sejarah
Hari ini Senin tanggal 29 May: pada tahun 1953 Edmund Hillary menaklukkan Himalaya
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (71 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di Nagari Sulik Aie - 877177
  • Tiga Peristiwa Tragis di nagari Batipuah - 955512
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 956201
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 1003292
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 1179408
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 1407553
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 1302532
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 1303246
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 1407756
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 1288948
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya

  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)

  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • Unduh yg Diperlukan

  • PRRI di Kt. Anau
  • PRRI di Simarasok
  • Menjaga M. Natsir
    di Rimba Masang
  • Telah dibaca oleh: 877177 orang.

    PRRI di Nagari Sulik Aie

    Dikarang oleh : H. si Am Dt. Soda

    Serangan pesawat Udara ke Nagari Sulik Air

    Kini waktunya untuk mencatat
    Kejadian penting yang pernah dilihat
    Peristiwa lama yang masih teringat
    Ketika Sulit Air diserang tentara Pusat

    St. Makmur anak engku Manan
    Pada akhir tahun 58
    Pelajar kelas 5 SR Teladan
    Duduk di bangku paling depan

    St. Makmur, suku Limo Panjang
    Awal 61 pindah ke Palembang
    Setelah nagari dilanda perang
    Kini berprofesi sebagai pedagang

    Berbagi pengalaman pahit dan getir
    Saat musibah menimpa Sulit Air
    Setiap waktu selalu kuatir
    Rasanya hidup segera berakhir

    Kejadian penting sangat membekas
    Ketika Makmur belajar di kelas
    Mendengar deru yang sangat keras
    Dari pesawat yang sedang melintas

    Sering bahaya muncul sekejap
    Sekolah membuat suatu protap
    Semua murid harus tiarap
    Di tepi dinding, di bawah atap

    Pukul 9 di pagi hari
    Waktu kampung sedang sepi
    Penduduk ke sawah pergi bertani
    Tiba-tiba muncul pesawat AURI

    Barkali kali pesawat keliling
    Terkadang posisinya terbang miring
    Sambil menembakkan peluru runcing
    Orangpun berlarian pontang-panting

    Etika perang yang biasa berlaku
    Baik sekarang ataupun dahulu
    Harus jelas tembakan yang dituju
    Besar resikonya kalau keliru

    S.R Teladan 10 lokal
    Objek tembakan asal-asal
    Kalau dipikir sangat janggal
    Atau pilotnya tidak profesional

    Peluru merusak dinding sekolah
    Tak ada murid yang luka berdarah
    Mereka mengucap syukur alhamdulillah
    Telah terhindar dari musibah

    Karena Allah punya kekuasaan
    Chaidir Kurning dilindungi Tuhan
    Rumahnya rusak kena tembakan
    Atapnya bolong sebesar jari tangan

    Pandam-pekuburan pemuda PRRI di bukit Sarikie

    Orang Sulik Aie jelas keturunan
    Roslaini Rasyad anak-kamanakan Dt. Malin Sutan
    Bersuku Simabua dalam catatan
    Kepada penulis beliau ceritakan

    Karena Allah Maha Pengatur
    Ketika Sulik Aie sedang digempur
    Banyak TP mati gugur
    Di bukik Sarikie mereka dikubur

    Seregu pejuang berjumlah 12 orang
    Mereka TP berasal dari kota Padang
    Saat musuh datang menyerang
    Tersesat jalan di kampung orang

    Agar manusia tak ditimpa celaka
    Berlayar perlu bernakhoda
    Berjalan baik dengan yang tua
    Bertempur wajib dipimpin perwira

    Karena terpisah dari rombongan
    Tiada perwira sebagai komandan
    Prajurit tak tahu arah tujuan
    Akibatnya seregu menjadi korban

    Dalam suasana sangat mencekam
    Ketika waktu mendekati malam
    Dilereng bukit jenazah dipendam
    Mereka dikubur secara Islam

    Sebelum terjadi peristiwa pergolakan
    Nagari dikelilingi hutan pesawangan
    Banyak bukit tiada pepohonan
    Batang kayu saling berjauhan

    Bukit Sarikie menjadi saksi
    Para pemuda pelajar PRRI
    Mereka berkubur di hutan yang sunyi
    Sebagai pejuang pembela demokrasi

    Semua murid anak sekolah
    Dari madrasah Muhammadiyah
    Ke guguak Sarikie pergi ziarah
    Mendaki bukit, menuruni lembah

    Saat melewati padang terbuka
    Mereka diam tanpa bicara
    Takut dikira rombongan tentara
    Menjadi objek serangan udara

    Sepanjang ingatan sumber cerita
    Dalam dua waktu yang berbeda
    Sulik Aie ditembak pesawat udara
    Meskipun tak banyak mati dan luka

    Walau waktunya tidak dicatat
    Roslaini Rasyad masih ingat
    Ketika sekolahnya ditembak pesawat
    Murid dan guru alhamdulillah selamat

    Mungkin pilotnya salah duga
    Sekolah madrasah dikira asrama
    Bangunan permanen milik tentara
    Tanpa teliti ditembak saja

    Kejadiaan lain yang masih terkenang
    Di dekat halaman surau Tobiang
    6 orang TP nyawanya melayang
    Ketika Sulik Aie dilanda perang

    Akibat perang yang tidak bermoral
    Orangpun berusaha mencari akal
    Pindah ke kota menjadi professional
    Tak lagi bertani di kampung asal

    Roslaini Rasyad pindah ke Jogya
    Untuk kuliah di IAIN Sunan Kalijaga
    Setelah nikah membentuk keluarga
    Kini menetap di Padang kota

    Walau jauh di seberang pulau
    Informasi penting untuk perantau
    Kini bukit telah menghijau
    Dihuni satwa burung berkicau

    Tiang bendera di Bukit Jonggi dibakar

    Saat terjadi perang saudara
    Tanpa perlu menyandang senjata
    Karlis alias Cilik ikut serta
    Menjaga Sulit Air dari bahaya

    Karlis lahir sembilan belas 38
    Tahun 61 menetap di perantauan
    Di kota Solo bersama anak kemenakan
    Menjadi pedagang dengan berjualan

    Berjualan barang di dalam toko
    Di jalan raya menuju Sukoharjo
    Aslinya Sulit Air, jorong Gando
    Gelar pusakanya Malin Marajo

    Peristiwa lama di Sulit Air
    Hidup di kampung sangat getir
    Sudah nasib sebagai takdir
    Hati sedih kalau dipikir

    Di guguak Muncuang dan bukik Jonggi
    Ada merah-putih bertiang tinggi
    Sebagai kode untuk penduduk nagari
    Tiang rebah, orang harus sembunyi

    Untuk mengawasi musuh yang masuk
    Di dekat tiang dibuat gubuk
    Bangunan sementara kualitasnya buruk
    Tempat istirahat orang duduk-duduk

    Saat nagari ditimpa musibah
    Tanpa honor ataupun upah
    Penjaga tiang tak pernah lelah
    Hanya berharap ridho Allah

    Karlis tak mencatat tanggal kejadian
    Kira kira akhir tahun 58
    Tentara Pusat 62 kenderaan
    Tampak terlihat dari kejauhan

    Tonggak tiang peringatan dini
    Di guguak Tarogong, Muncuang dan Jonggi
    Ketika itu tak lagi berdiri
    Tandanya musuh menyerang nagari

    Jembatan di Padang Licin telah diputus
    Kenderaan musuh tak mungkin terus
    Pasukan Zeni, tentara khusus
    Memperbaiki titian sampai bagus

    Walau tiang telah direbahkan
    Mak Kadim dan Karlis tetap di pos penjagaan
    Jarak musuh sekitar tiga kilo-an
    Belum perlu ada yang dikuatirkan

    Mereka terkejut, laksana tersintak
    Melihat tentara merangkak-rangkak
    Sedang menuju ke arah puncak
    Dengan senjata siap tembak

    Allah berkehendak, Karlis selamat
    Ketika musuh tidak melihat
    Dia berlari lalu melompat
    Ke tepi tebing yang cukup dekat

    Setelah melompat dan berguling guling
    Sampai di lurah di bawah tebing
    Terasa kepala sedikit pusing
    Tiba di dangau yang ada anjing

    Agar tentara tidak curiga
    Kepada pak Tamin dan etek Muna
    Seandainya musuh akan bertanya
    Minta diakui sebagai keluarga

    Keluarga pak Tamin orang beradat
    Tamu yang datang diberi hormat
    Karlis dijamu makanan yang lezat
    Enaknya Jariang masih teringat

    Gubuk sederhana di bukit yang lengang
    Merah Putih beserta tiang
    Boleh dianggap sebagai lambang
    Ketika Sulit Air sedang berjuang

    Sebelum musuh berangkat pergi
    Guguak Jonggi dibakar api
    Di situ abah Baka ditembak mati
    Beliau tak sempat menyelamatkan diri

    Inilah bahaya pemuda pengangguran
    Seperti si Opor seorang preman
    Membantu musuh, penunjuk jalan
    Karena dibayar setiap bulan

    Setiap bulan si Opor digaji
    Untuk berperang melawan PRRI
    Menjadi OPR yang sangat dibenci
    Memusuhi dunsanak, saudara sendiri

    Pertempuran di nagari Aripan

    Ketika pulang, arah berbalik
    Sebelum Aripan, setelah Tanjuang Balik
    Apri menjadi sasaran bidik
    Mereka dihadang tak bisa berkutik

    Walau usia masih belasan
    Pelajar Solok tak mau ketinggalan
    Ikut serta dalam perjuangan
    Menjaga yang hak, melawan kebatilan

    Apri kini mendapat lawan
    Lanang berhadapan dengan Jantan
    Di jalan sempit di tepi hutan
    Di bukit Meja, empat berjejeran

    Apri dikepung Tentara Pelajar
    Dibawah pimpinan Letnan Bulidar
    Musuh tidak bisa lari menghindar
    Arah kenderaan tak mungkin diputar

    Saat terkepung, mustahil mundur
    Pasukan musuh hancur lebur
    Menderita kalah waktu bertempur
    Banyak yang cedera, luka dan gugur

    Ketika pertempuran sedang terjadi
    Orang kampung tiada yang berani
    Mengantarkan makanan bahan konsumsi
    Makanya gerilyawan mengundurkan diri

    Perbedaan besar sangat mencolok
    Bantuan musuh datang dari Solok
    Membawa semua kebutuhan pokok
    Makanan kaleng, termasuk rokok

    Untuk menjaga moral pasukan
    Kekalahan Pusat tidak dipublikasikan
    Beritanya tak dimuat di koran koran
    Perang di Aripan, sejarah yang dilupakan

    Sebelum ajal berpantang mati: Kisah seorang veteran perang kemerdekaan.

    Tahun 61, 17 Agustus
    Presiden mengeluarkan keputusan khusus
    Semua permusuhan akan dihapus
    Orang percaya, Soekarno bersikap tulus

    Keputusan khusus disebut amnesti
    Tak ada tuntutan terhadap PRRI
    Orang ijok semuanya kembali
    Pulang ke kampung negeri sendiri

    Tempat ijok disaat perang
    Rawang, Singkarewang dan Simbacang
    Lokasi bertani para peladang
    Juga dihuni berjenis binatang

    Tokoh Masjumi dan simpatisan
    Semua percaya janji dan ucapan
    Termasuk Samsudin dan kawan kawan
    Pulang ke Sulit Air beserta rombongan

    Tapi fakta yang telah terjadi
    Janji tetaplah sebagai janji
    Semua tokoh dan simpatisan PRRI
    Segera dikurung untuk diinterogasi

    Program pemerintah yang paling menonjol
    Setiap penduduk harus dikontrol
    Rakyat dianggap sangat tolol
    Perlu dikursus Usdek Manipol

    Pikiran Soekarno sangat keliru
    Atheis dengan Theis harus bersatu
    Orang Sulit Air tidak setuju
    Ide Nasakom tidak laku

    Samsudin beserta kawan kawan
    Setelah diperiksa selama sepekan
    Ditanya riwayat ikut kepartaian
    Dijatuhi vonis perlu diamankan

    Di pangkal Titi di ujung Jembatan
    Orang ramai melihat para tahanan
    Disuruh naik ke atas kenderaan
    Sawah Suduik Selayo sebagai tujuan

    Di sana ada kantor C-1
    Nyawa tawanan diatur di situ
    Bisa hilang sewaktu waktu
    Para penguasa pasti tahu

    Tokoh ulama kaum Muslimin
    Dt. Rajo Mangkuto yang bernama Sjamsuddin
    Samsunur beserta Basjaruddin
    Serta Dt. Malano namanya Alwin

    Diikuti buya Ahmad Luan
    Dilihat cucu serta anak kemenakan
    Semuanya diam tiada percakapan
    Hanya doa yang bisa dipanjatkan

    Bukannya dendam mengungkit masalah
    Firdaus menulis sebuah kisah
    Cerita pengalaman dari sang Ayah
    Untuk keluarga sebagai sejarah

    Ketika Firdaus berusia 6 tahun
    Ada preman berucap tak santun
    Bapakmu dihukum tak diberi ampun
    Segera dikubur akan ditimbun

    Ucapan orang tak berperikemanusiaan
    Nyawa manusia dijadikan mainan
    Di Sulit Air juga dilakukan
    Oleh Komunis yang anti Tuhan

    Pengalaman Samsuddin menyelamatkan diri
    Setelah beliau menerima eksekusi
    Sebelum ajal, berpantang mati
    Bisa dibaca di kisah ini

    Dalam tahanan di Sawah Suduik, Solok, ayah ditempatkan satu kamar dengan Dt. Malano, Basyarudin, Ahmad Luan dan Syamsunur.
    Sekitar pukul 11 malam ada cahaya senter yang ditujukan ke kamar tahanan.
    Dt. Malano berbisik kepada ayah dan kawan kawan: Sampai disiko ongok (nyawa) awak.

    Ayah terdiam, tidak menjawab, begitu juga yang lain.
    Mereka hanya bisa berzikir dalam hati masing-masing.
    Firasat itu menjadi kenyataan bersamaan dengan datangnya truk tentara dan parkir di halaman depan kamar mereka.

    Cepat ke luar. Tak boleh membawa kain sarung kecuali apa yang ada di badan kalian dan naiklah ke mobil, perintah tentara dengan suara keras.
    Di dalam mobil, tangan mereka diikat satu persatu.
    Malam itu ayah memakai baju kaos oblong putih dan celana pendek yang juga berwarna putih, begitu pula yang lain.

    Arah perjalanan dimulai dari asrama/tahanan ke luar, lalu berbelok ke kiri.
    Terasa jalan menanjak dan berbelok belok.
    Malam itu hujan rintik rintik; tidak ada kata kata dan pembicaraan, selain bunyi deru mesin truk yang meraung raung, menanjaki jalan yang berliku liku.
    Ayah merasa mengenal jalan ini karena beliau pernah melaluinya saat bergerilya dalam perang kemerdekaan, tahun 1948 - 1949 yl.

    Di suatu kaki bukit, rombongan tahanan diturunkan.
    Mereka dijejerkan dalam kondisi tangan terikat, mata mulai ditutup dengan sobekan kain.
    Sambil tetap mengucap astaghfirullah dan la ilaha Ilallah, ayah berdiri di samping Dt. Malano dan Ahmad Luan.

    Begitu mendengar kokangan senjata, ayah langsung memiringkan badan; dengan demikian arah peluru yang ditembakkan tidak tepat mengenai dadanya.
    Beliau merasa dada kiri bagian atas terasa sakit dan langsung menjatuhkan diri ke tubuh Dt. Malano yang telah penuh darah.
    Tak lama kemudian barulah tentara membuka ikat tangan dan penutup mata para korban, lalu tentara itu membolak-balik tubuh korban dengan kakinya.
    Saat tutup mata dibuka, ayah tetap memicingkan mata sambil menahan nafas beberapa detik, dan terdengar ucapan: Sudah mati semuanya. Ayo kita pergi. Besok pagi saja dikuburkan.

    Ketika tidak terdengar lagi bunyi sepatu tentara, barulah ayah mulai duduk dan menoleh ke arah tubuh kawan kawannya; betul betul sudah mati semuanya.
    Ya Allah mudah-mudahan orang-orang ini mati syahid, amien.
    Hujan rinai rinai telah berhenti dan langit tampak sangat cerah dihiasi bintang bintang kecil.
    Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok.
    Ayah mulai meninggalkan lokasi tempat eksekusi dan mencari bukit yang lain untuk bersembunyi.

    Dalam perjalanan beliau tetap memegang dada kiri yang luka.
    Ayah harus menyeberangi batang air yang dalamnya hingga pinggang.
    Di seberang sungai, beliau mendaki bukit yang dirasa aman dan di situ ayah mendapati gua batu yang ditunggu Harimau.
    Oi inyiak ambo urang indak basalah do, borilah ambo tompek manyuruak di sarang inyiak. seru ayah.
    Tanpa mengaum, harimau itu keluar dari gua begitu saja dan ayah segera masuk ke dalamnya dengan aman.

    Allah membuktikan bahwa ada manusia lebih kejam dari binatang
    Dari mulut gua itulah ayah melihat ke bukit tempat eksekusi sebelumnya.
    Apa yang terjadi ?
    Tentara menembak membabi buta ke segala arah.
    Mungkin mereka mengira ayah atau si mayat hidup masih bersembunyi di sekitar tempat itu.

    Setelah suara tembakan berhenti, barulah ayah keluar dari gua dan menuju ke arah nagari Koto Baru.
    Dalam perjalanan tersebut ayah merasa lapar sekali dan untunglah ditemui pisang kolek yang sudah masak ranum.
    Untuk mengambil buahnya, ayah menyandarkan diri ke batang pisang sampai rebah.

    Ayah hafal jalan jalan setapak di rimba.
    Mulai dari Kuranji Padang, Padang Panjang, Muaro Labuh, Solok sampai ke daerah sekeliling gunung Talang.
    Di samping aktivis partai Masyumi, beliau pernah direkrut oleh Jepang menjadi Gyugun, dan adalah seorang bekas pelatih tentara di zaman perang kemerdekaan.
    Sampai di daerah Koto Baru, ayah bertemu dengan ibunda dari Daruwi
    Dia orang Sulit Air yang mempunyai hubungan keluarga dalam persukuan Limo Panjang.
    Orang tua itu sangat mengenal ayah di Sulit Air.
    Ayah segera dibawa ke rumahnya dan bertemu dengan anaknya, si Daruwi.

    Daruwi ini perawat kesehatan tentara, dan ingin menembak ayah.
    Kehilangan seorang mayat di tempat eksekusi mungkin telah diberitahukan oleh eksekutor ke pos pos penjagaan di sekitar, makanya Daruwi menduga ayah adalah si mayat hidup itu.
    Tapi ibunya cepat memberi tahu Daruwi:
    Hai Daruwi jaan ditembak, itu mamak juo dek waang di Sulik Aie. Inyo urang Gontiang dan awak urang Rumah Duo Puluah.

    Ayah tak jadi ditembak Daruwi, malahan ayah berkata: Hai Daruwi iko dalam dado kiri bagian ateh ado peluru, kalau lai bisa waang mangaluakannyo dan selamat, den agiah waang tanah saparumahan tonggak duo boleh di Guguak Muncuang.
    Mantri Daruwi melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan pelor dari dalam dada bagian kiri.
    Dengan izin Allah, ayah selamat dan betul betul menempati janjinya dengan memberi tanah serta membuatkan surat penyerahan agar tidak terjadi masalah di belakang hari.
    Di tanah itu berdiri rumah ukuran 12 kali 12 yang ditunggui oleh anaknya Eti Rusdam.

    Mendengar ayah hidup dan selamat, maka tersiarlah berita ini ke Jakarta, Pakanbaru,Taluak Kuantan, Rengat.
    Ayah tidak langsung pulang ke Sulit Air tapi pergi ke Jakarta karena Bustami Dt. Joban memberi tahu kepada ayah.
    Datuak jaan pulang lo lai. Banyak urang indak sonang jo datuak, tarutamo dari anak kemenakan datuak. Walau kito samo-samo jadi datuak di Limo Panjang, tapi kito babeda haluan. Kalau pulang juo, ambo indak manjamin kaselamatan datuak.

    Selama menetap di Jakarta, ayah banyak dibantu oleh uni Rosma.
    Tahun 1964 akhir, ayah pulang ke Sulit Air selama lima hari untuk menikahkan uni saya Syamsuarni Syam.
    Belum sempat ayah memberikan pangatuo untuk uni Syamsuarni, ayah cepat-cepat kembali ke Jakarta.
    Ada kabar bahwa ayah akan dibunuh kembali oleh orang orang PKI.
    Pada tahun 1986 ayah pergi ke lokasi penembakan bersama Etek Triana, istri Pak Luan. Ande Sa’diah kakak dari Pak Luan. Uni Wilma Rasyid, anak dari Dt. Malano dan beberapa orang lainnya untuk mencari di mana kuburan kawan kawannya yang dibunuh itu
    Atas petunjuk masyarakat yang ada di sekitar bukit, maka kuburan itu bisa ditemui.

    Setelah digali, ternyata kuburan tersebut adalah kuburan Pak Ahmad Luan dan Dt. Malano yang dibuktikan dengan jam tangan merek Titus milik Ahmad Luan.
    Etek Triana tahu betul itu adalah arloji suaminya Ahmad Luan.
    Cerita ini pernah disampaikan oleh etek Triana ke anaknya Bujang yang ada di Pekanbaru.
    Sisa sisa jasad Pak Luan dan Dt. Malano berupa tulang tulang dimasukan ke dalam satu peti dan dikuburkan kembali di Sulit Air Ateh Lubuk Sigodang, tanah Dt. Malano.

    Teringat Perang Saudara di Sumatera Barat
    Tanah MinangKabau yang tercinta
    Berpangkal dari perang politik ambisi manusia
    dari tahun 50
    Terjadi pemilu pertama tahun 55
    Kemenangan 1, 2, 3, 4 membuat ulah
    Berebut kedudukan di pemerintahan negara

    Anggota PKI di Sumatera Barat
    Tidak menegenal kafir dan atheis
    Mereka juga ikut sholat
    Berjemaah di mesjid dan surau surau
    Berarti mereka menjalankan syariat Islam

    Namanya OPR
    Organisasi Perlawanan Rakyat
    Kalau bertemu penduduk geger
    Mukanya seram, hilang semangat .... takut
    Allah yang maha Tahu

    (Puisi dari: Hj. Nurhayati Amir, Medan 2015)




    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH || WISRAN HADI
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px