sejarah
Hari ini Selasa tanggal 21 November: pada tahun 1694 Voltaire, filosof Perancis lahir
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
BANGUN NAGARI
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (73 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di Nagari Sulik Aie - 995832
  • Tiga Peristiwa Tragis di nagari Batipuah - 1054093
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 1064843
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 1125681
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 1302761
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 1526757
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 1429776
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 1437079
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 1559110
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 1440653
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya

  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)

  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • Unduh yg Diperlukan

  • PRRI di Kt. Anau
  • PRRI di Simarasok
  • Menjaga M. Natsir
    di Rimba Masang
  • Telah dibaca oleh: 26653 orang.

    Hantu Jender

    Dikarang oleh : Wisran Hadi

    Semenjak dua tulisan saya dimuat di Padang Ekspres yang berjudul Republik Jender dan Partai Politik Perempuan, beberapa “tokoh” perempuan yang pejuang jender itu bising dan ada yang sengaja datang ke rumah saya untuk “mendudukkan persoalan jender” yang menurut mereka persoalan itu belum duduk dalam pemahaman saya.

    Maka merekapun menjelaskan bahwa jender itu artinya kelamin.
    Jadi, kalau ada perjuangan jender, kesetaraan jender maksudnya, adalah perjuangan untuk adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan bla bla bla.
    Saya tentu mengangguk-angguk saja.

    Dari apa yang mereka bicarakan dengan penuh sopan santun dan kadang-kadang juga manja dan berusaha mencuri perhatian saya (maklumlah perempuan dihadapan laki-laki) saya memahami bahwa pembicaraan jender mereka seperti tidak ada kaitannya dengan nilai-nilai agama, maupun latar belakang budaya.
    Yang mereka pertahankan adalah kesetaraan.

    Agama dan budaya itulah yang mengerangkeng perempuan, mempuruk-purukan perempuan kepada kemauan dan keinginan laki-laki.
    Perempuan harus diberi “kebebasan berpikir” sebagaimana kebebasan berpikir laki-laki.

    Ketika saya mengikuti logika mereka, bahwa jender itu arti katanya adalah kelamin, lalu saya katakan, “kalau urusannya kelamin, tentulah bukan masalah pikiran.
    Mana ada ketika orang berurusan dengan kelamin mempergunakan pikiran”.

    Lalu, dengan tersipu mereka menuduh saya porno.

    Kuat sekali kesan saya kepada mereka, bahwa nilai-nilai budaya dan ajaran agama harus “mengalah” mengikuti konsep jender.
    Budaya Minang harus “menyesuaikan diri” dengan konsep jender yang sudah menggelobal.
    Ajaran Islam jangan diikutsertakan dalam pembicaraan kesetaraan jender.
    Tidak relevant untuk mengaitkan nilai-nilai agama dengan jender.

    Saya jadi terkagum-kagum kesetaraan jender manakah yang akan mereka tiru? Dan dalam masyarakat manakah jender itu akan diterapkan? Kenapa mereka harus jadi sekuler tiba-tiba? Ketika mereka terpepet dengan logika bahasa dan semantik, mereka lari dan segera mengambil beberapa contoh (kasus) dari ketertindasan perempuan.

    Ketika saya menjelaskan bahwa semua ummat di dunia ini telah membangun budayanya secara turun temurun dan mereka bahagia karenanya, mereka, pejuang jender itu langsung menampik; budaya seperti itulah yang harus kita ubah! Banyak perempuan yang menderita! Lalu saya katakan, saya setuju saja jika perempuan mau mengubah budaya suatu kaum atau bangsa demi melanggengkan konsep jender diterapkan di dalam sebuah masyarakat.
    Tapi tolong tunjukkan, ummat mana yang budayanya dapat berubah seketika?

    Ketika mereka tidak dapat menunjukkan sebuah kaum yang budayanya berubah secara esensial tiba-tiba, lalu mereka memberikan contoh.
    Datuk-datuk Minang sekarang tidak seperti datuk-datuk Minang yang dulu.
    Mereka tidak lagi sebagai pengayom dan bla bla bla.
    Itu adalah perubahan.

    Masa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin kaum kalau mereka memang mampu! Memang ada perbedaan pengertian, pandangan, persepsi dan kepentingan antara saya dengan para pejuang jender itu.
    Saya meneliti kehidupan sebagian besar masyarakat Minang, sementara mereka mengangkat kasus perkasus, orang perorang (segelintir orang).

    Jika ada seorang haji ikut menjadi koruptor, saya tidak menyalahkan ajaran Islam, tetapi itu adalah perilaku menyimpang dari seorang yang mengaku beragama Islam.
    Saya tidak menyalahkan budaya Minang, kalau seorang datuk melakukan pelanggaran sosial.
    Saya baru akan menyalahkan agama, kalau agama itu mengajarkan manusia untuk jadi maling.

    Saya baru akan menyalahkan adat Minangkabau, kalau ajaran adat Minangkabau mengajarkan manusia untuk melanggar aturan dan konvensi-konvesi sosial.
    Jangan hanya karena satu atau dua orang datuk bersalah, lalu dituding, adat Minanglah yang salah.
    Jangan hanya karena ada dua atau tiga orang yang mengaku Islam meledakkan bom, lalu Islam dicap sebagai agama teroris.

    Jadinya, saya ragu dengan niat para pejuang jender itu.
    Jangan-jangan mereka mencari celah buruk dalam masyarakat kita untuk kepentingan penyusunan proposal guna menggaet bantuan asing bagi periuk nasi mereka.
    Orang asing tentu tidak akan mau mengeluarkan uang kepada orang lain, kalau kepentingan mereka tidak terpenuhi.

    Lalu apa kepentingan orang asing terhadap bangsa ini, budaya ini, terhadap agama ini? Itulah sebagaimana yang dikatakan para pejuang jender itu, budaya dan nilai agama “harus mengalah” terhadap konsep jender.

    Lalu siapakah yang punya konsep jender? Orang asing! Mereka sangat berkepentingan untuk menghancurkan budaya dan agama negeri-negeri yang ingin mereka jajah.

    Para pejuang ini lupa agaknya, bahwa sekarang dunia sedang berada dalam kolonialisasi modern.
    Kita kembali akan jadi anak jajahan.
    Kalau dulu tanah air kita yang dijarah, sekarang budaya dan agama kita yang sedang diporak porandakan.

    Jangan terlena untuk jadi pejuang jender hanya karena diberi sedikit pujian, diberi gelar-gelaran, diberi secuil dana, padahal pujian dan bantuan asing itu tengah berusaha melahirkan hantu-hantu jender di tengah-tengah masyarakat.
    Tidak ada salahnya, jika perempuan tetap menjadi perempuan yang sesungguhnya sayang.
    Jangan jadi hantu jender!



    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH ||
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px