaf dalam hal ini
    Jangan marah kepada kami

    Sudah umum di atas dunia
    Bodoh dan kurang pada manusia
    Apalagi penulis masih belia
    Diminta diskusi selalu sedia

    Bukan hendak mencari tuah
    Atau tujuan mencari masalah
    Hanya menulis pelurusan sejarah
    Supaya nan benar tetap di tengah

    Saya menulis dasarnya cerita
    Sumbernya bukan dokumen negara
    Hasil catatan waktu wawancara
    Orang sekampung sanak saudara

    Hasil wawancara sanak sekampung
    Kisah nenek serta andung
    Mengalami peristiwa secara langsung
    Saat bergolak mereka bergabung

    Dari kejadiaan di nagari Manggopoh
    Hikmah diambil dijadikan contoh
    Pengorbanan rakyat maupun tokoh
    Orang pandai ataupun bodoh

    Orang Manggopoh gagah berani
    Seperti pahlawan Mandeh Siti
    Kompeni dipancung sampai mati
    Karena merusak adat nagari

    Manggopoh nagari yang subur
    Banyak menghasilkan sayur mayur
    Beserta daging dengan telur
    Sedikit yang miskin, banyak yang makmur

    Ibarat surga muncul di dunia
    Batang Antokan sungai utama
    Bermacam ikan seperti Nila
    Berkembang biak sesukanya

    Sekarang terjadi banyak perubahan
    Akibat samping dari pembangunan
    Apa yang terjadi di batang Antokan
    Tiada lagi menghasilkan ikan

    Terjadi perubahan muka air
    Dari hulu sampai ke hilir
    Kini di sungai terlihat pasir
    Ketika hujan terjadi banjir

    Untuk diingat anak kemenakan
    Nagari Manggopoh, nagari Pahlawan
    Pantang dijajah, susah ditaklukkan
    Musuh yang datang telah merasakan

    Peristiwa terjadi 19-08
    Dengan Belanda Manggopoh berhadapan
    Perang belasting orang katakan
    Mandeh Siti jadi pimpinan

    B. Musyawarah anak nagari di Padang Kiau

    Suasana perang di tahun pertama
    APRI hanya menduduki kota
    PRRI menyiapkan perang yang lama
    Anak nagari diajak serta

    Ketika situasi bertambah kacau
    Ninik mamak menjadi risau
    Semua kemenakan lalu dihimbau
    Untuk bermusyawarah di Padang Kiau

    Guna membantu para pejuang
    Anak nagari wajib menyumbang
    Rapat memutuskan iuran perang
    Penduduk menerima berhati senang

    Ikut serta dengan keyakinan
    Tua muda tidak ketinggalan
    Semua orang ikut berkorban
    Nyawa di badan jadi taruhan

    Musyawarah di Kiau patut dicatat
    Anak nagari bersatu niat
    Kepada Pusat tak perlu taat
    Karena Soekarno telah berkhianat

    Sesudah sembahyang selesai zikir
    Para hadirin yang ikut hadir
    Di atas surau di tepi air
    Semua bicara dengan bergilir

    Musyawarah diadakan di atas surau
    Semua kelompok datang dihimbau
    Ikut pula parewa lapau
    Ditambah pengungsi dari rantau

    Ninik mamak dan cerdik pandai
    Alim ulama beserta labai
    Termasuk bunda dan amai amai
    Berjanji setia tak akan bercerai

    Hasil musyawarah yang disepakati
    Apapun masalah yang akan terjadi
    Tak akan bercerai membela nagari
    Di bawah pimpinan pejuang PRRI

    Tidak peduli laki perempuan
    Semua penduduk ingin berkorban
    Karena terpanggil oleh keyakinan
    Rasa senagari dalam persatuan

    Patut dicatat dalam sejarah
    Ibu muda bernama Sawiyah
    Ikut bertempur tanpa diupah
    Menyandang bedil terlihat gagah

    Mekipun penduduk desa terpencil
    Sawiyah berperang menggunakan bedil
    Meninggalkan bayi yang masih kecil
    Karena nagari telah memanggil

    Keputusan lain yang disepakati
    Kehidupan masyarakat tak boleh berhenti
    Walau pertempuran selalu terjadi
    Begitulah kebiasaan adat nagari

    Karena perang berlangsung terus
    Setiap kegiatan perlu diurus
    Penduduk menyumbang nasi bungkus
    Pegawai mendirikan bermacam kursus

    Walau tak semua ikut bertempur
    Para remaja tak boleh menganggur
    Bidang pendidikan lalu diatur
    Di Sekolah Penampungan mereka dilebur

    Kalau nagari diduki tentara
    Tujuan mengungsi untuk bersama
    Bukit Antokan di Manggopoh Utara
    Tempat ijok di hutan rimba

    C Perang terjadi di nagari Manggopoh

    Ketika APRI menduduki kota
    Guru dan pegawai pindah ke desa
    Anak isteri ikut dibawa
    Nagari bertambah jumlah penduduknya

    Karena tak sama pendirian ideologi
    Pegawai dan guru pergi mengungsi
    Meninggalkan kota yang telah sepi
    Tandanya setia pada PRRI

    Dari Pariaman dan nagari Tiku
    Pengungsi datang satu persatu
    Tidak dianggap sebagai tamu
    Kemenakan dibimbing, anak dipangku

    Pengungsi dijadikan anak kemenakan
    Sedang susah mendapat kesulitan
    Perlu dibantu diberi perhatian
    Dipinjamkan rumah dibantu makan

    Penduduk membantu dengan ikhlas
    Walau hanya ubi talas
    Bagi pengungsi sangat berbekas
    Percaya Allah pasti membalas

    Karena perjuangan tegakkan yang adil
    Menggunakan perlengkapan senjata bedil
    Anak nagari ikut terpanggil
    Tua muda, besar dan kecil

    Dari dahulu sampai sekarang
    Alasan rakyat terlibat perang
    Mengikuti pesan nenek moyang
    Tuah sekata, celaka bersilang

    Mulanya perang saat terjadi
    Manggopoh belum perlu didatangi
    Tujuan musuh mengacaukan PRRI
    Atau disebut teror psikologi

    Awal Manggopoh mencium mesiu
    APRI datang dari Tiku
    PRRI menghadang di Balai Satu
    Tembak menembak berlangsung seru


    Mortir ditembakkan dari jauh
    Tiada jelas tempatnya jatuh
    Penduduk ketakutan keluar peluh
    Penyakit jantung menjadi kambuh

    Ibarat memilih acak acakan
    Hadiah tak langsung dijatuhkan
    Bom mortir yang ditembakkan
    Lokasi jatuh tak bisa ditentukan

    Walau sasaran sering meleset
    Desingan mortir mirip roket
    Karena terkejut sangat kaget
    Ada yang pingsan, banyak yang mencret

    Saat subuh masih berkabut
    Kedatangan APRI lalu disambut
    Dengan tembakan sahut-bersahut
    Suasana kacau timbul kalut

    Berkali kali APRI datang
    Dalam perjalanan sering dihadang
    Terdengar letusan berulang-ulang
    Begitu suasana ketika perang

    Suatu ketika saat operasi
    APRI datang berjalan kaki
    Tiada tembakan yang mengiringi
    Nagari lengang tampak sepi

    Bulan Mei tahun 60
    Waktu hujan baru teduh
    Nagari didatangi oleh musuh
    Amat Ali mati dibunuh

    Amaik Ali penduduk biasa
    Bukan sukarelawan ikut gerilya
    Menjadi korban perang saudara
    Dibunuh tentara yang dari Jawa

    Walau tidak punya masalah
    Amat ditembak bersimbah darah
    Tubuh terkapar di pematang sawah
    Sebelum diusung menuju rumah

    Ketika asyik mencari rumput
    Saat dipanggil tidak menyahut
    Tantara marah sambil bercarut
    Amat dibunuh tanpa diusut

    Dia petani disangka gerilya
    Tanpa diusut, tanpa ditanya
    Di depan isteri sangat dicinta
    Amat ditembak tepat di kepala

    Janda almarhum, Upiak Jurai
    Hidup sendiri, kini dimulai
    Air mata jatuh berderai
    Dengan suami harus bercerai

    Dari isteri kisah didengar
    Ada oknum kurang ajar
    Menggunakan kaki mayat diputar
    Seperti memeriksa bangkai Ular

    Saat menumpas pergolakan PRRI
    OPR berlaku tidak manusiawi
    Oknum ditunggangi ide PKI
    Penganut paham, ateis sejati

    Bukan dendam perlu disimpan
    Tapi ingatan untuk pelajaran
    Jangan terulang di masa depan
    Karena tak sesuai dengan kemanusiaan

    Sesama pejuang juga ada masalah
    Saling curiga timbul musibah
    Ada kejadiaan menjadi kisah
    Manusia mati bersimbah darah

    Karena tiada disiplin tentara
    Pada pasukan kelompok gerilya
    Terjadi tuduhan dasarnya curiga
    Seperti dialami Amin Duya

    Amin Duya komandan kompi
    Pergi ke Padang urusan pribadi
    Prajurit ditinggal tanpa koordinasi
    Ketika pulang ditembak mati

    Amin Duya dianggap bersalah
    Dikira berunding hendak menyerah
    Amin dibunuh tidak bisa dicegah
    Karena prajurit sangat marah

    Menjadi serdadu harus disiplin
    Patuh dan taat kepada pemimpin
    Semua perintah dikerjakan yakin
    Tak boleh menjawab: tidak mungkin

    D. Letnan Yusuf memimpin pertahanan di Manggopoh

    Letnan Yusuf prajurit sejati
    Di Manggopoh dia mengabdi
    Memberi perintah sambil menasehati
    Mengatur pasukan tentara PRRI

    Kalau Yusuf memberi perintah
    Jangan dijawab, tak boleh dibantah
    Apalagi ditolak dengan marah
    Demikian prajurit punya sumpah

    Ketika musuh telah datang
    Di Aia Dadok mereka dihadang
    Dengan peluru bermacam senapang
    Musuhpun lari tunggang langgang

    Karena tak ingin segera dikubur
    Musuh berlarian segera mundur
    Masuk kolam ada yang tercebur
    Badannya kotor berlepotan lumpur

    Walau kemenangan hanya sesaat
    Yusuf berjasa membangkitkan semangat
    Dia berhasil mengusir Pusat
    Karena Yusuf ahli siasat

    Bermacam perintah perlu diberikan
    Termasuk memutus titian jembatan
    Agar musuh jadi kelabakan
    Saat terjadi operasi pertempuran

    Kalau prajurit tidak taat
    Ibarat berlari jalan di tempat
    Bintang jasa tak akan didapat
    Mungkin tubuh bisa sekarat

    Supaya pertempuran berhasil menang
    Disiplin mati kata orang
    Prajurit bereaksi ibarat wayang
    Gerakan diatur oleh Ki Dalang

    Begitulah adat seorang prajurit
    Berpantang menangis, apalagi menjerit
    Tiada istilah merasa pahit
    Hidup diatur oleh isyarat pluit

    E. Peranan Kaum Perempuan Mendukung Perjuangan

    Masyarakat berjuang mempertahankan nagari
    Semua golongan ikut berpartisipasi
    Laki perempuan, suami isteri
    Guru, Pangulu serta pak Haji

    Saat perang sedang berlangsung
    Kaum perempuan juga bergabung
    Gerakan PRRI mereka dukung
    Menjaga nagari, melindungi kampung

    Bantuan diberikan dengan teratur
    Orang perempuan bekerja di Dapur
    Memasak nasi, menggoreng telur
    Bekal makanan saat bertempur

    Lain lagi perempuan ini
    Mengambil tugas kerja laki laki
    Menjadi prajurit pejuang PRRI
    Ikut Barisan Berani mati

    Ini kisah Umi Sawiyah
    Ibu muda biasa di rumah
    Sering disebut kaum yang lemah
    Kini terpanggil membuat sejarah

    Sawiyah mendaftar latihan tentara
    Rok diganti dengan Sarawa
    Sebagai prajurit ikut gerilya
    Ke luar hutan, masuk rimba

    Karena terpanggil oleh keyakinan
    Tidak peduli laki perempuan
    Semua penduduk ingin berkorban
    Rasa senagari dalam persatuan

    Setelah melakukan diskusi wawancara
    Untuk skripsi ujian sarjana
    Testimoni dicatat oleh Deka
    Bisa dicari di arsip pustaka

    Sawiyah bersaksi dengan sungguh
    Tanggal 4 April 2010
    Hasilnya dikutip secara utuh
    Boleh diakses, lalu diunduh

    Induak induak di kampuang ko tambah sambuah nan ikuik.
    Induak induak ko cenan lo mamacik badia.
    Katiko ado imbauan masuak tantara, sambuah babondong bondong nyo pai ka Balai Satu.
    Ado nan mambao anaknyo gai, ado pulo nan heboh batangka jo lakinyo.

    (perempuan perempuan di kampung tambah banyak yang ikut.
    Perempuan tersebut ingin pula memegang senjata.
    Ketika ada himbauan masuk tentara, berbondong bondong mereka ke Balai Satu, ada yang sambil menggendong anaknya, ada pula yang bertengkar dengan suaminya)

    Walau berstatus sebagai Ibu
    Memiliki bayi yang sangat lucu
    Karena tegas tak pernah ragu
    Sawiyah ditugasi Komandan Regu

    Pada baju tidak terlihat
    Para pejuang memiliki pangkat
    Ada hirarki bertingkat tingkat
    Terus dijaga dengan ketat

    Anggota regu sepuluh orang
    Enam tua, empat anak bujang
    Setiap prajurit diberi senapang
    Semuanya patuh, tiada membangkang

    Meskipun penduduk desa terpencil
    Sawiyah berperang menggunakan bedil
    Meninggalkan anak yang masih kecil
    Saat kedinginan sering menggigil

    Ketika ibunya sedang berjuang
    Bayi dititipkan kepada Anduang
    Sekali sepekan Sawiyah pulang
    Melihat anak hatinya senang

    F. Perselisihan antar Sesama Pejuang

    Pernah terjadi beda pendapat
    Dengan kawan yang sangat dekat
    Pertengkaran berlangsung sangat hebat
    Orangpun lari, takut mendekat

    Di tengah perjuangan membela Kampung
    Ada pedagang mencari untung
    Memasok Beras serta Jagung
    Membantu musuh secara tak langsung

    Penduduk menyebut tentara Soekarno
    Terkadang masuk keluar toko
    Ingin bersosialisasi mencari konco
    Ketika ikut bermain Domino

    Datuk Sati langsung menuduh
    Pedagang divonis tidak patuh
    Karena berjuang tidak sungguh
    Secara tak langsung membantu musuh

    Oleh pejuang di dalam rimba
    Pedagang dan APRI bekersama
    Mereka dianggap mata mata
    Perlu dihukum supaya jera

    Komandan pasukan marah besar
    Toko dan rumah di tepi pasar
    Dia perintahkan untuk dibakar
    Karena pemilik dianggap makar

    Datuk dan Sawiyah beda pendapat
    Tanya jawab sambil berdebat
    Sawiyah melangkah makin mendekat
    Senjata dikokang lalu diangkat

    Sambil mengancam memegang pelatuk
    Sawiyah menolak perintah Datuk
    Membakar toko milik penduduk
    Membawa akibat sangat buruk

    Meskipun perang menjadi jadi
    Naluri Ibu ingin melindungi
    Semua penduduk anak nagari
    Tidak peduli beda ideologi

    Bukannya ngeri atau ketakutan
    Datuk menerima pendapat perempuan
    Kedai dan toko urung dibumihanguskan
    Sawiyah dan Datuk lalu bersalaman

    Sawiyah senang bukan main
    Walau harus membantah pemimpin
    Bisa dianggap tidak disiplin
    Sawiyah bertindak karena yakin

    Mengikuti sumpah ucapan janji
    Perintah komandan harus ditaati
    Kalau khianat disebut desersi
    Boleh ditembak, dihukum mati

    Karena yakin Sawiyah bertindak
    Menjaga kampung, melindungi Dunsanak
    Walau resiko mati ditembak
    Perang saudara memang tak enak

    G. Manggopoh tidak mudah ditaklukkan tentara Soekarno

    Dua tahun setelah dimulai
    Tujuan perang belum tercapai
    Walau ke Manggopoh telah sampai
    Kedua pihak intai mengintai

    Ketika APRI pergi menyerbu
    Penunjuk jalan sangat perlu
    Dulah Palak sedia membantu
    Saat menyusuri Batang Tiku

    Dulah Palak telah berjasa
    Kepada Pusat Pemerintah Jakarta
    Dia disebut sebagai mata mata
    Dulah berpihak kelompok berbeda

    Walau tak disepakati Ninik Mamak
    Pilihan berbeda dipilih Palak
    Kepada APRI Dulah berpihak
    Niat di hati susah ditebak

    Balas jasa dari APRI
    Setelah Pusat menguasai nagari
    Dulah diangkat sebagai Wali
    Begitulah manusia menyalurkan ambisi

    Karena belajar peta situasi
    Musuh mengubah konsep strategi
    Nagari perlu segera diduduki
    Tahun 60 perubahan terjadi

    Sesudah tahun enam puluh
    APRI gunakan kekuatan penuh
    Pertahanan PRRI banyak yang jatuh
    Kini nagari diduduki musuh

    Guna menduduki daerah musuh
    Akhir Mei tahun enam puluh
    APRI bergerak secara penuh
    Memakai truk berpuluh puluh

    Operasi Katenggang mereka namakan
    Berjalan kaki, naik kenderaan
    Jumlahnya banyak mungkin ribuan
    Bersenjata berat maupun ringan

    Tentara Pusat sangat berpengalaman
    Sudah dewasa ada yang jenggotan
    Veteran perang zaman kemerdekaan
    Menghadapi TP bukanlah padanan

    Sukarelawan PRRI pemuda remaja
    Periode asuhan ayah bunda
    Senang bergelut sambil bercanda
    Kini terpanggil menyelamatkan bangsa

    Dalam pertempuran di saat perang
    Terjadi kelahi tidak seimbang
    Hanya bermodal besar karengkang
    Melawan APRI yang telah matang

    Ibarat cerita berakhir sedih
    Meskipun senjata sudah canggih
    Ketika bertempur belum dilatih
    Kurang disiplin, kerap berdalih

    H. Korban berjatuhan pada rakyat sipil

    Wali Perang Datuk Rangkayo Hitam
    Beliau mengingatkan ajaran Islam
    Masyarakat jangan menyimpan dendam
    Semua sengketa diakhiri salam

    Kewajiban pemimpin sejak dahulu
    Pemuka masyarakat, para Pangulu
    Tempat bertanya, tempat mengadu
    Kemenakan dibimbing, anak dipangku

    Sahabuddin Datuk Rangkayo Hitam
    Ibarat pelita di tempat yang kelam
    Sumber informasi bagi yang awam
    Karena masyarakat banyak tak paham

    Sahabuddin menjabat wali nagari
    Sebagai sumber bermacam informasi
    Guna mendukung perjuangan PRRI
    Menyelamatkan negara, membela nagari

    Bukan karena hambatan musim
    Informasi belum menjadi sistim
    Sarana komunikasi sangat minim
    Kabar berita sulit dikirim

    Sebagai Wali punya kewajiban
    Mengatur nagari dan anak kamanakan
    Agar bersatu tidak terceraikan
    Ibarat sapulidi, satu ikatan

    Dalam situasi perang saudara
    Dendam lama sangat berbahaya
    Bisa terjadi kehilangan nyawa
    Masalah kecil besar akibatnya

    Saat perang kerap terjadi
    Dendam lama dan sakit hati
    Termasuk urusan masalah pribadi
    Akibatnya fatal ngeri sekali

    Kejadiaan si Akuik mati ditembak
    Dia salah mengikuti kehendak
    Janda gerilyawan yang dia ajak
    Dijadikan isteri menurut syarak

    Walaupun syah menurut aturan
    Hukum perang tiada kepastian
    Yang lemah langsung ditelan
    Yang kuat berlantas angan

    Kisah cinta membawa getir
    Kini menjadi buah bibir
    Jasad si Akuik ditimbun pasir
    Di tepi sungai tenang mengalir

    Saat menunggu pondok di ladang
    Di tempat sepi keadaannya lengang
    Mak Cangkuah ditimpa malang
    Anak beranak dibunuh orang

    Walau Cangkuah tidak terlibat
    Mendukung PRRI ataupun Pusat
    Nasib sial tetap mendekat
    Begitulah derita menimpa rakyat

    Kejahatan perang perlu didaftar
    Dangau Mak Cangkuah juga dibakar
    Mencari pelaku sangatlah sukar
    Sampai kini tak pernah terbongkar

    Agar gerilyawan segera kembali
    Isteri disuruh membujuk suami
    Rumah diberi bertanda kali
    Nama dituliskan jelas sekali

    Nama ditulis di dinding rumah
    Hurufnya hitam atau merah
    Tanda keluarga ada yang bersalah
    Menjadi pemberontak melawan pemerintah

    Isteri juga wajib melapor
    Sekali seminggu datang ke kantor
    Ini bukan cerita rumor
    Begitulah Soekarno menebar teror

    Oleh tentara berwajah seram
    Pertanyaan diberikan macam macam
    Di mana suami kini berdiam
    Apakah pernah pulang malam

    Di book istilah dari penguasa
    Maksudnya isteri dijadikan sandera
    Ketika malam nginap di pos jaga
    Setelah pagi kembali ke keluarga

    Peraturan kejam, aneh sekali
    Perbuatan cemo di adat nagari
    Perempuan tidur di dalam tangsi
    Bayi di rumah ditinggal sepi

    Karena suami belum tertangkap
    Di Pos tentara isteri menginap
    Tidur kedinginan di kamar gelap
    Sering menangis disertai ratap

    Ini kejahatan luar biasa
    Rezim Soekarno punya dosa
    Adat nagari mereka perkosa
    Perlu diingat anak bangsa

    Datuk Soda meninggalkan pesan
    Untuk diingat anak kemenakan
    Dosa Soekarno bisa dimaafkan
    Kesalahan rezim tak boleh dilupakan

    I. St. Darwis menepati sumpah

    Ini utang ahli sejarah
    Mengumpulkan data menulis kisah
    Akhir enam puluhan terjadi di ranah
    Menegakkan keadilan bermodal darah

    Perjuangan rakyat melawan Komunis
    Tidak dibayar Amerika-Inggris
    Patut dikisahkan secara tertulis
    Pelakunya bernama Sutan Darwis

    Sutan Darwis aktivis PRRI
    Dia bersumpah di depan Sutan Saidi
    Akan berjuang sampai mati
    Kelak kemudian memang terbukti

    Ketika Manggopoh diserang Apri
    Darwis dibujuk untuk pergi
    oleh temannya Sidi Rozali
    Ke rimba Antokan untuk mengungsi

    Ada orang yang tidak suka
    Mereka mengadu kepada tentara
    Darwis ditangkap, lalu diperiksa
    Tiga hari diinterogasi dan ditanya

    Lokasi markas Balai Satu
    Asrama Apri saat itu
    Berpagar kokoh bilah bambu
    Berdinding papan berlantai kayu

    Darwis ditanyakan macam-macam
    Dimana sembunyikan senjata meriam
    Dia menjawab tidak paham
    Makanya disiksa dengan kejam

    Walau disiksa dalam kondisi sakit
    Mengeluarkan darah tidak sedikit
    Karena luka tidak dijahit
    Sutan berpantang menjerit-jerit

    Dalam keadaan setengah pingsan
    Darwis menyebut nama Tuhan
    Lailahaillallah dia ucapkan
    Untuk melawan perbuatan setan

    Oleh interogator pihak pemeriksa
    Darwis dianggap, tak lagi berguna
    Lalu dipulangkan ke sanak keluarga
    Dengan kondisi lebam dan luka

    Sebelum berpindah ke alam barzah
    Tiga hari dirawat di rumah
    Almarhum meninggal khusnul khotimah
    Keluarga melepas dengan pasrah

    J. Penutup kisah

    Ketika Manggopoh diduduki APRI
    Banyak penduduk pergi mengungsi
    Rimba Antokan berhutan Kopi
    Tempat ijok paling disukai

    Waktu APRI menempatkan serdadu
    Pos didirikan di Balai Sabtu
    Markas diberi pagar bambu
    Penduduk bimbang mulai ragu

    Inilah kisah pasca PRRI
    Ceritanya penuh dengan ironi
    Walau dikeluarkan amnesti abolisi
    Tapi Soekarno tidak menepati

    Ketika OPR naik bintang
    Rakyat ketakutan bukan kepalang
    Salah sedikit kena lampang
    Kalau membantah tinju melayang

    Asal mulanya pelanggaran Hak Asasi
    Saat penguasa lakukan interogasi
    Lampang melampang selalu terjadi
    Terhadap tertuduh ataupun saksi

    OPR bertindak over akting
    Susah diajak untuk berunding
    Karena butahuruf, gembala kambing
    Kini diberi peranan penting

    Begini kebiasaan raja memerintah
    Dilarang bertanya, haram membantah
    Kalau menghadap wajib menyembah
    Pemimpin dan rakyat perlu dipisah

    Ketika pemerintahan tidak cocok
    Orang Minang menjadi syok
    Tiada kekuasaan yang dipandang elok
    Banyak terjadi sogok menyogok

    Kalau Dunsanak setuju dengan pesan kisah perjuangan ini, tolong di Like & Send atau di Tweet




    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH ||
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px