sejarah
Hari ini Jumat tanggal 16 November: pada tahun 1945 rapat pemuda Koto Marapak dan Kp. Ujung Pandan untuk rencana mengusir Belanda dari Padang.
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
BANGUN NAGARI
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (73 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • Asbir Dt. Rj.Mangkuto dari Simarasok - 20056
  • Ibu mengantarku pergi Berjuang di Rimba Masang - 21166
  • PRRI di Nagari Sulik Aie - 1015964
  • Tiga Peristiwa Tragis di nagari Batipuah - 1075203
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 1084980
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 1146502
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 1323307
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 1547271
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 1449717
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 1456988
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 1579357
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 1461068
  • PDRI , PRRI dan Sjafruddin Prawiranegara - 1115532
  • PRRI di nagari Tanjuang Sungayang - 962316
  • Nagari Andoleh Br. Bukik terbakar ketika PRRI - 888209
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya

  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)

  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • Unduh yg Diperlukan

  • PRRI di Kt. Anau
  • Telah dibaca oleh: 20056 orang.

    Asbir Dt. Rj.Mangkuto dari Simarasok

    Dikarang oleh : Saiful Guci dan si Am Dt. Soda

    asbir Asbir Dt. Rajo Mangkuto, Wali nagari Simarasok berjuang untuk PRRI
    Oleh: Saiful Guci dan si Am Dt. Soda
    21 November 2015

    Pendahuluan


    Asbir Datuk Dt. Rajo Mangkuto
    Wajahnya terlihat tampil di foto
    Aslinya Simarasok, di Agam Tuo
    Berbagi pengalaman melawan Soekarno

    Saat berkisah badannya sehat
    Cerita beliau tak dibuat-buat
    Masalah waktu mungkin tak tepat
    Semua kejadiaan dia ingat

    Ketua Perwanest di zaman bergolak
    Seorang pangulu, niniak mamak
    Banyak saudara serta dunsanak
    Pantang dibujuk atau digertak

    Karena cinta kepada nagari
    Ketika dipilih menjadi Wali
    Asbir tak mengharap honor dan gaji
    Apalagi sogok ataupun komisi

    Wali ditugaskan menyediakan logistik
    Dilengkapi keterangan kertas secarik
    Dengan tulisan mesin ketik
    Identitas dibawa hilir mudik

    Urusan logistik tentara yang berperang
    Sangat menentukan kalah dan menang
    Seandainya ransum sangat kurang
    Prajurit tak mampu berlari kencang

    Di tengah pertikaian pasukan bersenjata
    Asbir boleh dengan leluasa
    Memiliki dua macam jenis senjata
    Satu Jenggel dan satu pistol Bareta

    Asbir Dt. Rajo Mangkuto lahir 14 Juli 1934 di Simarasok.
    Ayahnya bernama Abdul Latif Dt. Panduko Sati, tamatan sekolah Rajo di Bukittingi, mantan Wali Nagari Simarasok 5 priode.
    Ibu bernama Sarinan asal Ambacang Kamba, nagari Suayan.
    Perempuan ahli silat, anak dari Tuanku Sutan yang bergelar Dt. Rajo Mangkuto dan merupakan pelatih silat berasal dari Suaiyan, suku Piliang.

    Jarak antara Simarasok dengan Suayan kira-kira 2 jam perjalanan, melewati Kubang Badak dan Bukik Sarang Alang di lereng Bukik Kapanehan.
    Bukik Kapanehan (kepanasan), tingginya 1200 meter di atas permukaan laut.
    Disebut kepanasan karena dari lereng bukit, orang masih bisa melihat matahari (panas) beberapa saat setelah magrib maupun sebelum subuh.
    Bukit besar ini dikelilingi oleh bukit bukit kecil yang merupakan hutan lindung daerah hulu sungai batang Sinamar.

    Di sekeliling bukit besar ini membentang 6 nagari yang subur untuk lahan pertanian.
    Yang termasuk ke dalam kabupaten 50 Kota adalah nagari nagari Sarik Laweh, Sungai Balantiak, Pauah Sangik dan Suaiyan.
    Yang termasuk nagari nagari dalam Kabupaten Agam adalah nagari nagari Salo, Tabek Panjang, Kamang Ilia, Padang Tarok, dan Simarasok.

    Sejarah gerakan Komunis di sekitar Baso

    Ketika pergolakan di zaman PRRI
    Asal-muasal pertikaian yang terjadi
    Melibatkan penduduk anak-nagari
    Karena Islam bermusuhan dengan PKI

    Waktukomunis sedang tumbuh
    Di daerah Baso sangat berpengaruh
    Mereka berjuang bersungguh sungguh
    Karenasituasi sedang keruh

    Setelah runtuh pusat kekuasaan
    Kondisi kacau menjaga kemerdekaan
    Komunis mengambil sebuah kesempatan
    Mendirikan komune di luar kebiasaan

    Berbagai bukti secara emperik
    Ideologi Komunis sangat munafik
    Mereka memakai beragam taktik
    Dianggap legal saat berpolitik

    Di luar kebiasaan adat-istiadat
    Kepada Allah tak perlu taat
    Sering dikatakan tak berguna solat
    Terkadang berbuat kerja maksiat

    Menurut catatan yang pernah terbaca
    Komune disebut sebagai surga
    Bini orang ataupun janda
    Boleh digauli asal sama suka

    Supaya kisahnya lebih jelas
    Pengarang menulis lebih bebas
    Bentuk esei lebih pas
    Silakan dibaca sampai tuntas

    Saat terjadi pemberontakan anti-kolonial awal 1927, Tuanku Nan Putih dari Baso ikut terlibat.
    Akhirnya, dia ditangkap dan dibuang ke Pamekasan, Madura.
    Di sana ia menghuni penjara selama tiga tahun.
    Ketika Jepang datang, Tuanku Nan Putih bersikap moderat.
    Dia melakukan penyambutan terhadap kedatangan tentara Jepang.
    Bahkan, dia sempat mendirikan organisasi kepanduan pemuda Dai Nippon.

    Dia juga mendorong pengikutnya bergabung dalam laskar rakyat (Giyu Gun) bentukan Jepang.
    Ketika Jepang memaksa rakyat menjadi Romusha, Tuanku Nan Putih membujuk penguasa Jepang agar para pengikutnya dipekerjakan pada pembangunan lapangan terbang di Gaduit, dekat Bukittinggi.
    Adik tirinya, Boerhan Malin Kuning sering dipanggil Tuanku nan Hitam, pulang ke kampungnya di Baso pasca proklamasi kemerdekaan.
    Ia mengajak tiga orang opsir Jepang beserta dua kenderaan truk serta alat perbengkelan.
    Orang-orang Jepang inilah yang dipakai untuk melatih penduduk cara membuat mesin, senjata, dan bertempur.
    Istri Tuanku Nan Putiah memiliki tanah yang luas.

    Di lahan tersebut mereka mendirikan pertanian kolektif (komune) dengan menanam jagung, ubi kayu, tebu dll.
    Opsir Jepang membantu medirikan bengkel-bengkel untuk memproduksi senjata dan mesin lainnya.
    Pekerjaan yang tidak sesuai sama sekali dengan norma agama adalah berbagi istri dalam komune pertanian tsb.
    Untuk memberantas kelompok ini sangat susah karena mereka memiliki senjata rampasan dari tentera Jepang yang bermarkas di Ngalau Baso dan Padang Siantah Piladang.

    Ketakutan masyarakat Baso berakhir ketika pasukan keamanan R.I yang dipimpin Dahlan Djambek menumpas komune.
    Tuanku Nan Putih dan Tuanku Nan Hitam ditangkap.
    Tak hanya itu, konon sebanyak 113 orang pengikutnya juga ikut tewas.
    Tiga orang opsir Jepang, yang turut mengenalkan teknologi permesinan kepada penduduk, juga dibunuh.

    PKI menentang Dewan Banteng

    Pemilihan Umum yang pertama kali tahun 1955 memunculkan kembali gerakan Komunis/ PKI.
    Ketika terjadi pembentukan Dewan Banteng tahun 1956, PKI merupakan penentang utama Dewan Banteng.
    Selanjutnya para anggota komunis yang militan pergi ijok atau bersembunyi ke hutan.
    Mereka takut ditangkap oleh pasukan Dewan Banteng.
    Apabila tertangkap maka akan dipenjarakan di Situjuah, Suliki atau Muara Labuah.

    Pada tahun 1956 Nurlis Dt. Mangkuto Basa, Ketua Barisan Tani Nagari Simarasok, Suayan dan Sariak Laweh membawa 20 orang pemuda Simarasok untuk latihan militer di Sipisang; daerah antara Matua dengan Batang Palupuah.
    Sementara itu Asbir yang bertugas sebagai guru di ST 4 tahun di Padang Gamuak, Bukittinggi diangkat menjadi Wali Nagari Simarasok.

    Pada akhir tahun 1956 Asbir dipilih sebagai salah satu ketua Persatuan Wali Nagari Sumatera Tengah (Perwanest).
    Selain kaum Ulama, maka Perwanest adalah organisasi pendukung utama gerakan Dewan Banteng.
    Salah satu kebijaksanaan Asbir sebagai Walinagari ialah menjamin keselamatan para anggota PKI untuk kembali ke kampung halamannya.
    Mereka disuruh membuat surat perjanjian bersyarat.

    Setiap sore wajib melapor ke Walinagari; selanjutnya mereka harus tidur di Mesjid dan melakukan sholat berjamaah.
    Umumnya anggota PKI jarang yang sholat berjamaah.
    Diumumkan pula, apabila sampai tanggal 31 Desember 1956 tidak melaporkan diri ke walinagari maka harus keluar dari nagari Simarasok.

    Persiapan Pertahanan Nagari untuk orang Sipil

    Sekitar akhir Januari sd. tg. 10 Februari tahun 1958 Asbir mengikuti latihan intelijen bagi orang sipil.
    Pelatihnya ialah Bakri Samad yang pernah dilatih tentara komando Amerika.
    Bakri Samad diturunkan dengan parasut di Singkarak.
    Selanjutnya Bakri Samad melatih calon perwira tentara PRRI yang dipusatkan di Balai Tangah, Lintau dengan pesertanya 30 orang.
    Selesai mengikuti latihan intelijen Asbir Dt. Rajo Mangkuto diangkat sebagai Komandan Pengaman Penyeberangan Wilayah Selatan ke Utara (Bukitinggi-Payakumbuh-Pekan Baru) dan (Bukittingi-Lintau -Batu Sangkar-Solok) oleh komandan Korem Mayor Djohan.
    Pengalaman ketika agresi Belanda tahun 48, 49, jalan raya dikuasai patroli musuh dan di tempat yg strategis musuh mendirikan pos penjagaan.

    Tugas utama Asbir ialah menyiapkan semua logistik yang diperlukan berbentuk sumbangan padi, beras, obat-obatan dan uang sambil tetap menjalin hubungan antara daerah yang dikuasai tentera Pusat dan PRRI melalui orang-orang yang telah ditempatkan.
    Dengan demikian dia harus bolak balik antara Simarasok, Suayan dan Sariak Laweh pada malam hari.

    Para pemuda Simarasok bergabung dengan pejuang PRRI.

    Catatan Pranoto Reksosamudra
    Ditulis waktu dia dalam penjara
    Carilah bukunya, silakan dibaca
    Ada yang menyimpang dari fakta

    Supaya bangga merasa senang
    Dalam kisah cerita perang
    Sejarah ditulis para pemenang
    Banyak fakta sangat menyimpang

    Silakan dibaca halaman 124
    Ketika Pranoto panglima tentara Pusat
    Saat bertugas di Sumatera Barat
    Dia bangga merasa hebat

    Pranoto bercerita tanpa canggung
    Tentang pertempuran di Lubuk Bagalung
    Dua batalyon Prri dia kurung
    Habis semua mati terkepung

    Ibarat cerita dalam sinetron
    Ratusan musuh ditembak kanon
    Mungkin dia sedang guyon
    PRRI ditulis 2 batalyon

    Entah disengaja atau bukan
    Ketika berperang mengalahkan lawan
    Strategi Pronoto sangat rawan
    Seteru Masjumi dijadikan kawan

    Sebagai pemimpin saat itu
    Komunis dijadikan sebagai pembantu
    Menjadi intel di kantor C-1
    Strategi ini sangat keliru

    Telah banyak bukti ditulis
    Musuh Masjumi berpaham Komunis
    Diberi seragam menjadi sadis
    Menyiksa Ulama dengan bengis

    Ini sebuah fenomena nyata
    OPR berkuasa di mana mana
    Termasuk dalam lingkungan penjara
    Asbir berbagi pengalaman pribadinya

    Dari malam sampai subuh
    16 September tahun 60
    Asbir direncanakan akan dibunuh
    Oleh komunis yang menjadi musuh

    Dari BKSMM, Asbir dipinjam
    Banyak PKI yang merasa dendam
    OPR menyiksa dengan kejam
    Beliau disepak lalu dihantam

    Pada tanggal 17 April 1958 dengan didahului pemboman yang dahsyat melalui laut dan udara, tentara Pusat mendarat di kota Padang.
    Pertahanan kota yang semula dipusatkan di gunung Padang dan Teluk Bayur tak mampu melawan pemboman besar-besaran ini.
    Dengan demikian tiada pertempuran besar yang terjadi di kota Padang.
    Masing masing personil militer bersegera mundur tanpa instruksi komando ke kampung masing masing di darek guna melanjutkan perang gerilya sambil melakukan konsolidasi.

    Mustahil 2 batalyon yang masih bertahan di Lubuk Begalung, yang notabene berada di pinggiran kota Padang.
    Para pemuda Simarasok yang ikut bergabung ke dalam batalyon 2002 PRRI atau lebih dikenal dengan nama pasukan Beruang Agam di sekitar kota Bukittinggi dipimpin oleh mayor Zakaria diantara adalah: Sariun, Kartini Sutan Rumah Panjang (masih hidup), Sutan di Ateh, Sutan Kebesaran, Kazuini, Bustamam, Sarudin, dll.
    Yang bergabung ke kesatuan/detasemen Panah Baracun yang dipimpin oleh Dt. Bandaro Hitam merangkap wali nagari Padang Tarok diantaranya adalah Malano Haji, Saemar Basoka, Bakhtiar Basoka.
    Sementara itu Asbir menyelundupkan beberapa orang pemuda Simarasok dan Padang Tarok yang anti komunis untuk masuk keanggotaan OPR, diantaranya: Sutan Bagindo Gabak, Baktiar, M. Nasir, dan Nasir.

    Mereka disuruh melapor ke Bukittingi dan diberi tugas ganda.
    Mereka bertugas mengawal perlintasan dari rimbo puncak Gunuang Omeh turun ke Talang Andih, menyeberang ke Bukik Galapuang (Padang Tarok batas dengan Sariak Laweh).
    Untuk menghindari kecurigaan, di malam hari mereka tak boleh menghidupkan senter atau api, hanya kain atau saputangan berwarna putih yang disandangkan di kuduk sebagai tanda satu rombongan.
    Apabila datang tentara Pusat, mereka ikut bersama tentera Pusat.

    Di pihak lawan, pada awal Agustus 1958, Nurlis Dt. Mangkuto Basa membawa kembali 20 orang pemuda komunis yang telah dilatih di Sipisang ke Bukittingi, dijadikan anggota OPR.
    Dia mengangkat dirinya menjadi Wali Nagari Simarasok berkedudukan di Bukittinggi, sementara Asbir Dt. Rajo Mangkuto tetap jadi Wali Nagari yang diakui masyarakat dan lari ke rimba dan membuat markas di Bukik Kubangan Badak.

    Kejadiaan penting yang disaksikan sendiri.

    Dalam rentang waktu pertengahan sampai akhir 1958 tentera Pusat yang melewati jalan raya antara Bukittingi ke Payakumbuh selalu dihadang oleh pasukan PRRI Panah Beracun maupun pasukan Beruang Agam.
    Pada bulan September 1958 Asbir Dt. Rajo Mangkuto berada di Nagari Koto Tinggi Baso (simpang jalan ke Batu Sangkar) untuk membeli anak cengkeh.
    Saat itu terdengar letusan dan ledakan dari arah Koto Ilalang atau sekitar Lundang.
    Dengan mengayuh sepeda Asbir mendatangi sumber bunyi ledakan dan tampak di dekat jembatan Lundang 3 mobil masuk jurang.

    Ternyata peristiwa itu adalah penghadangan oleh pasukan Beruang Agam.
    Mereka menembak musuh dari atas tebing.
    Saya lihat tiga mobil truk militer hancur dan ada yang jatuh ke sawah. Tampak di dalam kenderaan sejumlah korban.
    Akibat serangan ini tentera Pusat melakukan pembakaran lk. 20 rumah di kampung Lundang. Ujar Asbir Dt. Rajo Mangkuto.
    Pada bulan Oktober Pasukan Beruang Agam kembali melakukan penghadangan di Batang Katiak, Biaro di Tanjung Alam.
    Tentera Pusat ditembak dengan Bazoka dan dua truk oto Reo hancur.
    Mereka tak melakukan perlawanan hanya melakukan tembakan meriam jarak jauh ke arah Kamang dan pasukan Beruang Agam mundur ke Bukik Batu Bajak di Kamang.

    Pembakaran rumah sebagai pembalasan

    Suatu saat, ketika tentera Pusat melewati jalan lurus Padang Tarok, tepat diantara Simpang Parambahan dan Simpang Baruah, telah ditunggu dari balik jalan kereta api.
    Satu peleton pasukan Panah Beracun menunggu dalam jarak sekitar 6 sd 10 meter.
    Saenar dan Bahktiar menembak tentera Pusat yang sedang lewat dengan bazokanya dan pelurunya tepat mengenai 2 mobil truk tentera yang di dalamnya ada 6 orang (tentera dan OPR).
    Karena keberanian dan keberhasilan ini, mereka berdua diberi gelar yang sama oleh kawan-kawannya yaitu Saenar Basoka dan Baktiar Basoka.
    Tentera Pusat yang berada di belakang konvoi tidak melakukan perlawanan dan segera mundur sambil menunggu bantuan dari Bukittingi.
    Setelah bantuan datang mereka menyerang membabi buta dan membakar 63 rumah diantaranya 20 rumah adat di Jorong Baruah, Kenagarian Padang Tarok.

    Korban dan teror/kekejaman musuh terhadap Ninik Mamak

    Mungkinkah skenario dari Jakarta
    Teror tampaknya terbagi dua
    Berbentuk fisik dan berbentuk budaya
    Terlihat jelas secara nyata

    Di lapau Serikat jorong Koto Tuo
    Di sana berjejer banyak toko
    OPR pembantu rezim Soekarno
    Membuat terror sesuai skenario

    Saat OPR melakukan operasi
    Gerombolan dipimpin oleh Gadang Kari
    Mencari penduduk simpatisan PRRI
    Dt. Mangguang tak sempat sembunyi

    Menurut Asbir sebagai narasumber
    Tahun 60 bulan Oktober
    Ada manusia dipenggal OPR
    Nagari Simarasok menjadi geger

    Beliau pangulu Ninik Mamak
    Lehernya dipenggal setelah ditembak
    Lalu ditancapkan di ujung tombak
    Guna dipamerkan kepada orang banyak

    Pada pertengahan Agustus 1958 sekitar pukul 4 pagi tentara Pusat masuk ke Simarasok yang dipandu oleh OPR, diantara mereka terlihat anak buah Nurlis Dt. Mangkuto Basa.
    Ada 5 orang anggota Panah Beracun yang menjadi korban karena sedang tidak berada dalam kesatuan mereka. Diantaranya Asam Tamir.
    Pada bulan November tahun 1958 (Nagari Simarasok, Padang Tarok di Kabupaten Agam) telah dikuasai oleh tentara Pusat.
    Pada waktu itulah OPR yang telah diseludupkan sangat berperan aktif untuk menyeberangkan pejuang PRRI melalui Padang Tarok sampai ke Simpang Batu Hampar.

    Asbir Dt. Rajo Mangkuto bersama teman-temannya ijok, lari ke hutan dan bermukim antara Luhak 50 kota dan Simarasok dengan membuat dangau di kaki bukik Kapanehan.
    Mereka berenam dalam satu pondok yaitu Umar Ali, pekerja di Jawatan Kereta asal Lubuak Aluang.
    5 orang asal Nagari Simarasok: Dalhusin guru SD, Dt. Mangguang, Dt. Mangkuto Sati, Dt. Rajo Mangkuto (mamak Asbir) dan Muchtar Sutan Marajo.
    Dangau dibuat di tengah hutan di lereng bukik Kapanehan.
    Untuk masuk kedalam dangau harus memanjat dahan kayu yang mati dan di bawahnya ada air mengalir.
    Tiada jejak bila masuk ke dalam dangau dan dari atas tidak terlihat karena tertutup pohon kayu dan rimbunnya daun kayu Sialahan.
    Kekejaman OPR yang diboncengi komunis PKI di Nagari Simarasok adalah menangkap Dt. Manguang suku Koto teman saya satu pondok di lereng bukik Kapanehan.
    OPR memenggal kepalanya dan mengaraknya keliling nagari Simarasok lalu kemudian digantung di depan lapau Serikat Jorong Koto Tuo.

    Serangan Pesawat Udara yang pernah dialami

    Sampai akhir 1958, daerah Agam Barat, dari Maninjau, Lubuk Basung sampai ke Tiku belum diduduki oleh Tentara Pusat.
    Daerah daerah di luar kota masih dikuasai PRRI, dan suatu saat Asbir Dt. Rajo Mangkuto menemui kakaknya yang menjadi camat di Palembayan, sekaligus ingin bersilaturahmi dengan Demang Darwis.
    Beliau orang tua, bekas pejabat sangat dikenal pada zaman Belanda yang ketika itu menetap di nagari Balai Selasa.

    Asbir bersaksi suatu kejadiaan
    Peristiwa terjadi di akhir 58
    6 bulan sudah terjadi peperangan
    AURI menebar biang ketakutan

    Ketika Asbir pergi berkunjung
    Menemui kakaknya saudara kandung
    Dia singgah ke suatu kampung
    Balai Selasa dekat Lubuk Basung

    Hari Selasa waktu pasaran
    Banyak pedagang menunggu langganan
    Tawar menawar biasa dilakukan
    Penduduk larut dalam kegembiraan

    Gembira berakhir dengan seketika
    Terdengar deru pesawat udara
    AURI datang tidak terduga
    Manusia berlarian ke mana saja

    Mulanya pesawat melintasi pasar
    Tiada objek yang disasar
    Tak lama waktu hanya sebentar
    Pesawat kembali setelah berputar

    Melepas tembakan ratusan peluru
    Ketika terkena permukaan batu
    Benda keras saling beradu
    Muncul partikel berujud debu

    Ketika peluru menembus tubuh
    Ada yang langsung mati terbunuh
    Ada yang beteriak menyebut aduh
    Hilang semua sifat angkuh

    Orang terbiasa mengucapkan zikir
    Ketika maut telah hampir
    Tiada lagi perasaan kuatir
    Karena tak perlu olah pikir

    Kalau ditanya luka dan mati
    Asbir tak bisa menjawab pasti
    Karena beliau langsung pergi
    Pulang ke kampung rumah sendiri

    Kebiasaan tentara Pusat hanya menyerang pada waktu subuh sampai jam 10 pagi.
    Apabila tidak ada serangan sampai pukul 10 pagi, masyarakat menyatakan daerah aman dan dapat mengerjakan kegiatan sehari hari seperti kesawah dan berkebun.
    Pada waktu lain, sekitar bulan Agustus 1959 pukul satu siang, Asbir Dt. Rajo Mangkuto keluar dari tempat ijoknya di hutan rimba melewati Bukik Gadang untuk menuju jorong Koto Malintang, Nagari Sariak Laweh.

    Di langit tampak sebuah pesawat terbang dari arah utara, Pasaman dan tepat di Jorong Koto Malintang menjatuhkan sebuah bom api dan membakar rumah penduduk.
    Kobaran api terlihat dari kejauhan, sebelas rumah terbakar yakni: rumah Sulija, Baina, Ganiah, Raila Jambak, Duani, Laina, Kamsinar, Gadih, Reda, Kadijah dan Nuru.

    Pukul satu, waktu siang
    Ini terjadi di Koto Malintang
    11 rumah hangus terpanggang
    Setelah kampung dibom kapal terbang

    Ingatan Asbir nagari Suaiyan
    Ketika bergolak sangat menyedihkan
    Tiada tersisa suatu bangunan
    Menjadi arang setelah pembakaran

    Pembakaran rumah pernah terjadi
    Suaiyan dibakar berulang kali
    Mungkin OPR berperan sekali
    Juga terlibat pesawat pesawat Auri

    Entah disengaja atau tidak
    Mesjid Suaiyan sasaran tembak
    Karena Allah yang berkehendak
    Tiada jamaah mati tergeletak

    Bom jatuh ke dalam tebat
    Akibat ledakan terlampau kuat
    Air tersembur seperti muncrat
    Ikan terlempar bangkainya lumat

    Menurut perkiraan ketika itu
    Suaiyan berpenduduk 5 ribu
    Anak nagari hidup bersatu
    Tiada PKI beranggota di situ

    Partai ulama versi Sumatera
    Mirip NU seperti di Jawa
    Di Suaiyan banyak pengikutnya
    Dengan komunis tidak se-iya

    Perti, partainya tarbiyah
    Mengikuti Buya sebagai pengarah
    Mereka teratur dalam jamaah
    Mendukung perjuangan di Sumatera Tengah

    Ketika Guru Tertangkap dan diselamatkan oleh murid.

    Sekitar pukul dua dinihari pada bulan September 1960 Asbir tertangkap.
    Peristiwa itu terjadi di dekat Surau, Baruah Nyiur, Bukik Godang, Sungai Balantiak.
    Saat itu Asbir bersama dua orang kawan baru saja mengambil obat yang dikirim melalui kurir dari kota Payakumbuh.
    Meskipun ketika itu teropong malam belum ada, namun rombongan ini telah diintai oleh musuh dalam keremangan cahaya bulan.
    Tentara Pusat yang berkekuatan lk. 20 orang dalam jarak lk. 15 meter langsung menembak rombongan tsb.

    Jarudin, prajurit pengawal Anti Air Craft (penembak pesawat udara batalyon 2002) asal Simarasok dan Amir asal Padang Panjang yang baru tiga hari bergabung langsung tewas sedangkan Asbir selamat.
    Beliau digiring ke bok pertahanan di puncak bukik Gadang di nagari Sungai Balantiak.
    Dimasukan ke lubang perlindungan yang diberi atap dan keesokan paginya disuruh membuat kuburan untuk diri sendiri.
    Sebelum ditembak, Asbir diproses oleh sersan Sabaruddin asal Jawa, komandan pleton di Sungai Balantiak.
    Di pagi itu Asbir berbincang bincang dengan Sersan Sabararuddin, .....Nama saya Asbir, pak komandan. Kalau boleh tahu nama pak komandan siapa dan berasal dari mana? Tanya Asbir Dt. Rajo Mangkuto.
    Nama saya Sabaruddin. Orangtua saya dari Jawa, bertempat tinggal di kota Banjarmasin, dan saya dulu bersekolah di ST 4 tahun di sana, jawab Sersan Sabaruddin kepada Asbir Dt. Rajo Mangkuto.
    Mendengar jawaban tersebut Asbir menjawab: Sama arti nama kita. Asbir berarti penyabar, sementara Sabaruddin artinya orang yang sabar dan kita sama sama tamat ST 4 tahun, Ujar Asbir Dt. Rajo Mangkuto seraya mengingat temannya yang bernama Tahroni Ramlam yang pindah mengajar ke Banjarmasin.

    Jika bapak tamatan ST 4 tahun di Banjarmasin, apakah bapak kenal dengan teman saya yang bernama Tahroni Ramlam. Dia tamatan Yogya, asal Palembang. Dulu dia dan saya sama sama menjadi guru ST 4 tahun di Padang Gamuak, Bukittingi. Kemudian dia pindah ke Banjarmasin Ujar Asbir kepada sersan Sabaruddin.

    Kenal sekali. Bapak Tahroni Ramlam adalah guru saya. Dia sangat sayang kepada saya, dan saya begitu hormat kepadanya. Karena bapak adalah teman dekat dari guru saya, maka pak Asbir juga guru saya ujar Sabaruddin sambil merangkul saya.
    Kalau begitu saya harus menyelamatkan bapak, dan bagaimana caranya ujar sersan Sabaruddin.
    Buatkan saya berita acara penangkapan bila ingin menyelamatkan diri saya dengan catatan menyerah serta memberikan dua pucuk senjata, sementara yang dua orang (Jarudin dan Amir) buatkan berita acara ditangkap dan melawan. Oleh sebab itu mereka terpaksa ditembak saran saya.
    Ternyata saran saya diterima, dan Sabaruddin berkata.... Hidup ini, ada masanya tolong menolong, ya pak guru. Sekarang saya menolong pak guru, suatu saat nanti mungkin bapak menolong saya atau keluarga saya.. ujar sersan Sabaruddin.

    Hari itu dibuatkan berita acara dan setelah dua hari dua malam kemudian, Asbir Dt. Rajo Mangkuto diantarkan ke kantor Kodim, dekat kantor Bupati Limapuluh Kota lama.
    Diterima oleh pengawal Perwira seksi I Kapten Ruslan.
    Kebetulan Komandan Kodim sedang ke Padang dan dibuat berita acara serah terima serta berita acara penangkapan kepada kapten Ruslan.
    Bapak sudah aman kata Sabaruddin Kepada Asbir Dt. Rajo Mangkuto sambil menepuk bahu.

    Itulah contoh sebuah bukti
    Profesi guru sangat dihormati
    Seorang murid berhutang budi
    Asbir tak jadi dibunuh mati

    BKSMM (Badan Kerjasama Militer Masyarakat), OPR/sipil bersenjata yang berkuasa di sini.

    Nagari Suayan, Sungai Balantiak, Sariak Laweh di Kabupaten Limapuluh Kota baru pada bulan Juli 1960 dikuasai oleh tentera Pusat.
    Karena Asbir Dt. Rajo Mangkuto menyerah dengan senjata maka dia ditahan di BKSMM (Badan Kerja Sama Militer Masyarakat), tempat tahanan sipil sebelum dipenjara atau dilepas kembali ke masyarakat.
    Lokasi rumah tahanan ini terletak di jalan Batang Agam, di belakang bofet Sianok Payakumbuh, yang dikenal dengan Gudang Tembakau.
    Pada hari ke-5 datanglah perwira bagian sekuriti, Peltu Sulaiman (bawahan Ruslan) yang didampingi oleh beberapa orang anggota OPR.
    Mereka menjemput saya dari tahanan BKSMM dan naik mobil ke kantor Kodim.

    Sesampai di sana Asbir Dt. Rajo Mangkuto diintrogasi oleh 4 orang anggota OPR.
    Mereka menanya dengan bentakan dan pukulan Kamu menyerah atau tertangkap.
    Saya jawab meyerah dengan dua pucuk senjata.

    Tak henti-hentinya para OPR menyiksa saya, sampai tenaga saya layu dan terkulai di atas kursi.
    Sekujur badan berdarah, tetapi tidak bengkak.
    Tampak kalender di dinding ruangan menunjukkan tanggal 16 September 1960.
    Kemudian Asbir Dt. Rajo Mangkuto disuruh kembali naik mobil jeep terbuka, berdiri sambil berpegangan ke besi mobil.
    Ketika disuruh turun, dia menolak dan tetap berpengangan erat pada besi mobil sekuat tenaga.
    Dia sadar, apabila turun maka akan ditembak.
    Tendangan dengan sepatu tak henti hentinya guna melepaskan pegangannya.

    Kemudian dibawa kembali ke Kodim.
    Ditengah malam sekitar pukul 2 subuh, kembali dijemput dan dibawa arah ke Ngalau Payakumbuh disuruh pula lari kembali.
    Saya juga tidak mau turun dari mobil. Kata Asbir.
    Beliau ingat nama OPR yang memukul dan menendang tersebut bernama Zainal, ketua SBKB (Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, ormas PKI Payakumbuh)
    Sebelum subuh diantar kembali ke BKSMM.
    Saya dapati teman-teman sedang mengaji. Mereka menyangka saya sudah mati dan mereka melihat kepulangan saya sangat terkejut. Siapa saja yang telah dibawa keluar dari BKSMM tidak pernah kembali lagi.
    Mereka menyapa masih hidup juga pak wali.
    Selanjutnya kawan kawan beramai-ramai, mengurut dan memijit badan dan kaki saya yang lebam.

    Dikurung dalam penjara tanpa proses pengadilan

    Belum sempat tidur, saya diperintah naik mobil dan diantar ke penjara Payakumbuh yang letaknya di samping Ramayana sekarang.
    Ketika akan masuk ke dalam penjara pintu diketuk.
    Kemudian keluar kepala penjara (sipir) bernama Karanin asal Suliki.
    OPR yang membawa Asbir dari BKSMM menghantam punggungnya sambil berkata di siko tampek ang...... dan disambut dengan tinju Karanin yang tepat mengenai ulu hati.
    Dalam penjara banyak teman di sana dan ada yang bersorak pak wali, pak wali !
    Sipir penjara memasukkan ke kamar Nomor 8.
    Di dalamnya telah ada orang orang yang dikenal sebelumnya, diantaranya Haji Abu Hanifah, kepala Pendidikan Agama Propinsi Sumatera Tengah, Abdul Wahib (digelari inyiak uban), Wali Nagari Aie Tabik, Payakumbuh.

    Ukuran kamar penjara 4 x 7 meter, isinya 58 orang.
    Separo kamar dibuat berlantai dua.
    Yang tak kebagian tempat terpaksalah tidur di kolong tempat tidur.
    Waktu dalam penjara ini Asbir Dt. Rajo Mangkuto dipanggil untuk diperiksa, kemudian disuruh menunjukkan basis daerah PRRI.
    Saya tidak mau, dan untuk itu saya ditangani/siksa. Saya tidak mampu melawan, kalau melawan sudah pasti ditembak oleh OPR karena mereka bersenjata.

    Dalam bulan Oktober, Asbir Dt. Rajo Mangkuto dipanggil oleh salah seorang penjaga penjara dan disuruh menghadap ke kepala Penjara.
    Sampai dalam ruangan kepala penjara, Karanin meminta maaf kepada saya.
    Saya sangat heran, mungkin dia mengira saya adalah dukun besar dan tahan peluru karena beberapa kali lolos dari peluru OPR.
    Beri maaf ambo dek pak Datuak, alah talongsong ambo salamoko ka apak. Ujar kepala penjara Karanin.
    Saya terheran heran, ungkap Asbir Dt. Rajo Mangkuto.
    Tiga hari setelah peristiwa tersebut Asbir kembali dipanggil, kali ini disuruh menghadap kepada Rajo Bujang asal Padang.
    Dia menyuruh saya menghadap dan disuruh tegak dekat pintu menghadap ke labuah (jalan).
    Apo kepandaian bapak. Iyo sabana dukun gadang nan indak talok dipeluru apak datuak. kata Rajo Bujang.
    Saya jawab Ambo guru, tantu banyak kepandaian ungkap Asbir Dt. Rajo Mangkuto Pandai bapak membuat tas dari batuang? Tanya Rajo Bujang lagi.

    Itu gampang, nan agak suliklah ambo disuruah jawab Asbir Dt. Rajo Mangkuto.
    Apak suko takuruang di dalam penjaro atau bersama saya menjadi kepala tukang dalam penjara sampai bapak datuak bebas ujar Rajo Bujang.
    Sejak itu Asbir Dt. Rajo Mangkuto bertugas sebagai kepala tukang yang mengomandoi para tahanan dalam penjara untuk membuat tas, gendang dan juga memperbaiki WC penjara.

    Banyak tahanan lain yang berharap untuk dibawa bekerja.
    Baoklah awak pak datuak Ujar mereka.
    Setiap pukul 9 pagi boleh pergi ke pasar.
    Apabila bertemu dengan orang PRRI yang berjualan, Asbir Dt. Rajo Mangkuto sering diberi uang.
    Pada suatu hari, semasa masih dalam penjara Asbir Dt. Rajo Mangkuto pernah dibawa ke pasar Danguang-danguang.
    Sampai di pos kompi tidur semalam, dan besoknya disuruh untuk mengantarkan pasukan ke rimba Kamang.
    Dalam hati Asbir Dt. Rajo Mangkuto menolak untuk ikut karena tak ada persiapan pakaian dan dia tidak mau berhadapan dengan teman sendiri PRRI.
    Supaya tidak pergi Asbir Dt. Rajo Mangkuto mencari alasan sakit perut dan bocor sambil melumuri celana dengan kotoran sendiri.
    Melihat hal tersebut Komandan kompi berkata Orang yang sakit tinggalkan saja.
    Asbir ditinggalkan di pos kompi Danguang-Danguang (dirumah yang belum jadi).
    Ketika mereka telah berangkat, Asbir mencuci pakaiannya dan setelah kering diantarkan kembali ke penjara Payakumbuh.

    Amnesti, Abolisi dan Surat T3 (Surat Tanda Tak Terlibat) PRRI

    Pemerintah pusat, rezim Soekarno di Jakarta meberikan amnesti, abolisi kepada seluruh orang yang terlibat PRRI dengan janji semuanya akan berjalan sesuai dengan kondisi sebelum terjadi pergolakan
    Sepuluh bulan lamanya Asbir Dt. Rajo Mangkuto menghuni penjara sampai amnesti pada bulan Juni 1961.
    Setelah keluar dari penjara Payakumbuh, Asbir diberi surat keterangan oleh Kodim.
    Tidak boleh dipekerjakan oleh negara sebagai PNS, karena dalam berita acara tertangkap dengan menyerahkan dua pucuk pistol.
    Surat tersebut disimpan dalam saku dan tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain.
    Pada akhir 1962 Asbir Dt. Rajo Mangkuto bersama dengan kepala STM Bukittinggi, M. Yanis pergi ke Jakarta kekantor Inspeksi Pusat Teknik (dibawah kementerian P&K) dan bertemu dengan salah seorang guru STM Padang yang telah pindah ke Pusat bernama Rusli Syarif.
    Rusli Syarif bertanya,Mengapa SK saudara belum diurus. Kita yang tamatan STM adalah ikatan dinas.

    Saya jawab Saya bekas pasukan PRRI.
    Sekarang sudah mengajar kembali ? ujar Rusli Syarif.
    Saya belum mengurus surat keterangan T3 (Ternyata Tidak Terlibat PRRI) yang dikeluarkan oleh Kodam 17 Agustus ujar Asbir Dt. Rajo Mangkuto
    Aturan dari Kodam 17 Agustus tersebut tidak sampai ke Pusat, kami bisa saja mengeluarkan SK saudara kembali, karena ikatan dinas saudara belum habis. Dan saudara harus mengajar sampai masa ikatan dinas saudara habis.... Ujar Rusli Syarif
    Segera dibuatkanlah surat keterangan mengajar dan besoknya SK keluar dengan masa kerja dihitung penuh dan ditempatkan mengajar di STM Bukitinggi. Ujar Asbir Dt. Rajo Mangkuto.

    Tahun 1966 Asbir meghilangkan relief di bawah Jam Gadang

    Tentara Pusat dipimpin Pranoto
    Kolonel infantri kelahiran Purworejo
    Perwira kesayangan presiden Soekarno
    Pernah dikurung jenderal Suharto

    Untuk membuktikan PRRI kalah
    Dibuat relief pangulu menyembah
    Di hadapan tentara berbaris gagah
    Kemenakan yang melihat ingin muntah

    Teror budaya Pranoto lakukan
    Niniak Mamak menyerah ketakutan
    Duduk bersimpuh membungkukkan badan
    Membawa carano dipegang tangan

    Ukiran kayu yang pernah dibuat
    Di bawah Jam gadang dahulu terlihat
    Niniak mamak panutan masyarakat
    Pernah dilecehkan tentara Pusat

    Suasana menyambut tentara pendatang
    Dalam relief di bawah Jam Gadang
    Karena merendahkan simbol Minang
    Oleh Asbir telah dibuang

    Lukisan dibuang ke dalam Ngarai
    Menjadi sampah hanyut di sungai
    Menjadi kayu bakar, kalau terpakai
    Begitulah nasib simbol yang lebay

    Kolonel AD Nazif Asmara
    Perwira TNI anak Balingka
    Kerja Asbir didiamkan saja
    Karena beiau mengerti budaya

    Ada petuah orang Yunani
    Sering dikutip para ahli
    Ini merupakan sebagai motivasi
    Ketika menuliskan syair ini

    Historia vero testis temporum = sejarah adalah saksi zaman>
    Lux veritatis = sinar kebenaran
    Vita memoriae = kenangan hidup
    Magistra vitae = guru kehidupan
    Nuntia vetustatis = pesan dari masa silam

    Marcus Tullius Cicero (106 43 SM)

    Silakan dishare melalui:




    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH ||
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px