sejarah
Hari ini Jumat tanggal 28 July: pada tahun 1836 Jenderal Clerens menerima surat perdamaian dari Tuanku Nan Tinggi
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (71 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di Nagari Sulik Aie - 923318
  • Tiga Peristiwa Tragis di nagari Batipuah - 983549
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 992680
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 1051879
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 1230223
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 1450446
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 1350409
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 1359521
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 1460396
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 1356141
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya

  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)

  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • Unduh yg Diperlukan

  • PRRI di Kt. Anau
  • PRRI di Simarasok
  • Menjaga M. Natsir
    di Rimba Masang
  • Telah dibaca oleh: 1460396 orang.

    P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang

    Dikarang oleh : Suardi Mahyuddin, S.H

    Artikel di bawah ini dikutip dari buku

    Pemesanan buku kepada penulis: 0816 965 270 atau Delima Agency 021 8660 4981

    Karangan berjudul Rao-Rao Pusat Pendidikan Di Zaman P.R.R.I", merupakan kisah/pengalaman seorang guru yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.
    Nagari Rao-Rao letaknya berada ditengah-tengah antara nagari tetangga, Sungai Tarab dengan Salimpaung dan Tabek Patah, antara Situmbuk dengan Kumango dan Pasia Laweh.

    Rao-Rao berada di jalan raya yang menghubungkan kabupaten Tanah Datar dengan kabupaten Agam dan merupakan daerah pelintasan dari nagari-nagari tetangga.

    Menurut sejarah, ketika Tuangku Laras Kajo Inan tahun 1915 memerintah, nagari nagari Kumango, Rao-Rao dan Kotabaru berada dalam satu kelarasan.
    Dengan demikian jika ada yang akan memilih mau belajar ke Rao-Rao atau ke nagari yang lain mereka maka mereka akan memilih Rao-Rao karena merasa dekat dari pada ke nagari tetangga yang lain.

    Di zaman P.R.R.I, Rao-Rao menjadi tempat berkumpul kaum ilmuwan yang masih muda, baik sebagai pendidik di bidang agama maupun ilmu pengetahuan umum.
    Oleh sebab itu zaman P.R.R.I tahun 1958 di nagari ini terdapat berbagai jenis tingkat pendidikan kecuali sekolah pendidikan tinggi.

    Mulai Taman Kanak-Kanak, SD, SMP dan SMA dan sekolah kejuruan ada di kampung ini.
    Murid-murid datang dari nagari tetangga.

    Keberadaan semua sekolah ini sifatnya temporer artinya selama waktu tertentu yaitu selama perang saudara berlangsung, jika perang sudah usai baik murid maupun tenaga pengajarnya kembali ketempat asalnya untuk meneruskan pelajarannya.

    Berlainan dengan sekolah pendidikan agama pada zaman P.R.R.I tidak banyak perubahan.
    Sekolah agama tetap juga belajar sebagaimana biasa pertambahan murid tidak sebesar pertambahan sekolah umum, perkembangan pendidikan agama secara umum tergantung kepada jumlah murid kelas empat, lima dan enam SD.
    Kelas-kelas inilah yang menjadi murid Ibtidaiyah

    Jadi menurut penulis jika kita menamakan wbahwa Rao-Rao adalah nagari pendidikan di zaman P.R.R.I tidaklah berlebihan, karena untuk ukuran suatu nagari dalam satu kecamatan yang terdiri dari negari-negari tetangga maka di Rao-Rao lah dalam suasana darurat atau waktu perang saudara di nagari ini ditemui pembelajaran berbagai tingkat pendidikan yang diasuh oleh tenaga-tenaga guru sesuai kurikulum yang berlaku pada masa itu.

    Lahirnya "SMA dan SMP Penampung" di Rao-Rao.

    Risalah pendirian sekolah SMA dan SMP Penampung Rao-Rao Batusangkar di masa P.R.R.I adalah sebagai berikut:

    a. Pembentukan P.R.R.I Februari 1958 menyebabkan pemerintah pusat melakukan reaksi yang cepat tetapi membayahakan keselamatan jiwa penduduk yaitu melakukan pemboman kota-kota di Sumatra Tengah.
    Keadaan yang tenang menjadi kacau balau membuat rakyat jadi panik.
    Maka untuk mengantisipasi bahaya yang lebih besar lagi sebagian besar penduduk yang tinggal di kota termasuk murid-murid sekolah ikut berbondong-bondong dengan orang tua mereka pulang kekampung masing-masing.
    Situasi di kampung halaman seperti di Rao-Rao membingungkan pelajar yang terbiasa tiap pagi ke sekolah.
    Karena tidak dapat dipastikan berapa lama masa perang ini berlangsung maka timbul keinginan mereka untuk mengisi waktu yang kosong sambil menunggu situasi pulih kembali dengan ikut belajar apa adanya sesuai dengan keadaan.

    b. Keinginan seperti yang dirasakan pemuda-pemuda Rao-Rao itu dapat dimaklumi oleh tokoh-tokoh masyarakat di kampung.
    Dengan prakarsa orang cerdik pandai di nagari antara lain Rusli Muhammad beliau pergi langsung menghadap bapak Dr Ismail Daulay Kepala Kordinator Pendidikan dan Pengajaran P.R.R.I yang berkedudukan di Lintau beliau adalah juga salah seorang dosen PTPG Batusangkar. Dengan membawa usul pembukaan satu SMA dan SMP di Rao-Rao berdasarkan keadaan murid dan tenaga pengajar yang memungkinkan untuk dibangun suatu pendidikan tingkat menengah pertama dan atas.
    Usul ini disetujui dan didukung penuh oleh pejabat P.R.R.I itu bersamaan dengan waktu itu didirikan pula SMA dan SMP Sumanik.

    c.Untuk pertanggungan jawab pendirian sekolah ini dibentuk suatu pengurus pendirian sekolah.
    Sekolah-sekolah ini berlangsung untuk sementara guna menampung putera-puteri Rao-Rao yang terlantar atau terputus karena keadaan perang sampai suatu waktu dimana kalau situasi perang sudah usai.
    Itulah sebabnya sekolah ini disebut SMA dan SMP Penampung.
    Penampung artinya menampung murid-murid sekolah menengah dari jenis atau tingkat mana saja yang terlantar.
    Misalnya jika ada yang berasal dari sekolah kejuruan seperti SMEA, SMEP, STM, ST, SGB dan sebagainya akan ditampung di sekolah umum SMA atau SMP kemudian disesuaikan dengan tingkat sekolahnya.
    Untuk itu perlu dibentuk Pengurus pendirian sekolah-sekolah tersebut :

    d. Pengurus pendirian SMA Penampung :

    Ketua : Alm.S.S. Baharuddin Lambaw
    Bendahara : Alm.Abdullah Noer
    Sekretaris : Rusli Muhammad
    Pengurus pendirian SMP Penampung:
    Ketua : Muchtar Syarif
    Bendahara.: Alm.Abdullah Noer
    Sekretaris : Rusli Muhammad
    e. Tenaga Pengajar.

    Tenaga pengajar atau guru-guru semuanya berjumlah kira-kira 20 orang sebagian dari pegawai negeri sebagai guru-guru SMA Negeri,SMP Negeri yang aktif tetapi sedang mengungsi dan sebagian adalah mahasiswa-mahasiswa dari Fakultas Hukum, Pertanian, Kedokteran, Ekonomi Universitas Andalas dan PTPG Batusangkar putera-putri Rao-Rao dan dari luar nagari Rao-Rao.

    Sebagai Kepala Sekolah SMA Penampung Rao-Rao ini ditetapkan oleh Kordinator Pendidikan dan Pengajaran P.R.R.I yaitu Syaukani Usman, beliau berasal dari pegawai negeri aktif sebagai Guru SMA Negeri Jambi dan untuk Kepala SMP Penampung Rao-Rao di angkat Amir Bahar asal dari B1 Sejarah Bukittinggi yang sudah berpengalaman menjadi guru pada beberapa SMA di Bukittinggi.
    Sedangkan untuk Kepala Tata Usaha kedua sekolah ini diangkat Rusli Muhammmad sebelum sebagai Kepala Tata Usaha SMA Negeri Birugo Bukittinggi.

    Adapun nama-nama guru-guru SMA dan SMP Penampung Rao-Rao adalah sebagai berikut :

    1. Syaukani Usman Kepala SMA. Berasal dari Situmbuk
    2. Amir Bahar Wakil Kepala SMA dan Kepala SMP.
    3. Azinar Rasyidin SMA
    4. Abu Bakar Jamal SMA
    5. Suardi Mahyuddin SMA dan SMP
    6. Fahmi Mahyuddin SMA dan SMP
    7. Anis Jafar SMA dan SMP
    8. Abu Hanifah Bakry SMA
    9. Idris Saleh SMA dan SMP
    10. Rosna Hamidy SMP
    11. Roslina Nur SMP
    12. Syamsuddin Rahman SMP
    13. Yusuf Samah SMA dan SMP
    14. Syofyan Syarif SMP
    15. Bachtiar Husein SMP
    16. Ramli Sidin SMA berasal dari Situmbuk
    17. Anwar Alwi SMA Kepala SMA Penampung Sumanik dan sebagai guru di SMA Penampung Rao-Rao
    18. Ilis Nurdin SMP berasal dari Kumango
    19. Salman SMA berasal dari Sei.Tarab

    SMA Penampung Dan Jurusan

    Pengurus sekolah SMA Penampung membuka jurusan berdasarkan kepada jurusan calon murid-murid yang mendaftar dan kemampuan calon tenaga pengajar yang tersedia, karena itu hanya dua jurusan yang dapat dibuka yaitu jurusan Social Ekonomi (bagian C) dan jurusan Ilmu Pasti (bagian B).
    Murid-murid sudah mendaftar rencana mulai belajar April 1958.

    Perincian murid tiap kelas adalah sebagai berikut:
    1. Satu kelas untuk kelas 1C sekitar 35 orang
    2. Satu kelas untuk kelas 1 B sekitar 25 orang
    3. Satu kelas untuk kelas II C sekitar 25 orang
    4. Satu kelas untuk kelas II B sekitar 20 orang
    5. Satu kelas untuk kelas III C sekitar 30 orang

    Dari seluruh jumlah murid tersebut diatas sebagian besar adalah putra-putri Rao-Rao dan sebagian lagi adalah murid-murid yang datang dari nagari tetangga seperti dari Tiga Batur, Sei Tarab, Pasir Laweh, Kumango, Salimpaung , Malintang, Mandahiliang Lawang, dan Tabek Patah.
    Sebagian guru juga ada yang berangkat pagi-pagi dari kampungnya seperti yang berasal dari Sei Tarab, Sumanik, Situmbuk, Kumango dan Pasir Lawas.
    Semua guru masih remaja atau mahasiswa belum ada yang mengakhiri masa remajanya atau berumah tangga, kecuali satu orang yaitu guru agama Bapak Idris Saleh

    Menurut kurikulum SMA pada waktu itu mata pelajaran yang diajarkan pada kejuruan SMA yang dibuka yaitu jurusan sosial ekonomi dan ilmu pasti sudah sesuai dengan kemampuan tenaga pengajar yang tersedia pada waktu itu. Mata pelajaran yang diberikan untuk afdeling C dan B meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sejarah, Geography, Aljabar, Ilmu Kimia, Ilmu Ukur, Hukum Dagang, Tata Negara, Sejarah Perekonomian, Bahasa Perancis, Bahasa Jerman dan Agama.
    Pada tahun ajaran 1958 itu masih ada pelajaran pokok, mata pelajaran pelengkap.
    Pada tahun 1959 sudah ada yang mengikuti ujian penghabisan tertulis SMA Penampung yaitu kelas III bagian C. Bergabung dengan kelas III C SMA Sumanik, bertempat di sekolah Darul Huda Rao-Rao.
    Berkas ujiannya dikirim ke Kordinator Pendidikan dan Pengajaran di Lintau.
    Cuma pengumuman hasil ujian tak sempat diterima karena situasi sudah mulai memanas adanya berbagai operasi meliter yang dilancarkan tentara pusat.

    SMP Penampung

    Sebenarnya di Rao-Rao kira-kira tahun 1956 sebelum P.R.R.I di nagari ini sudah berdiri satu SMP swasta yang didirikan oleh Wali Nagari waktu itu yaitu Anwar May bersama Amir Bahar yang juga sebagai guru di Bukittinggi.
    Untuk menampung murid- murid yang tak mampu yang ingin sekolah kekota-kota.
    Akan tetapi karena kesulitan tenaga guru sekolah ini terpaksa ditutup. Kemudian setelah berdirinya sekolah SMP Penampung diantara mereka ada juga yang bergabung kesekolah ini.

    Bahwa jumlah murid Sekolah SMP Penampung yang terdiri dari tiga kelas dari kelas satu sampai kelas tiga kira-kira berjumlah sekitar 60 orang. Menurut ingatan penulis murid-murid ini semua berasal dari nagari Rao-Rao saja.

    Gedung dan Perlengkapan SMA dan SMP Penampung.

    Untuk SMA Penampung dipakai gedung sekolah SD yang terletak persis ditepi jalan Gudang. Gedung ini terdiri dari enam ruang semua dipakai untuk belajar murid-murid SMA Penampung.
    Sedangkan murid SD yang punya gedung pindah ke gedung SD seberang Tanah Lapang .
    Gedung ini ada juga enam lokal.
    Tiga ruangan dipakai untuk murid SMP dan tiga ruangan untuk murid SD. Murid-murid SD ada yang digabung kelasnya.
    Semua murid SD, SMP maupun SMA belajar di pagi hari.
    Jam belajar di mulai jam 8 pagi selesai kalau tidak ada gangguan operasi meliter tentara pusat biasa jam 13 siang. Kedatangan murid-murid dari luar nagari malahan kadang-kadang lebih duluan sampai di sekolah.
    Sabtu mereka sambil belanja di pasar Rao-Rao bersama orang tuanya setelah pulang jam sekolah.

    Mengenai perlengkapan sekolah untuk kelancaran kegiatan belajar dan mengajar di SMA dan SMP Penampung Rao-Rao ini, dapat dipenuhi seperti mesin stencil, mesin tik dan buku-buku pegangan guru dan alat tulis lainnya semuanya sudah tersedia.
    Semuanya berasal dari inventaris SMA Negeri Bukittinggi yang dapat diselamatkan dari bahaya kehancuran perang. Barang-barang ini dibawa dan disimpan oleh Rusli Muhammad.
    Ini dimanfaatkan untuk pendidikan di zaman P.R.R.I.
    Akan tetapi setelah situasi kembali pulih semua alat tulis ini dikembalikan oleh beliau ketempat asalnya.

    Sekolah Kepandaian Putri (SKP).

    Selain dari SMA dan SMP Penampung di zaman P.R.R.I di Rao-Rao pengurus juga membuka Sekolah Kepandaian Putri (SKP) .
    Lokasi sekolahnya sama ?sama yaitu di salah satu ruangan di sekolah Gudang.
    Sekolah ini dipimpin oleh Bachtiar Husein dibantu oleh tenaga pengajar yaitu:

    1. Rasimah Rasyidin
    2. Ratni Jakfar
    3. Poppy Abulizar Lene.
    Murid-muridnya lebih kurang sepuluh orang antara lain:

    1.Huriyati Bustaman
    2.Yusnani Ilyas
    3. Yusra Saleh .

    Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal

    Di zaman P.R.R.I di Rao-Rao juga terdapat tenaga guru Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) yang aktif .
    Untuk itu di nagari ini di buka pula dua buah sekolah Taman Kanak-Kanak masing-masing terletak di Surau Mandahiliang Mudik dengan jumlah murid sekitar 40 sampai 50 orang dan kedua di Koto Kaciek di Surau Baruh dengan murid sekitar 40 atau 50 orang anak- anak.
    Kedua sekolah ini dinamakan Sekolah Taman Kanak-Kanak ?Bustanul Athfal ? dipimpin oleh Rosni Syarif dan Rosna Bakry dan dibantu oleh Lis Rasyid.
    Demikianlah nama-nama guru dan murid SMA dan SMP Penampung, SKP maupun Sekolah Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal yang masih ada dalam ingatan penulis.
    Mengenai nama-nama murid yang berasal dari nagari tetangga belum tercantum dalam buku ini disebabkan tidak lagi bertemu sehingga nama-nama mereka tidak bisa diingat lagi.

    Belajar Mengajar Di bawah Dentuman Mariam

    Mendengar bunyi dentuman mariam, tembakan mortir dan senapan metriliur bagi murid-murid dan guru-guru di saat belajar di zaman P.R.R.I adalah suatu pendengaran yang sudah lumrah.
    Yang penting perlu diperhitungkan agar sosok meriam itu jangan tiba-tiba sudah berada di dekat kita , tetapi biasanya bunyi dentuman itu kedengaran masih jauh.
    Jika ada operasi ke Rao-Rao tidaklah serta merta bisa langsung mereka sampai ke Rao-Rao, karena di kenagarian Tiga Batur kira-kira 5 km dari Rao-Rao jalan raya itu sudah di putus rakyat dengan cara penggalian lobang di tengah jalan yang dalam dengan sendirinya konvoi dan alat pengangkut mariam itu tidak bisa lewat.
    Alat pengangkut senjata yang bernama mariam itu ditarok di atas sebuah kenderaan semacam mobil yang ditarik oleh mobil tentara.

    Berlainan dengan senjata berat tentara P.R.R.I yang sering kami lihat cuma disandang saja namanya basoka, ukurannya hanya sebesar bambu buluh lemang panjangnya kira-kira 80 cm.
    Cara mempergunakannya juga tidak sulit.
    Alat senjata basoka ini pernah dipergunakan oleh pasukan Mayor Johan yang terkenal di tentara P.R.R.I sewaktu konvoi TNI melewati pendakian Batang Anai di basoka dari atas perbukitan oleh tentara P.R.R.I Ledakan basoka mengakibat konvoi ini tidak bersisa, potongan-potongan mayat manusia pada tersangkut di pohon-pohon.
    Serpihan besi-besi mobil terpelanting dan berserakan jauh dari tempat kejadian.
    Peristiwa ini berlangsung ketika tentera pusat akan memasuki kota Padang Panjang pertegahan tahun 1958.
    Demikian ngerihnya akibat perang saudara di negeri ini.

    Suatu hari bunyi dentuman mariam arah dari Batusangkar sudah di mulai sejak subuh lain dari biasanya terus-terusan sampai siang hari.
    Sekali ini murid tidak masuk sekolah alias libur.
    Masyarakat jadi takut sebab itu tak berani keluar rumah.
    Baru sore diketahui bahwa tembakan meriam itu diarahkan ke kaki gunung merapi dekat Rao-Rao.
    Perkiraan orang Rao-Rao tidak meleset bahwa waktu magrib kemaren rombongan tokoh P.R.R.I dan tokoh meliter P.R.R.I Kolonel Zulkifli Lubis dan rombongan ini melintas di jalan raya datang dari arah Batusangkar, beliau inilah yang jadi sasaran operasi meliter hari ini, rupanya operasi sudah terlambat karena yang dicari itu hanya sebentar di Rao-Rao sesudah itu beliau langsung melanjutkan perjalanannya.

    Geografi kenagarian Rao-Rao untuk zaman perang agak strategis karena terletak persis di jalan raya pelintasan. Itu pula sebabnya banyak tentara P.R.R.I mampir dan malahan ada yang tinggal beberapa waktu di kampung ini. Seperti pendekar Silat Nasional yang bernama Malin Marajo anak Tuangku Kumango tokoh agama dan jago silat yang terkenal bersama dengan sekelompok anak buahnya . Orang Rao-Rao menyegani beliau meskipun dia tidak termasuk tentara P.R.R.I, namun beliau dan anak buahnya pernah kontak senjata dengan tentara pusat.
    Rakyat menganggap bahwa tindakannya selalu membela rakyat.
    Di zaman P.R.R.I tokoh nasional Mohammad Natsir dan beberapa orang temannya dalam perjalannya pernah pula singgah untuk shalat magrib di Masjid Raya Rao-Rao, setelah bertemu dengan sahabat-sahabat beliau yaitu dengan saudagar-saudagar yang dulu pernah di Padang, setelah itu beliaupun melanjutkan perjalanannya.

    Operasi Gabungan TNI-AD Tewaskan 7 Orang Penduduk Rao-Rao.

    Pada pertengahan tahun 1959 sebelum Rao-Rao diduduki oleh tentara pusat , kenagarian di kecamatan Sei Tarab sempat jadi sasaran Operasi Gabungan TNI dari kesatuannnya dari Payakumbuh dan Batusangkar.
    Sebagaimana biasa pagi-pagi sudah kedengaran dentuman mariam dan tembakan mortir.
    Karena ramainya bunyi tembakan dari berbagai arah murid-murid pada hari itu terpaksa libur. Penduduk Rao-Rao yang biasanya pergi ijok ke hutan-hutan untuk menyelamatkan diri sudah mulai berkemas dan menyiapkan bekal untuk satu hari.
    Tujuan penyelamatan diri biasanya ke ladang-ladang arah ke gunung merapi.
    Akan tetapi sekali ini ada juga orang Rao-Rao yang lari menyelamatkan diri ke ladang-ladang arah ke Situmbuk.
    Kebetulan kedua kesatuan operasi yang datang dari Payakumbuh dan dari Batusangkar ini sudah merencanakan pula bertemu di daerah Situmbuk.

    Mereka sesampai di daerah ini tidak lagi melahirkan bunyi letusan senjata api, oleh sebab tu banyak penduduk tidak mengetahui kedatangan mereka sehingga beberapa orang yang di curigai sebagai tentara ditangkapi.
    Warga Rao-Rao yang ditangkap di daerah ini ada tujuh orang antara lain H.Rasul sebagai pedagang besar di Payakumbuh dan Rasyad Sibak yang baru beberapa hari pulang dari Jakarta keduanya dari Caniago, Rasyid dan Rasyad keduanya dari Kota Kaciek, penulis lupa nama tiga orang lagi akan tetapi ada juga berasal dari suku yang lain.
    Mereka yang bertujuh ini ditangkap, digeledah oleh tentara dibantu oleh beberapa orang yang disebut pembantu atau OPR.
    Semua warga ini adalah rakyat biasa tidak bersenjata karena mereka bukan tentara.
    Di badannya hanya ditemui sekedar uang untuk bekal, namun bekal ini dirampas dan kemudian mereka disiksa secara sadis sekali tanpa menghiraukan rasa perikemanusiaan.

    Akhirnya setelah disiksa mereka disandarkan ketebing di pinggir jalan di nagari Talao barulah diberondongi dengan senjata api. Ketujuh orang ini tewas di tempat itu juga. Salah seorang yang tertangkap orang Situmbuk bernasib baik, dia berhasil melarikan diri nekad masuk jurang dalam walaupun diberondongi Tuhan masih menyelamatkan jiwanya, beliaulah yang menyaksikan langsung peristiwa tragis yang dialami oleh warga nagari Rao-Rao yang korban penembakan di Talao itu.

    Kemudian oleh salah seorang OPR yang ikut operasi meliter datang ke Rao-Rao memberi tahu supaya menjemput mayat-mayat yang bergelimpangan di Talao itu.
    Penduduk yang tidak ikut ijok pergi menjemput dan membawa ketujuh jenazah itu dalam keadaan yang sangat menyayat hati bagi yang mempersaksikannya.
    Pada sore sampai malam hari itu juga ke tujuh jenazah ini setelah di shalatkan langsung di kebumikan di masing-masing pekuburan keluarga.

    Kejadian ini menggemparkan masyarakat Rao-Rao yang kebetulan sangat ramai di kampung.
    Inilah salah satu peristiwa yang tragis yang tak bisa dilupakan oleh penduduk Rao-Rao khusus bagi keluarga korban yang kehilangan suami, ayah dan anaknya yang diperlakukan oleh bangsa sendiri pada perang saudara.
    Belum lagi penderitaan batin akibat dari tekanan dari penguasa.
    Fitnah, propokasi dan intimidasi juga berkembang sehingga orang tidak lagi enak dan nyaman tinggal di kampung sendiri.
    Buktinya pada waktu itu mudah saja orang diambil oleh OPR kalau tak ada penjamin dari pihak yang berkuasa maka orang tersebut bisa saja hilang tak tahu rimbanya kalau meninggal tak tahu kuburannya.

    Rao-Rao Di Duduki Tentara Pusat

    Pada bulan Maret 1960 diadakan operasi meliter terakhir ke Rao-Rao. Pada hari itu juga resmi kenagarian Rao-Rao jatuh ke tangan tentara pusat yang berjumlah satu atau dua kompi semuanya kira-kira 200 orang.
    Tempat-tempat stategis dijadikan pos pengamanan ditempati 15 sampai 20 orang serdadu pusat.
    Selain kantor Wali Nagari juga rumah-rumah penduduk yang ditinggal kosong ditempati oleh mereka. Termasuk beberapa buah surau dijadikan pos pengamanan.
    Perbatasan nagari seperti Banda gadang, Gudang , Surau Sungai Luang, Ikue Koto, Bukik Kaciek dan Sibunbun didirikam pos pengamanan.
    Kedua Bukik ini dibersihkan dan digunduli yang mengerjakan adalah penduduk nagari dengan istilah ?sadar banagari ? dilakukan secara gotong royong tiap hari Rabu dan Sabtu.

    Yang menjadi Kepala Nagari ialah Pelaksana Pemerintahan Nagari (PPN) adalah Zainal Abidin dengan pembantu-pembantunya yaitu : Lutan dan Achmad Nawi. Sebelum Zainal Abidin yang menjad Wali Nagari Rao-Rao adalah Amir Syarif, sebagai pengganti Anwar May yang kemudian diangkat sebagai Camat P.R.R.I. Amir Syarif tidak lama memerintah karena terpaksa ijok jauh ke Lintau terus ke Unggan dan akhirnya pada tahun 1960 beliau meninggal di darah itu.

    Pada permulaan pemerintahan Zainal Abidin, maka pulang pula tokoh masyarakat Rao-Rao di Payakumbuh yaitu A.Bakar Rasyidin dan Ilyas Intan, Sejak itu makin ramailah pembantu pelaksana pemerintahan.
    Kepala Nagari Zainal Abidin aktif sekali menjalankan roda pemerintahan. Hampir setiap Jumat beliau berpidato di masjid minta rakyat membantu pemerintahan nya.
    Akan tetapi pada zaman pemerintahan beliau pula terjadi peristiwa penculikan, hilangnya anggota masyarakat dan ada yang meninggal dunia tidak tahu kuburannya.

    SMA dan SMP Penampung di Tutup

    Mengenai kelanjutan sekolah SMA dan SMP Penampung, terhitung sejak bergantinya penguasa di nagari dari P.R.R.I sampai masuknya tentara pusat dan menetap di Rao-Rao dan terbentuknya pemerintahan yang dipimpin oleh Kepala Nagari Zainal Abidin, maka sejak itu sekolah SMA dan SMP Penampung tidak lagi melaksanakan tugas belajar dan mengajar.

    Berarti umur SMA dan SMP Penampung di Rao-Rao di zaman P.R.R.I hanya dua tahun dari Maret 1958 sampai Maret 1960.
    Pengumuman secara resmi tidak bisa dilakukan, namun semua guru dan murid sudah memaklumi sendiri situasi tidak mengizinkan.
    Apalagi sebagian besar guru-guru dan Pengurus SMA-SMP Penampung tanpa diberi komando sudah bertemu saja di nagari Lintau. Penulis sendiri ikut exodus dengan teman-teman sejawat yang lain seperti Amir Bahar, Yusuf Samah, Fahmi Mahyuddin, Sofyan Syarif, Rusli Muhammad, Muchtar Syarif.
    Dan sebagian besar murid-murid yang duduk dikelas terakhir tidak tinggal diam seperti Daud Ersal, Bustami Gani, Ruslan Muhammad , Azwar Hamid dan sebagainya.
    Akhirnya semua guru, pengurus sekolah dan murid-murid tidak bisa berlama-lama di nagari orang, karena kehabisan biaya dan ongkos perjalanan ijok masuk hutan dan keluar hutan sudah barang tentu memerlukan dana yang banyak

    Penduduk Rao-Rao Ijok ke Lintau

    Kenagarian Lintau adalah satu-satu nagari P.R.R.I di Tanah Datar yang terakhir sekali diduduki oleh tentara pusat. Pusat pemerintahan P.R.R.I bukanlah Lintau akan tetapi instansi pemerintah yang mengungsi banyak di temui di nagari ini.
    Antara lain kegiatan Departemem P dan K terletak di bumi Lintau ini, oleh sebab itu kegiatan sekolah-sekolah terdapat disini seperti SMP dan SMA Negeri tetap belajar meskipun keadaan negeri dalam situasi perang.
    Fakultas Hukum Universitas Andalas juga tetap melangsungkan kuliahnya dan ujian sarjana seperti biasanya dilakukan di waktu masa damai.
    Didudukinya nagari Rao-Rao oleh tentara pusat dan terbentuknya pula pemerintahan baru dibawah Kepala Nagari PPN Zainal Abidin membawa perubahan besar bagi kehidupan sosial masyarakat Rao-Rao Bagaimana tidak, masyarakat dari hari pertama lahirnya P.R.R.I mereka telah bertekad berjuang bersama-sama mendukung P.R.R.I.
    Konsekwensi logisnya jika Rao-Rao diduduki maka para pedagang dan masyarakat yang dahulu pulang, kini mereka kembali mengungsi pergi meninggalkan nagari.
    Mereka pergi jauh bukan untuk satu dua hari seperti sediakala, mungkin lebih lama.
    Tujuannya bukan lagi kearah gunung merapi akan tetapi ke negari yang belum diduduki tentara pusat yaitu daerah Lintau dan sekitarnya.

    Untuk pergi ijok menyelamatkan diri ke kenagarian Lintau, kita harus melewati beberapa kenegarian di mulai dari Kumango, Sumanik, Sungayang, Tanjung Sungayang, Pato baru sampai di nagari Lintau kira-kira 35 km dari Rao=Rao.
    Daerah Lintau tidak asing bagi orang Rao-Rao, karena daerah ini adalah juga tempat orang pergi merantau jauh sebelum zaman P.R.R.I.
    Di zaman P.R.R.I ini tempat tinggal orang Rao-Rao tersebar di beberapa nagari seperti Lubuk Jantan, Balai Tangah dan Pangian.
    Para pedagang besar Rao-Rao terlibat pergi ijok ke negeri Lintau seperti H.Ahmad Saruji, Zainal Abidin Sara, Hamzah Harun dan tokoh agama H. Abdurrahman May ada puluhan tokoh-tokoh masyarakat Rao-Rao yang lain ikut berbondong-bondong akan tetapi penulis lupa nama-nama mereka.
    Setelah perang usai sebagian diantaranya ada yang langsung melapor ke kota Padang atau Jakarta, dan sejak peristiwa itu mereka banyak menetap di ibu kota Jakarta.
    Dari Lintau ini banyak orang Rao-Rao menyelamatkan diri ke propinsi terdekat seperti Riau dan Jambi.

    Ijok Sampai Ke Unggan, Durian Gadang dan Sumpur Kudus
    Pertengahan tahun1960 berarti sudah lebih dari sebulan nagari Rao-Rao diduduki oleh TNI tentara pusat di bawah pemerintahan Pelaksana Pemerintah Nagari Kepala Nagari Zainal Abidin.
    Pemerintahan dibantu oleh Lutan, Ahmad Nawi dan Hasan Basri, kemudian datang dari Payakumbuh Abu Bakar Rasyidin terkenal dengan panggilan Bakar Baradai dan beberapa orang OPR yang berasal dari nagari Rao-Rao.

    Mereka inilah yang menjalankan roda pemerintahan nagari sejak P.R.R.I meninggalkan Rao-Rao.
    Dilengkapi dengan aparat lebih kurang 2 kompi (sekitar 200 sampai 250 orang) tentara pusat, semuanya mendiami Rao-Rao .
    Setiap surau di Rao-Rao ditempati di sanalah mereka makan minum, disitulah mck mereka.

    Penduduk yang biasa pergi kesungai dan pancuran untuk mandi sekarang merasa takut apalagi kaum ibu memilih biar dilakukan di rumah saja, kecuali kaum laki-laki terpaksa memberanikan diri untuk kesungai untuk mck.
    Malahan menurut warga ada beberapa surau dijadikan asrama untuk menginap selain dari rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penduduk.

    Selama tentara menduduki Rao-Rao maka selama itu pula kami yang berjumlah ratusan orang yang terdiri dari berbagai profesi pegawai negeri, mahasiswa , pedagang, ulama, murid dan guru berada di nagari orang pergi ijok ke nagari Lintau dan nagari sekitarnya.
    Lintau inilah satu-satunya kenagarian di kabupaten Tanah Datar yang belum ditembusi Operasi Militer TNI tentara pusat.

    Dapat dibayangkan begitu ramainya pengungsi mendatangi nagari ini yaitu orang-orang yang berasal dari berbagai nagari di kabupaten Tanah Datar yaitu orang-orang yang ingin menyelamatkan nyawa dari kekejaman tentara pusat.

    Bagi orang Rao-Rao yang tidak bisa dilupakan dan menjadi trauma ialah peristiwa beberapa bulan yang lalu yaitu tujuh orang rakyat biasa petani atau pedagang kecil ditembaki secara sadis di daerah Situmbuak ketemu dengan operasi meliter, bahwa yang ijok sekarang ini kebanyakan berstatus pegawai negeri, mahasiswa dan pedagang yang beraliran kanan.

    Sudah biasa bahwa dalam situasi yang membingungkan dan panik itu banyak pula tersiar isu atau berita-berita dari orang ke orang bahwa tentara yang di Batusangkar dan dari Payakumbuh akan melancarkan operasi besar-besaran ke Lintau yang akan dilangsung beberapa hari lagi.
    Berita ini sampai kepada masyarakat Rao-Rao yang ada di Lintau.
    Mendengar berita ini orang Rao-Rao yang ijok di Lintau pecah dua ada yang akan lari lagi ke arah Sumpur Kudus, Durian Gadang, Unggan, Santo Lawe dan sebagainya berarti sudah ke propinsi Riau dan sebagian lagi berpendapat lebih baik kembali saja ke kampung halaman apapun terjadi itu adalah kampung kita.

    Penulis dan beberapa teman yang lain seperti Fahmi Mahyuddin, Rusli Muhammad, Hamzah Harun, Ruslan Muhammad, Yusuf Samah, Abdurrahman May, Amir Bahar, Syofyan Syarif, Syofyan Zen dan banyak yang lain memilih biarlah pergi menyelamatkan diri ke negari orang lagi dari pada nanti kalau pulang kampung akan terjadi hal-hal yang tak diingini.
    Oleh sebab itu kami sampai le nagari yang jauh masuk hutan keluar hutan sampai ke kenagarian Durian Gadang, Unggan dan Sumpur Kudus dan nagari-nagari lain yang tak bisa diingat lagi namanya.
    Pada hal waktu itu Lintau masih aman dan tenang saja belum ada operasi meliter yang diarahkan ke daerah itu.
    Untuk itu kami kembali saja ke Lintau karena masing-masing sudah lelah dan yang penting bahwa dana untuk perjalanan jauh sudah mulai menipis.

    Sepucuk Surat Kecil Dari Kampung

    Beberapa hari kemudian setelah shalat Asyar di suatu surau di Lintau pada hari itu Senin, Senin adalah hari pasar di Tanjung Sungayang, sore harinya penulis didatangi seseorang menyerahkan satu surat yang dimasukkan kedalam kotak korek api.
    Orang itu menunggu sampai kami selesai membaca surat itu.
    Saya buka surat itu jelas sekali tulisan itu adalah tulisan abang kandung saya Anwar Mahyuddin yang isinya: ?Adinda Suardi, Agus dan Fahmi.
    Jangan ragu-ragu cepat pulang kami menunggu? Surat itu ditanda tangani oleh Anwar Mahyuddin dan Assad Mahyuddin.

    Saya terhenyak dan kurir itu mengatakan kalau ingin pulang bersama dia saja sampai di Tanjung Sungayang hari Senin depan di sana sudah ada yang menunggu bapak katanya.
    Isi surat ini kami rembukan pada Anwar May dia mengatakan kalau kalian mau pulang tak apa-apa dia setuju saja, kalau beliau diajak tidak mungkin karena dia adalah Camat P.R.R.I.
    Setelah shalat Istigarah dan berdoa kepada Allah minta perlindungan kami bertiga mengambil keputusan berangkat ke Tanjung Sungayang hari Senin yang sudah ditentukan.
    Siang hari kami sudah sampai di Tanjung Sungayang nagari ini baru dikuasai oleh tentara pusat tapi kami masuk nagari ini tidak diperiksa, kata orang karena hari ini hari pasar jadi tak ada pemeriksaan, kalau diperiksa agak repot juga karena satu surat keteranganpun tak ada ditangan.
    Kami dipertemukan orang Rao-Rao oleh kurir tadi, rupanya yang menjemput kami ialah kakak Naro janda abang kami yang benama Jamirin Sutan Adil.
    Untuk terus ke Rao-Rao melalui nagari Sumanik dan Kumango kami diajari oleh kak Naro nanti kalau ada pemeriksaan di jalan kasi tahu saja baru saja dari pasar mau pulang ke Rao-Rao.

    Setelah sampai di Rao-Rao di rumah kak Naro kami disambut abang kami Anwar dan Assad dan beberapa orang tua seperti A.Muluk Sutan Saripado dan ada yang lain kemudian terus ke Kantor Kepala Nagari.
    Di sinilah kami diperiksa agak mendalam oleh Kepala Nagari, Ahmad Nawi dan Hasan Basri.
    Pokoknya kami dianggap pemberontak tetapi syukur kalian cepat sadar katanya.. Yang penting kita sabar dan tebalkan saja kuping kita mendengar makian atau penghinaan kalau tidak demikian kita bisa terpancing .
    Anggap saja pemimpin kita di kampung waktu itu seperti katak di bawah tempurung Rupanya kepulangan kami yang bertiga itu menjadi dorongan bagi teman-teman yang masih di Lintau untuk pulang .

    Secara berangsurangsur setiap hari ada saja yang melapor pulang dari ijok.
    Demikian suka duka pengalaman selama masa perang saudara di kampung halaman.
    Tidak sampai sebulan penulis memperoleh Surat Jalan tanpa punya KTP agar bisa berangkat dari Rao-Rao dulu.
    Penulis terus ke Payakumbuh dan Pekanbaru.
    Beberapa bulan kemudian baru ke Medan melanjutkan pelajaran disana.

    Herman Saleh ijok ke Sungai Patai
    Syair dikarang oleh: H. Si Am Dt. Soda

    Herman Saleh dokter gigi
    ingin berkisah peristiwa dialami
    Suatu masa ketika PRRI
    yang terjadi di kampung sendiri

    Beliau bercerita Nagari Rao-Rao
    Penduduknya banyak memiliki toko
    Ada pula bersekolah di Kairo
    Belajar Mantiq serta Balagho

    Ketika Herman berusia 15
    Pelajar sekolah menengah atas
    Bujang tanggung termasuk cerdas
    Menjadi idola di dalam kelas

    Pertengahan 59 peristiwa terjadi
    Apri dan OPR mengadakan operasi
    Menimbulkan korban Anak Nagari
    7 orang ditembak mati

    Musuh datang dari Payakumbuh
    Jarak perjalanan cukup jauh
    Mereka muncul di kala subuh
    Tanpa letusan bersuara gaduh

    Peristiwa ini perlu dikenang
    Satu tahun suasana perang
    Para perantau banyak yang pulang
    Membawa emas serta uang

    Ada yang kembali dari Singapura
    Membawa uang berjuta juta
    Ingin membantu sanak saudara
    Karena di kampung sedang sengsara

    Orang yang ijok ke arah Situmbuk
    Tiada lokasi tempat menyuruk
    Lalu ditangkap disuruh duduk
    Tangan kebelakang, melingkari kuduk

    Perbuatan OPR sangat nista
    Membunuh sipil tidak bersenjata
    Banyak Ulama serta Buya
    Dibunuh mati setelah disiksa

    Ulama karismatik sebelum Bergolak
    Memiliki jamaah sangat banyak
    Buya Bunduang juga ditembak
    Di jembatan bambu Bukik Gombak

    Herman Saleh sangat beruntung
    Syukur alhamdulillah tidak terkepung
    Ketika ijok meninggalkan kampung
    Mengambil arah menuju Tanjung

    Semua yang ijok berjalan cepat
    Terkadang perlu harus melompat
    Agar segera sampai di tempat
    Nyawa di badan bisa selamat

    Bukannya ganjil atau aneh
    Arah yang dituju Herman Saleh
    Dari Tanjung bisa ke Andoleh
    Terus ke Lintau juga boleh

    Tiada memakai pakaian bagus
    Hanya mengenakan baju kaus
    Membawa bekal nasi bungkus
    Disertai telur telah direbus

    Di Sungai Patai Herman berhenti
    di puncak bukit yang agak tinggi
    Sambil merenung nasib diri
    Ingin ke Rao Rao segera kembali

    Sampai kini masih membekas
    Dari ketinggian tampak jelas
    Hamparan sawah sangat luas
    Padi menguning bewarna emas

    Dari kampuang datang pesan
    Untuk para anak-kemenakan
    Yang sedang ijok di rimba hutan
    Supaya kembali ke kampuang halaman

    Saat tentara telah pergi
    Orang menjenguk korban yang mati
    Mereka datang silih-berganti
    Menghibur keluarga dengan simpati

    Tembakan dari puncak si Bunbun

    Peristiwa penting masih teringat
    Ada pertahanan Tentara Pusat
    Dari Rao-Rao sangat dekat
    Di puncak si Bun-Bun benteng dibuat

    Bukit si Bun-Bun di nagari Kumango
    Letaknya dekat dengan Rao-Rao
    Tempat pertahanan tentara Soekarno
    Banteng Raiders divisi Diponegoro

    Bila cuaca normal terang
    Dari puncak terlihat orang
    di Sumanik ataupun di Sungayang
    Banyak penduduk berlalu-lalang

    Hari Minggu di nagari Sumanik
    Balai Okad sasaran bidik
    Tua muda menjadi panik
    Penduduk berlarian hilir mudik

    Saat pasar sedang ramai
    Tawar menawar terjadi di Kedai
    Mencari harga cocok sesuai
    Penjual dan pembeli beradu pandai

    Pukul 9 lima menit
    Mortir ditembakkan di puncak bukit
    Orang berlarian menjerit-jerit
    Mencari perlindungan di parit parit

    Hanya satu mortir ditembakkan
    tapi banyak membawa korban
    Ada yang tewas luka di badan
    Ada yang putus kaki dan tangan

    Nama-nama Murid SMA dan SMP Penampung P.R.R.I di Rao-Rao.

    Arsip nama-nama murid biasanya tersimpan di kantor sekolah atau rumah Kepala Tata Usaha Sekolah.
    Kami hanya sebagai guru di sekolah itu tidak menyimpan daftar nama-nama murid tersebut.
    Situasi darurat yang membuat panik masyarakat menyebabkan semuanya ingin menyelamatkan karena operasi meliter mendadak muncul di nagari.
    Oleh sebab itu tidak bisa mencari dimana tersimpan daftar nama itu .
    OLeh karena ada niat kami untuk menulis sejarah sekolah zaman P.R.R.I ini kami terpaksa mengingat sepanjang yang bisa terekam dalam ingatan .
    Mengingat kembali peristiwa dan nama-npa murid yang dikenal pada tahun 1958 atau kira-kira 53 tahun yang lalu, lebih setengah abad yang lalu memang susah sekali.
    Nama-nama ini dapat terkumpul atas bantuan istri sendiri karena kebetulan beliau bekas murid di sekolah itu dan juga bantuan teman- teman yang ikut terlibat pada masa P.R.R.I itu.
    Itupun tidak semua hanya nama-nama yang berasal dari nagari Rao-Rao saja , dari luar hanya beberapa orang saja.
    Antara lain nama murid SMA dan SMP Penampung Rao-Rao adalah sebagai berikut:

    1. Hilman Mahyuddin
    2. Herman Saleh
    3. Saharman Rasyid
    4. Azwar Hamid
    5. Ruslan Muhammad
    6. Atri Muchtar
    7. Buchari Ibrahim
    8. Ismed Hamid
    9. Irfan Basyar
    10. Suhaimi Rahman
    11. Fauzi Baharuddin
    12. Nazir Jamal
    13. Agustam Mahyuddin
    14. Yusmal Rayid
    15. John Jumin
    16. Asril Idrus
    17. Syafril Nazar
    18. Azwar Rasul
    19. Chaidir Has
    20. Alizar Johan
    21. Alizar Jamal
    22. Daud Ersal
    23. Bustami Gani
    24. Basyaruddin Zainuddin
    25. Farida Mansur
    26. Nuraini Rasyidin
    27. Zuhairah Jakfar
    28. Rosliana Syarif
    29. Maryulis Syam
    30. Yusniar Hamid
    31. Chairani Muhammad
    32. Fariha Husein
    33. Kartini Bahar
    34. Rosni Agus
    35. Gusnimar Abdullah
    36. Ratna Wilis Mansur
    37. Wasti Darwis
    38. Marnistati
    39. Maharani
    40. Rasyidah Rasyid
    41. Haidar Mahyuddin
    42. Yuniar Jalal
    43. Darmis Syamsuddin
    44. Mihirma Rasyid
    45. Yusraini Abdullah
    46. Syamsinar Bahar
    47. Suwasti
    48. Masri
    49. Mansur Thaher
    50. Fahmi Madjid
    51. Yusri Thaher
    52. Nurman Zen
    53. Zulkarnaeni Bakar
    54. Suhaimi Ahmad
    55. Syamsuar Jakfar
    56. Achyar Thaher
    57. Fachri Ahmad
    58. Muchlis Madjid
    59. Fachri Noer
    60. Zulkarnaen Muhammad
    61. Suhaemi Saleh
    62. Emi Ilyas
    63. Suhaimi Rasyad
    64. Fahmi Rasyad
    65. Yuni
    66. Rukmini Rahman
    67. Rahma Rahman
    68. Syahril Rasyid
    69. Zulhelmi -Tiga Batur
    70. Mawardi -Tiga Batur
    71. Yardi - Sei Tarab
    72. Nurseha - Mandahiling Lawang
    73. Safni ? Malintang dan seterusnya.

    Yusuf Samah Bekas Guru SMA dan SMP Penampung diCulik

    Pemerintahan nagari Rao-Rao dari P.R.R.I sudah diganti sejak bulan Maret 1960 dengan pemerintahan baru dibawah pimpinan PPN Kapalo Nagari Zainal Abidin.
    Di zaman pendudukan tentara pusat ini terjadi lagi suatu peristiwa yang mengharukan dan menyedihkan penduduk nagari dimana sebelumnya telah terjadi pembunuhan tujuh warga Rao-Rao dan kini penculikan atas diri Yusuf Samah yang baru seminggu jadi penganten.
    Duduk kejadian adalah sebagai berikut:

    Sekitar akhir tahun 1960 Yusuf Samah dipanggil ke kantor Kepala Nagari dari rumah istrinya di Caniago pada hari Jumat, sebelum jumatan.
    Alasan pemanggilan tidak disebutkan oleh yang memanggil,....cuma Yusuf mesti datang ke kantor Kepala Nagari pagi hari Jumat itu.
    Pada hal sehabis shalat jumat semua ninik mamak dan urang sumando se Caniago sudah diundang untuk menghadiri jamuan makan dalam rangka pesta perkawinannya.
    seperti kebiasaan yang berlaku.

    Sejak hari itu beliau tidak pernah pulang lagi, hilang tak tahu rimbanya, meninggal tidak tahu kuburannya.
    Istri Yusuf namanya Nismar Hamid kakak kandung dari Azwar Hamid dan istri penulis sendiri.
    Hampir setiap hari istrinya datang ke kantor Kepala Nagari menanyakan keadaan suaminya yang masih berada di kantor Kepala Nagari.
    Akan tetapi Kepala Nagari tidak mau memberikan keterangan apa pun. Beberapa hari kemudian ada kabar bahwa Yusuf sudah berada di suatu rumah di rumah tahanan Sei Tarab.
    Mendengar berita demikan si istri pun datang berkunjung kesana.
    Seorang perempuan Rao-Rao behasil mempertemukan kedua insan ini akan tetapi diizinkan berbicara sebentar.
    Setelah beberapa kali kedatangan istrinya kesana lantas suaminya mengatakan agar istrinya tidak usah datang lagi karena akan menyulitkan dia nanti dan juga akan menyusahkan istrinya bolak balik ke Sei Tarab. Namun keesokan harinya istrinya datang juga akan tetapi sejak hari itu suaminya tidak pernah ketemu.
    Ada seseorang lelaki yang selalu memperhatikan Yusuf ambil wuduk untuk shalat subuh.

    Subuh ini dia tidak melihat Yusuf, akan tetapi dia amat terperanjat karena sarung yang biasa dipakai Yusuf telah dipakai orang lain yang tak dikenalnya.
    Dia berfirasat bahwa barangkali Yusuf sudah dihabisi atau dihilangkan karena sarung yang biasa dipakainya sekarang sudah dipakai orang lain, tetapi pikirannya itu tidak diberitahu kepada istrinya Yusuf.
    Rumah Penjara Batusangkar juga sudah didatangi istrinya melalui penjaga penjara mengatakan tak ada yang bernama Yusuf disana.
    Ada juga saudara kandung Yusuf yang bernama Alimin ikut mengurus penangkapan adiknya di kantor Kepala Nagari maupun di Sei Tarab akan tetapi tidak berhasil.

    Waktu peristiwa penculikan Yusuf penulis sendiri sudah lebih dulu menyelamatkan diri ke Medan.
    Cuma yang teringat penulis mengenai Yusuf sewaktu mendengar berita duka itu bahwa Yusuf Samah waktu menjadi guru SMA Penampung beliau agak lebih aktif, karena upacara HUT 17 Agustus 1958 yang diadakan di Balai Satu dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pelajar beliaulah yang tampil di podium sebagai pembaca ?Piagam Dewan Perjuangan? ..... Pernyataan Kolonel A.Husein mengenai terbentuknya P.R.R.I.
    Saya tidak mengetahui kalau hal itu sebagai penyebab penculikan saudara Yusuf.
    Yusuf adik kelas penulis di SMA Negeri Bukittinggi. Kemudian beliau masuk PTPG Batusangkar.
    Ada beberapa orang Rao-Rao yang sama dengan beliau di PTPG Batusangkar antara lain Husni Rasyid yang kini kita kenal Prof Husni Rasyid Datuk Paduko Sinaro dosen Unimed Medan, alm. Drs. Abu Bakar Jamal Dosen di FKIP Padang dan Drs.Syamsuddin Rahman guru juga di SMP Penampung Rao-Rao kini sebagai pengusaha sepatu dikenal dengan Toko Baliko di Bandung.
    Semuanya mahasiswa dari Prof. Zainuddin Sutan Kerajaan pimpinan PTPG Batusangkar.
    Sewaktu Profesor ada di tempat penyelamatannya di Talang Dasun Pasir Lawas.
    Kami bersama alm.Yusuf Samah dan Syamsuddin Rahman pergi berkunjung ke tempat Profesor itu, beliau senang sekali kami buka sekolah di Rao-Rao.
    Kemudian setelah tempat ijoknya sudah ada yang mengetahuinya cepat-cepat beliau pun pindah dari tempat itu karena ternyata tempat itu tidak lagi steril.

    Arif Fadila Dan Idris Pak Datuk juga Hilang tidak Tahu Rimbanya, Meninggal tidak tahu kuburannya

    Ada lagi orang Rao-Rao yang hilang baik masa pendudukan maupun sebelum pendudukan tentara pusat.
    Arif Fadila suku Mandahiling Mudik umur kira-kira 30 tahun pekerjaan pedagang.
    Kejadian ini sebelum Rao-Rao diduduki tentara pusat.
    Beliau berangkat dari rumah istrinya di Bodi mau ke Padang melalui Batusangkar dan Padang Panjang.
    Dalam perjalanan ke Padang itu orang memperkirakan dia hilang, karena harus melalui pos-pos tentara yang banyak dan seringnya operasi meliter sewaktu itu.
    Jadi peristiwa hilangnya Arif Fadila ini bukan di Rao-Rao.

    Berlainan dengan Idris Pak Datuk Kota Kaciek umur sekitar 30 tahun pekejaan sopir, peristiwanya terjadi setelah tentara pusat sudah menguasai nagari.
    Kejadiannya sewaktu Malin Marajo Kumango Pendekar Silat itu ditangkap oleh OPR. Kami tak ingat di daerah mana beliau ditangkap akan tetapi mobil yang membawanya melewati Balai Sabtu Rao-Rao.
    Mobil berhenti di jalan arah ke Batusangkar karena melihat Idris Pak Datuk sedang berada di perjalanan.
    Beliau disuruh naik mobil untuk mejadi sopir mobil itu.
    Jadi beliaulah menjadi sopir mobil yang ditompangi Malin Marajo tersebut.
    Sejak berita penangkapan di perjalanan itu tidak ada lagi kabar mengenai Idris Pak Datuk ini.
    Diperkirakan orang bahwa untuk menghilangkan jejak cara menghilangkan Pendekar Silat ini, maka mereka sama-sama dihilangkan saja di tempat yang sama pula.

    Posisi Beberapa Bekas Murid SMA dan SMP Penampung Rao-Rao.

    Sekolah SMA dan SMP Penampung yang lahir di Rao-Rao di zaman P.R.R.I pada Maret 1958 karena terpaksa keadaan harus ditutup Maret 1960.
    Sekolah ini telah mempersatukan dan mempererat hubungan silaturakhim masyarakat dengan nagari tetangga yang diwakili oleh pelajar-pelajar yang datang belajar ke Rao-Rao.
    Seperti nagari Tabek Patah, Malintang, Salimpaung, Mandahiling Lawang, Situmbuk, Komango, Pasir Lawas, Sei Tarab dan Tiga Batur.
    Semua murid lebih kurang 150 orang.
    Jarak waktu sudah lebih setengah abad itu, menyebabkan kami tidak mengetahui keadaan murid-murid ataupun mantan guru-guru sekarang ini, tentu diantaranya sudah ada yang mendahului kita menghadap Chaliknya.

    Namun demikian kenyataannya yang kami ketahui bahwa ada diantara bekas murid-murid sekolah tersebut disamping telah berfungsi sebagai pengusaha swasta maupun sebagai pedagang seperti yang ada di Jakarta, Bandung dan Pekanbaru.
    Banyak juga yang telah menyelesaikan pendidikan dalam berbagai bidang disiplin ilmu, malahan sudah memperoleh gelar S1, S2 atau S3 yang berkiprah sebagai pegawai negeri maupun wiraswasta.

    Antara lain seperti berikut :
    1. Prof. Dr Hilman Mahyuddin Sp.BS. Rumah Sakit Cipto Jakarta
    2. Drg. Herman Saleh
    3. Dr. Saharman Rasyid Sp.A.
    4. Dr. Mihirma Rasyid
    5. Syafril Nazar SH.
    6. Ir. Atri Muchtar
    7. Alizar Johan Akademi Geologi Bandung
    8. Ruslan Muhammad Akademi Penilik Kesehatan Surabaya
    9. Asril Idrus SH. Advokat dan Penasehat Hukum
    10. Alm. Azwar Hamid Kasubdit Penyiaran TVRI Jakarta
    11. Alm. Yusmal Rasyid Sarjana Muda Ekonomi Nomensen Medan
    12. Alm. Ir.Fahmi Rasyad Pegawai Pertamina Jakarta
    13. H. Buchari Ibrahim Kepala Koperasi Nasional Malaysia
    14. Yardi SH Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Padang
    15. Mawardi, camat pda salah satu kecamatan di Medan
    16. Nurseha Mandahiling Lawang Guru SMA Negeri III Padang. Terakhir jadi nyonya alm. Anis Jakfar guru SMA dan SMP Penampung Rao-Rao.
    Kalau Dunsanak setuju dengan artikel kisah berhaji ini, tolong di Like & Send atau di Tweet
    dan apabila tidak sependapat, silakan hubungi penulis untuk kita diskusikan




    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH ||
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px