sejarah
Hari ini Selasa tanggal 21 November: pada tahun 1694 Voltaire, filosof Perancis lahir
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
BANGUN NAGARI
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (73 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di Nagari Sulik Aie - 995819
  • Tiga Peristiwa Tragis di nagari Batipuah - 1054071
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 1064827
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 1125664
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 1302742
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 1526730
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 1429752
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 1437064
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 1559084
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 1440634
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya

  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)

  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • Unduh yg Diperlukan

  • PRRI di Kt. Anau
  • PRRI di Simarasok
  • Menjaga M. Natsir
    di Rimba Masang
  • Telah dibaca oleh: 69870 orang.

    Kirimkan seiris dagingku untuk Ratu Wihelmina

    Dikarang oleh : Abraham Ilyas

    Simpang Tigo Muaro Kalaban

    Oleh : minangk@yahoo.com

    Surek elektronik tg. 1 Oktober 2006 ini, aslinya saya kirimkan ke email-email peserta Mubes Gebu Minang ke IV dengan alasan bak pesan nenek moyang kito:

    Takalo Janjang ka ditingkek, kutiko Bandua ka ditampiak
    Cancang bari balandasan, Kato agiah batumbuakan.

    Senen, 18 Desember 2005, kira-kira pk. 13 sesudah menghadiri Mubes Gebu Minang ke IV, saya (usia 61.5 th) duduk sendirian di bangku panjang, di simpang tigo Muaro Kalaban (persimpangan jalan Trans Sumatera untuk menuju kota Sawah Lunto) menunggu bus AKAP jurusan Padang-Jakarta.
    Sambil menunggu, saya ingin mengobrol dengan rakyat badarai, untuk mencocokkan informasi yang didapat selama Mubes kemarin.

    Tak banyak orang lain di situ, kecuali seorang calo bus yang baik hati dan beberapa tukang ojek, sedangkan lainnya adalah para penumpang jarak dekat di kabupaten Sawahlunto-Sijunjuang yang berganti bus atau naik ojek tiap sebentar.
    Karena tak ada kawan maota, maka muncul ingatan kepada buku yang pernah saya baca kira-kira duapuluh tahun yang lalu. Buku itu menceritakan pengalaman pribadi seorang pelaku pemberontakan Silungkang 1927.
    Ditulis oleh pelakunya sendiri yaitu Bapak Abdul Muluk.

    Di buku tersebut diceritakan secara mendetail bagaimana raso emosi yang menguasai peserta rapat persiapan di Ngalau Basurek yang mengawali pemberontakan.
    Untuk diketahui kita semua, bahwa pemberontakan tersebut secara organisatoris tidak disetujui oleh pimpinan Serikat Rakyat di Pd. Panjang maupun oleh Tan Malaka selaku pimpinan nasionalnya.
    Oleh sebab itu, pemberontakan ini adalah murni perlawanan anak-nagari terhadap kolonialis Belanda.

    Selanjutnya cerita tentang ketahanan iman alm. Kamaruddin Mangguluang dkk. saat menghadapi tiang gantungan di pasar Silungkang.
    Sebelum menaiki tiang gantungan, dengan keyakinan yang teguh, tanpa penutup mata Kamaruddin Mangguluang, salah seorang pimpinan pemberontakan, meminta seiris daging jenazahnya agar dikirimkan kepada Wihelmina, ratu Belanda.
    Permintaan ini, menyiratkan pesan untuk kerajaan Belanda yang selama ini telah menghisap darah-daging anak-nagari dan selanjutnya makanlah juga bangkaiku.

    Almarhum juga menolak ulama yang disediakan untuk mendampingi kematiannya.
    Ulama itu dianggapnya sebagai kaki tangan Belanda, Allahu akbar, Allahu akbar...........

    Januari tanggal satu, tahun1927, pukul 11 malam, ketika itu musim penghujan, udara dingin sekali.
    Dalam kondisi demikian, barisan demi barisan para pejuang (sehari-hari mereka bekerja sebagai petani atau panggaleh di kampuangnya) dari nagari-nagari Silungkang, Taruang-taruang, Siaro-aro serta nagari-nagari lain di sekitar dengan berjalan kaki menuju kota tambang Sawahlunto.

    Mereka berjalan tanpa alas kaki di jalanan yang belum beraspal seperti sekarang ini.
    Semuanya pria berusia antara 17 sd 50 tahun, sebagian mengenakan pakaian silat dan yang lain berpakaian seadanya saja, layaknya pakaian petani kala itu.
    Setiap orang mempersenjatai diri-sendiri secara sukarela sesuai dengan kemampuannya masing-masing, membawa klewang, tombak, rudus, belati, senapang balansa, granat buatan sendiri dengan tujuan hanya satu, yaitu merebut kota Sawahlunto dari tangan penjajah Belanda.

    Entah raso senasib-sepenanggungan atau raso berkaum-bernagari yang memotivasi ribuan pemuda kampung yang belum pernah berlatih perang tersebut menuju kota Sawahlunto, sulit bagi kita memahaminya dengan pemikiran jaman sekarang.

    Satu-satunya imbalan atau bayaran tak langsung yang didapat para anggota barisan ialah makan malam dalam perjamuan besar yang disediakan oleh Sampono Kayo, saudagar kaya di rumahnya, di pangkal titian, di nagari Silungkang sebelum berangkat perang.

    Mungkin pula, lokasi tempat duduk saat ini adalah bekas gardu jaga polisi Belanda yang membiarkan barisan pertama atau barisan inti (berjumlah lk. 180 pemuda) yang dipimpin oleh Abdul Muluk dan Abdulrahman melewati pos jaga tersebut.
    Membiarkan barisan inti lewat tanpa gangguan, sambil memberitahukan dengan telepon ke Sawahlunto adalah taktik Belanda ketika itu untuk mengepung pemberontak dari arah belakang di tengah perjalanan Muaro Kalaban menuju Sawahlunto. Kesalahan fatal ini baru disadari di kemudian hari oleh pelaku yang merencanakan perlawanan tersebut.

    Terbayang dalam khayalan saya bagaimana para anggota barisan inti kucar-kacir lari menyelamatkan diri ke jurang di pinggir jalan; dan pemuda Tongku, anggota barisan inti yang mati ditembak Belanda karena tak mau mengangkat tangan serta Abdulmuluk dalam keadaan luka parah dilemparkan ke atas truk, seperti melemparkan karung goni.
    Serdadu Belanda menghadang barisan inti dari jurusan kota Sawahlunto.

    Penyerangan ke kota Sawahlunto telah diketahui oleh Belanda sebelumnya. Sersan Rumuat dan Sersan Mayor Pontoh anggota KNIL yang berpihak kepada SR yang dipersiapkan membantu pemberontakan dalam kota, telah ditangkap sebelum penyerangan dimulai.

    Dalam keadaan terkepung, para anggota barisan inti ditangkapi satu-persatu, sedangkan di tempat lainnya di sekitar kota Sawahlunto beberapa hari/minggu kemudian para pemberontak tetap mengadakan perlawanan sengit.
    Yang sangat dikenal ialah perlawanan General Abdul Munaf dan Dt. Bijo Dirajo yang sempat menghancurkan dua truk serdadu Belanda di malam buta di dekat viaduct antara nagari Tj. Ampalu dan nagari Pamuatan.
    Untuk mengenang peristiwa tersebut pemerintah Hindia Belanda menaikkan bendera setengah tiang.

    Selanjutnya ribuan dari anggota pergerakan rakyat dari seluruh pelosok Sumatera Barat dikirim ke penjara-penjara di Jawa-Madura atau penjara-alam, nun jauh di sana, di Boven Digul di mana kanibalisme masih belum hilang.
    Sejarah mencatat peristiwa besar ini dengan sebutan Pemberontakan Silungkang, karena di nagari itulah diadakan persiapan/perencanaan pemberontakan tersebut.
    Dan kini bukit-bukit di hadapan saya, adalah saksi bisu yang mengalami peristiwa penting dalam kisah panjang bangsa kita memperjuangkan kemerdekaan delapan puluh tahun yang lalu.

    Ambo manumpang duduak Mak. Tiba-tiba saja seorang ibu muda berumur sekitar 25 th. menegur saya.
    Silakan ! Jawab saya sambil tersentak dari lamunan panjang......!
    Dia duduk di samping sambil menggendong bayinya yang terus menangis sembari menuntun anak perempuannya.
    Si Upik, anak perempuan itu berusia lk 3 th, memakai sepatu bersinar kelap-kelip.

    Sepatu semacam itu 2 bulan yl. saya beli di Carrefour, hadiah untuk cucu seharga Rp 74.990.- Tak henti-hentinya dari hidung si Upik meleler ingus, sambil menyeka hidung, dia dengan asyiknya menyendok es krim bermerek asing buatan Jakarta, yang harganya sekotak Rp 15.000,-
    Kuat dugaan saya, ibu muda tersebut meskipun kampungnya jauh dari kota Sawahlunto, tapi bukanlah keluarga yang menerima BLT.

    Nak ka maa rang gadih ko. Kata saya berbasa-basi menegur anaknya.
    Ka Muaro Sijunjuang.
    Dari maa tadi
    Maube-i anakko di rumah sakik Sawah Lunto !
    Ola limo ari badannyo angek, kato dotor pilek sajo, tiok bulan idak onti-onti do pilek! katanya menambahkan. Lai acok ditimbang di Posyandu.
    Da-ulu iyo lai kodok ditimbang, tapi kini Posyandu indak sa aktif da-ulu lai, sahinggo ambo jarang pulo ka situ.
    Katanya menjelaskan.
    Dari penampilan sepintas, saya mendapat kesan ibu muda dan bayi yang disusuinya menderita kekurangan gizi.
    Badannya kurus, rambutnya jarang kepirang-pirangan, mukanya pucat dengan pandangan sayu.
    Saya berkesimpulan kedua balita itu termasuk kurang gizi, kalau tak mau disebut bergizi buruk.

    Tahun 2006 ini, balita yang bergizi buruk di Indonesia dilaporkan oleh Unicef jumlahnya mencapai 2.3 juta. (Hr. Kompas 27 September 2006).
    Meskipun harian tersebut tidak secara spesifik menuliskan propinsi Sumatera Barat termasuk propinsi yang rawan gizi, tapi coba kita pareso jo kali-kali.
    Penduduk Sumatera Barat lk. 6 juta jiwa atau 2.73 % dari keseluruhan penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta.

    Dengan demikian di Sumatera Barat tahun 2006, jumlah balita gizi buruk sebanyak: 2.73% x 2.3 juta = 62.727 balita.
    Angka ini lebih tinggi dari yang pernah dihitung oleh ahli gizi Unand th 2005 yaitu sebanyak 54.000 balita (di situs nagari.org saya jadikan file-menu dengan judul: masalah kita atau di file-menu: surek untuak Gubernur, silakan klik)
    Perkiraan jumlah balita di Sumbar saat ini 13.1% (index populasi balita) x 6 juta = 786.000 balita.

    Sedangkan jumlah Balita yang Kurang Gizi th. 2005 di Sumbar mencapai 30.43 % atau 239.179 (lebih tinggi dari Nasional yang hanya 28.04 %)
    Bandingkan dengan daerah lain yang dikatagorikan banyak penduduk miskinnya seperti Jabar hanya 20 % atau dan Jogya yang hanya 15.05 %.

    Yang disebut Kurang Gizi = Gizi Buruk + Gizi Kurang.
    Prognosenya kira-kira sbb: Bila dewasa, balita yang kurang Gizi tak bisa dibao barundiang ka tangah, sedangkan yang bergizi buruk kincie-kincie indak jalan samosekali.
    Anda mampu memahami perhitungan persentase seperti di atas, karena ketika balita tidak termasuk balita yang kurang gizi.

    Dengan demikian pada tahun 2030, ketika si Upik memasuki usia kerja, maka di Sumbar akan ada sekitar 60.000 sd. 239.179, atau 10% sd 30 % dari angkatan kerja yang tak mampu bersaing atau berkoloborasi secara intelektual dengan angkatan kerja seusianya.

    Berat otak orang dewasa 1450 gram.
    1200 gram atau 80% dari sel-sel otak tersebut telah terbentuk pada usia 2 th.
    Apabila perbaikan gizi terlambat, maka pertumbuhan otaknya terganggu.
    Mereka dikuatirkan akan mengalami kerusakan otak yang tidak mungkin diperbaiki lagi/permanent.

    Perhatian pemerintah:
    Ketika mengikuti mubes saya sempat ke Pos Kesehatan karena menderita demam.
    Kesempatan itu saya gunakan untuk berbincang-bincang dengan dokter yang mengobati saya.
    Dari perbincangan tersebut, saya mengetahui bahwa beliau sehari-harinya bertugas sebagai dokter di salah satu Puskesmas di kota Sawahlunto.

    Saya bertanya, .... apakah ada balita yang kurang gizi di daerah kerja sejawat...! (Ketr. Puskesmas memliki daerah kerja seperti polisi mempunyai Polsekta).
    Jawaban dokter itu......: Semua balita yang ditimbang di Puskesmas dan di Posyandu wilayah kerja saya, tak ditemukan anak yang kurang gizi !

    Okelah, jawaban tersebut kita anggap benar karena dokter tadi bekerja di kota yang telah maju, yang mempromosikan dengan gencar industri pariwisata sebagai sumber pad nya, tidak lagi mengharapkan rumah sakit (pajak untuk orang yang sakit..!) sebagai sumber PAD.

    Perilaku bergizi seimbang/baik merupakan promosi masalalu untuk kota ini, karena ibu-ibu hamil telah terdidik semuanya menggunakan KMS, ASI eksklusif, serta mempraktekkannya secara kaffah.
    Tapi bagaimana dengan ibu muda dan dua balitanya yang duduk di samping saya, di simpang tigo Muaro Kalaban yang rasonyo memang kurang gizi.

    Karena alah basuluah jo matohari, bagalanggang di mato urang banyak, maka coba Dunsanak klik salah satu situs kabupaten di Sumbar yang menampilkan informasi kabupatennya secara lengkap.
    Penduduk kabupaten tsb. lk 300.000 jiwa, berarti jumlah balita yang bergizi buruk di kabupaten itu: 3/60 x 62.727 = 3136 balita. Kalau nagarinya ada lk 70 nagari, maka di setiap nagari akan ditemui lk 45 balita bergizi buruk.

    Penampilan data-data, program-program di situs kabupaten telah dilengkapi dengan program search (cari kata kunci serta jumlahnya), lalu ketikkanlah kata: gizi, maka yang keluar jumlah kata gizi hanya 5 kata saja; itupun bertujuan untuk menginformasikan jumlah ahli gizi di RS dan ikan sebagai sebagai makanan penunjang gizi.
    Selanjutnya coba masukkan kata-kata yang mengarah kepada penanggulangan/perbaikan gizi buruk di kabupaten, dengan keywords seperti: KMS, otak, kecerdasan, giziburuk, iodium, ASI, maka kita tak akan menemukan hasilnya samasekali.

    Jadi penanggulangan gizi buruk balita oleh pemerintah kabupaten tidak diprioritaskan, tapi diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sendiri,..... dengan kata lain pemerintah kabupaten tidak ikut-ikutan mengurusnya.....walaupun di dalam Pembangunan Milenium 2015, Delapan Sasaran Pembangunan Manusia jelas dicantumkan masalah penurunan angka kematian bayi dan ibu.
    Bandingkan bila Dunsanak memasukkan kata kunci: wisata, maka akan keluar sebanyak 81 kata/kalimat......

    Pemerintah otonom kabupaten/RI sangat menaruh perhatian pada proyek/promosi wisata atau program lainnya dibandingkan dengan investasi jangka panjang, pengembangan otak manusia (SDM).
    Apakah benar jalan pintas mengurangi kemiskinan dengan proyek jual-rupo/menjadi pelayan ini akan dapat segera menanggulangi kemiskinan dalam jangka pendek, bukankah sebaliknya yang akan terjadi karena dampak negatifnya.

    Kok kecek urang nan pandai main politik, pamarentah awak kini labiah basipaik saudagar (mancari pitih) daripado sipait guru. Memang dunie olah barubah, guru kurang dihormati, dan saudagar (terutama saudagar dunie hiburan) labiah bagengsi di mato publik, untuk hal semacam itu pamerentah harus menyesuaikan diri dengan selera pasar.
    Kok paralu para wako/bupati (di tempat lain, bukan di Sumbar..!) menganjurkan rakyatnya mengirim SMS sebanyak-banyak guna mendukung calon pemenang KDI, ratu Ngebor, Indonesian Idol dsb. yang berasal daerahnya masing-masing.

    Agar tidak menimbulkan kontroversi perlu diadakan pemeriksaan (pareso) yang sebenar-benarnya pareso di kampuang-kampuang, di mana balita yang kurang gizi tersebut tersembunyi atau disembunyikan.
    Provinsi Sumatera Barat bukanlah Daerah Istimewa yang Bebas Gizi Buruk pada balitanya.
    Seharus para para politisi muda kita di daerah ini berjuang untuk menjadi daerah istimewa semacam ini, mumpung daerah lainnya di Indonesia belum ada yang memikirkannya.

    Kesimpulan:
    Mamak awak, Prof. Dr. Hamam Hadi MS. Sc. D, alah ma-analisa manggunokan cost jo benefit, sarato ma-etong untuang jo rugi, di aie nan janiah, di sayak nan landai, dalam pidato Pengukuhan Jabatan beliau sebagai Guru Besar pada Fakultas Kedokteran UGM th. 2005. dengan kesimpulannya sbb:
    Pada th. 2003 Indonesia kehilangan nilai ekonomi sebesar Rp 22.600.000.000.000,- akibat sebagian rakyatnya kurang gizi. (Selain kurang produktif, orang yang kurang gizi juga menjadi beban keluarga/masyarakatnya).

    Khusus untuk Sumbar, nilai ekonomi yang hilang itu sebesar 2.73 % x 22.6 triliun = Rp 616.980.000.000,- dalam setahun atau Rp 1.690.356.164,- per hari.
    Kok dietong per nagari (543) nilai ekonomi yang hilang menjadi Rp 3.112.994,- per hari di setiap nagari. (Sesungguhnya untuk Sumbar angka ini lebih besar, karena persentase kekurangan gizi lebih besar dari rata-rata nasional.
    Data-data ini dikutip dari Kompas tg. 7 Oktober 2006.
    Kok ado komentar silakan langsung hubungi ybst. atau redaksi harian tsb.).

    Apabila 3 masalah utama gizi (GAKY, KEP, anemia or. dewasa) diintervensi, maka sampai th. 2010 Indonesia akan menghasilkan nilai ekonominya sebesar 55.8 triliun.
    Silakan hitung bagiannya untuk anak-kamanakan awak di kampuang.

    Saya tak yakin ibu muda serta anak/bayinya di Simpang Tigo Muaro Kalaban, kekurangan gizi karena miskin/tak punya uang sebagaimana yang sering dipublikasikan.
    Tapi gizi buruk lebih disebabkan oleh gaya hidup masakini yang telah diatur oleh urang manggaleh (saudagar) melalui iklan nona-nona cantik idola abg serta ikon citra pria pemberani yang sengaja dibangun (berani mengabaikan pendapat para ahli tentang bahaya racun rokok), demi raso senang yang disenangi.

    Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Abdul Muis, Agus Salim, Natsir...dst. semuanya menjalani masa balitanya di kampuang yang belum terpolusi dan mereka pasti tidak menderita gizi buruk ketika balitanya.

    Bangsa asing, khususnya Belanda dan Jepang tidak lagi memaksa secara fisik/menguasai nagari kita, tapi produk-produknya kita undang sebanyak mungkin (langsung ataupun franchise).
    Kita tak mampu berproduksi ataupun bersaing, karena gangguan pertumbuhan otak saat balita. Sejak usia balita, masyarakat Indonesia telah dididik dengan gaya hidup pemberani mengunakan Obat ketombe, eye shadow, lipstik, pelembab muka, semir rambut, pakaian luar-dalam bermerek, penyeka darah kotor, sikat gigi, odol, fanta-cocacola, teh botol, aqua, sabun-deterjen, rokok, bir, sepatu bermerek, sepeda motor-mobil Jepang, telepon, handpone, acara-televisi, tabloid-gosip, perlengkapan musik dangdut-KDI, susu, permen-karet, mie-instant, pupuk-pertanian, racun-pemberantas-hama, pelayanan-kesehatan-canggih, alat-obat-KB, mlm-mkn-kesehatan, obat-nyamuk, kasur-busa, pendidikan tinggi....gaya hidup, bahkan mungkin pula narkoba dst. telah menguasai/menjajah kehidupan anak-kemenakan sehari-hari.

    Anak-kemenakan yang tinggal di kota-kota, sebagian dari mereka mungkin ada yang menjadi buruh pabrik barang-barang tsb. ataupun menjadi penyalur/distributor disamping menjadi konsumennya sekaligus.......tapi tak demikian halnya dengan anak-nagari di kampuang kita, mereka hanya berfungsi sebagai konsumen semata.
    Kalaupun mereka dianggap sebagai pemasok bahan baku barang-barang tsb, namun harga pasokan mereka dihargai murah sekali.
    Coba hitung berapa sumpik padi atau barapo ikua jawi harus disiapkan di kampuang membeli sebuah HP Nokia yang lagi ngetren, atau untuk bisa mendaftarkan diri di fakultas Kedokteran yang uang mukanya lk. 80 juta

    Kini bangsa Barat, dengan konsekwen mengharamkan industri yang melemahkan fisik manusia seperti rokok, sebaliknya menggencarkan industri olahraga yang nyata-nyata memperkuat daya tahan tubuh.

    Di negara kita, hal yang sebaliknya justru terjadi, industri racun (rokok) difasilitasi di semua tempat bahkan kini rokok juga mensponsori bidang pendidikan.....sungguh kacau cara berpikir/bertindak bangsa kita, Indonesia.
    Semoga Gebu Minang, Saudagar Minang bisa tetap menjadi Minang.

    Pakiriman indak baturuikkan, pitaruah indak batunggui
    Utang dibayia, piutang ditarimo

    Dengan sistem otonomi pemerintahan saat ini, di Sumatera Barat ada lk 543 nagari yang berhak mengatur adat (kebiasaan-kebiasaan) untuk nagarinya masing-masing.
    Secara fisik di masa depan, anak-cucu kita tak akan mampu bergulat fisik atau beradu otak dengan bangsa asing, apabila pemerintah tidak berubah menjadi guru yang baik.
    Kenapa kita terlampau cepat melupakan dendam Kamaruddin Mangguluang, Sampono Kayo Cs terhadap bangsa asing yang menjajah anak-nagari.

    Agenda terpenting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk dasawarsa mendatang adalah mencapai delapan sasaran pembangunan manusia Indonesia dalam rangka Sasaran Pembangunan Milenium 2015.
    Delapan sasaran pembangunan manusia itu adalah:

    1) melenyapkan kemiskinan dan kelaparan
    2) menjamin tersedianya pendidikan dasar
    3) mendorong persamaan derajat laki-laki dan perempuan serta meningkatkan kemampuan perempuan
    4) mengurangi angka kematian bayi
    5) memperbaiki taraf kesehatan ibu

    6) memerangi penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya
    7) menjamin kelestarian lingkungan hidup
    8) mengembangkan kerjasama pembangunan dengan negara-negara lainnya.

    Terhadap delapan sasaran universal tersebut perlu ditambahkan muatan lokal Sumatera Barat yaitu mendalami, melembagakan, dan menindaklanjuti doktrin Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

    Untuk dunsanak-dunsanak yang akan pulang basamo di hari lebaran nanti, silakan mamareso, apakah betul ada:
    lk. 45 sd 100 orang balita bergizi buruk di nagari masing-masing atau sebanyak 62.727 di seluruh Sumbar.
    Sedangkan dengan sebutan kurang gizi atau tak simbang gizi lk. sebanyak 30.43 % dari keseluruhan balita di kampuang awak.

    Kalau tidak tampak atau tidak ketemu, berarti kredibilitas Unicef perlu dipermasalahkan, kita bisa memprotesnya nan olah mampamalukan awak, selanjutnya cerita dokter Puskesmas kota Sawahlunto itu benar adanya.
    Sebaliknya kalau tampak atau basuo anak-kamanakan di kampuang nan bergizi buruk, apo usaha kita, apakah akan dibiarkan menjadi dewasa bak kato mamangan lamo:

    ....nan padai ka tampek batanyo, nan buto ka pahambuih lasuang, nan pakak ka palapeh badia, nan binguang/bodoh ka disuruah-suruah.
    Tapi untuk diingat, di jaman digital ini,.... lasuang tak ada lagi untuk dihembus, dengan demikian anak-anak di kampuang sekarang tak tahu apa itu lasuang, bedil/meriam tak harus ditembakkan oleh orang pekak akan tetapi oleh serdadu yang pandai mengoperasikan sistem komputer....butuh IQ yang standar, sedangkan pekerjaan untuak ka disuruah-suruah/babu/bedinde bisa digantikan pula oleh mesin otomatis atau TKW bangsa/suku lainnya seperti yang terjadi di Arab, Singapur, Hongkong.
    Jadi nan paralu untuak maso depan iolah urang pandai ka tampek batanyo atau lawan barundiang.

    O, ambo bukan bidan, indak pulo perawat, apolagi dotor....o, itu tidak masalah....tanyokan kapado Angku Palo di nagari, apo setiap balita di nagari awak alah punyo KMS dan KMS itu dipakai sebagaimana mestinya.
    Kalau olun, maka nanti di tahun 2030 di Ranah Minang akan tampak seperti di: gambar ini

    Selamat menunaikan ibadah puasa, maaf lahir dan batin dari ambo.




    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH ||
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px