sejarah
Hari ini Minggu tanggal 24 September: Catatan masalalu adalah guru kita hari ini
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (71 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di Nagari Sulik Aie - 953532
  • Tiga Peristiwa Tragis di nagari Batipuah - 1001751
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 1019096
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 1078730
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 1267611
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 1480861
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 1390155
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 1406370
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 1502570
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 1411697
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya

  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)

  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • Unduh yg Diperlukan

  • PRRI di Kt. Anau
  • PRRI di Simarasok
  • Menjaga M. Natsir
    di Rimba Masang
  • Telah dibaca oleh: 927836 orang.

    PRRI di nagari Tanjuang Sungayang

    Dikarang oleh : H. si Am Dt. Soda

    I. Nagari Tanjung bak surga muncul di dunia


    Inilah syair tentang orang kampung
    Peristiwa terjadi di nagari Tanjung
    Ketika bergolak mereka bergabung
    Ditulis dalam bait sambung menyambung

    Ijin diminta ke penghulu nagari
    Untuk berkisah peristiwa dialami
    Bukan saya ahli puisi
    Kisah untuk anak cucu nanti

    Kalau salah tolong betulkan
    Syair ditulis dalam sepekan
    Banyak yang lupa atau terlupakan
    Peristiwa terjadi tahun enampuluhan

    Nagari Tanjung dilingkari bukit
    Ada labuah jalan berbelit
    Sawah berpematang, banyak parit
    Menghasilkan padi bersumpit sumpit


    Banyak sungai airnya deras
    Di situ berbiak ikan Tawas
    Sungai berbatu, batu cadas
    Di sisi tumbuh pohon Perawas

    Orang Tanjung, semuanya taat
    Menjalankan agama, aturan syariat
    Ketika datang waktu sholat
    Aktivitas berhenti untuk sesaat


    Sambil istirahat agak sebentar
    Sembahyang Zuhur atau Ashar
    Di atas batu bersusun datar
    Di pinggir sungai banyak terhampar

    Ibarat surga muncul di dunia
    Tempat anak bermain ceria
    Penduduk tenteram hidup seiya
    Mereka semua berakhlak mulia

    Tanah Sirah tempat siluncuran
    Pelepah Pinang untuk kenderaan
    Tebing miring dijadikan sandaran
    Anak bermain, lupa makan

    Ketika malam mengaji di surau
    Lalu diajar silat Lintau
    Begitu remaja Minang Kabau
    Bekal kelak untuk merantau


    Sawah terhampar berlupak lupak
    Pematangnya panjang bagaikan ombak
    Ditumbuhi rumput makanan ternak
    Sangat indah bila dikodak

    Sungai di Tanjung ada lima
    Airnya jernih seperti aqua
    Bisa diminum kala dahaga
    Tiada polusi racun berbahaya

    II. Situasi yang berubah

    Menurut berita kabar orang
    Presiden Soekarno sangat berang
    Sumatera Tengah akan diserang
    Negeri siap untuk berperang

    Februari 58 perubahan mendadak
    Penduduk Tanjung bertambah banyak
    Pengungsi datang secara serentak
    Mereka diterima seperti dunsanak

    Ini nasib para pengungsi
    Gaji bulanan telah terhenti
    Tiada tanah untuk bertani
    Menunggu bantuan sanak senagari

    Meski bukan saudara dekat
    Sanak senagari orang beradat
    Dagang yang datang disambut hangat
    Saling membantu sesama umat

    Tiada terdengar di gunjing percakapan
    Mencari kesempatan di dalam kesempitan
    Orang berebut cari kebaikan
    Saat membantu kelompok perjuangan

    Harapkan pahala dari Yang di Atas
    Semua berkorban secara ikhlas
    Membantu perjuangan sekilo emas
    Atau hanya secupak beras

    Kepada pengungsi dari kota
    Rumah dipinjamkan tidak disewa
    Kalau makan ikut bersama
    Pengungsi senang berhati lega

    Ada Bule bernama tuan Hansen
    Mungkin beliau ahli manajemen
    Menganut keyakinan beragama Kristen
    Mendukung perjuangan secara konsisten

    Sebelum bergolak terjadi perang
    Rumahnya di Sawahan kota Padang
    Seleranya cocok masakan Minang
    Khususnya Kalio daging Rendang

    Hansen ke Tanjuang pergi mengungsi
    Anak beranak beserta isteri
    Stelly, Elvie, Renni, Tresye dan Ghonni
    Pembantu setia bernama Ronni

    Si mBok lainnya sudah agak tua
    Berbusana tradisi, baju kebaya
    Seperti umumnya wanita Jawa
    Dibawa mengungsi ikut serta

    Atas usul pegawai kecamatan
    Dengan persetujuan anak kemenakan
    Di surau Bondagh, Hansen ditempatkan
    Tanpa dipungut uang kontrakan

    Lokasinya di dekat labuah zaman kuno
    Menuju Pagaruyung terus ke Suruaso
    Walau tak jauh dari Batang Selo
    InsyaAllah aman dari banjir galodo

    Ibu rumah tangga sangat merasakan
    Keperluan keluarga selalu dipikirkan
    Hidup di pengungsian banyak kebutuhan
    Sumbernya terbatas dari tabungan

    Ketika nyonya Hansen jatuh sakit
    Tubuh lemah tak bisa bangkit
    Perut terasa melilit lilit
    Obat yang tersedia hanya pil Norit

    Takdir Allah di atas segalanya
    Orang Tanjung ataupun orang Belanda
    Jodoh dan maut tak diatur manusia
    Isteri Hansen meninggal dunia

    Karena kampungnya berjarak ribuan kilo
    Almarhumah dikubur dekat surau Pono
    Di pandam pekuburan orang Topiselo
    Itulah Tuhan punya skenario

    Tak kepalang sakit ditembus peluru
    Penderitaan Hansen melebihi itu
    Menjaga 5 anak bernasib piatu
    Setelah mereka kehilangan ibu

    Sifat kemanusiaan masyarakat Tanjung
    Membantu orang tak hitung-hitung
    Meskipun bule berhidung mancung
    Semua pengungsi mereka tampung

    III. Nagari Tanjung di persimpangan jalan

    Nagari Tanjung lokasi perlintasan
    Para komandan membawa pasukan
    Jumlahnya banyak terhitung ratusan
    Mereka singgah diberi makan

    Dari Lintau menuju Agam
    TP 1 berjalan di malam kelam
    Membawa karaben serta meriam
    Setiap regu jumlahnya enam

    Dari Pasaman hendak ke Sijunjung
    Melewati bukit serta gunung
    Masuk kampung ke luar kampung
    Juga singgah di nagari Tanjung

    Walaupun tembakan berdentum dentum
    Nasi disiapkan dapur umum
    Disertai air untuk diminum
    Ibarat membantu kerabat kaum

    Para pemuda anggota TP
    Menyandang bedil jenis LE 2
    Ketika berkomunikasi memakai kode
    Yakin berjuang bukan ber ere ere 3

    Kode digunakan ketika malam
    Misalkan kode daun mempelam
    Teriakkan daun, lalu diam
    Jawaban yang benar: mempelam

    Sebelum bertanya kita berandai
    Kalau jawaban telah sesuai
    Itulah kawan, tak perlu dicurigai
    Runding dan diskusi bisa dimulai

    Bila panggilan dijawab salah
    Alamat badan ditimpa susah
    Dapat mati bersimbah darah
    Jadi sasaran tembakan terarah

    Untuk menjaga daerah perlintasan
    Bukit menjadi tempat bertahan
    Lubang digali di pinggir hutan
    Oleh musuh tak mudah kelihatan

    Batalyon bernama Harimau Minang
    Kapten Badaruddin pimpinan perang
    Sifatnya tegas tapi tenang
    Kepada anak buah dia sayang

    Badaruddin orang luhak Limapuluh
    Kabarnya berasal dari Payakumbuh
    Ketika sulit tak pernah mengeluh
    Kepada Achmad Husein dia patuh

    Pasukan istimewa Baringin Sati
    Anggotanya banyak berjumlah sekompi
    Berbaris apel setiap pagi
    Menunggu sarapan sebungkus nasi

    Baringin Sati kompi istimewa
    Komandan bernama Muhir Aloha
    Anggotanya banyak parewa kota
    Mereka bergabung secara sukarela

    Muhir Aloha orang Aceh
    Rajin ibadah, sangat saleh
    Wajahnya tenang, terlihat sumeh
    Bukan pengikut Daud Beureh

    Ketika Muhir memimpin gerilya
    Isteri dan anak dibawa serta
    Bayinya sehat tampak ceria
    Tanpa minuman susu Formula

    Bersama wakilnya Malin Marajo
    Guru silat aliran Kumango
    Senang memakai kopiah sebo
    Tapi tak suka menebar foto

    Ibarat memberi anak kandung
    Itulah sumbangan orang Tanjung
    Nasi bungkus berkarung-karung
    Membantu perjuangan secara langsung

    Sejak awal sampai terakhir
    Sumbangan datang bak air mengalir
    Rakyat memberi tak perlu kuatir
    Tiada yang hilang walau sebutir

    Ini bukan cerita bohong
    Perang dibiayai bergotong royong
    Setiap orang ikut menyokong
    Walau sumbangan ubi sepotong

    GMW atau Gerakan Massa Wanita
    Organisasi perempuan ikut serta
    Meminta masyarakat berinfak harta
    Demi perjuangan membela negara

    Upiak Sayang dan ande Mokah
    Tiada jemu, tanpa lelah
    Menyuruh petugas ke rumah rumah
    Mengumpulkan iuran ataupun sedekah

    Iuran perang anak nagari
    Sebagai bukti kesadaran diri
    Ketika menjaga ibu pertiwi
    Saat negara mengalami revolusi

    IV. Kota Batusangkar kerap digempur

    Batusangkar ibukota kabupaten
    Dahulu bernama Fort van der Capellen
    Belanda mendirikan benteng permanen
    Kokoh dan kuat karena disemen

    Tentara Pusat bertahan di benteng
    Di dalam bangunan beratap genteng
    Tiada aliran air ledeng
    Hanya disiapkan makanan kaleng

    Bila malam telah datang
    Tentara Pusat tak lagi tenang
    Setiap pekan gerilya menyerang
    Korban yang luka mengerang erang

    Inilah suasana yang sangat haru
    Ketika tentara terkena peluru
    Darah mengalir membasahi baju
    Tole berbisik memanggil ibu

    Dijaga mBoke sedari kecil
    Kini menggeletak di samping bedil
    Tubuh terasa dingin menggigil
    Bunda disebut dipangil panggil


    Dari Tanjung diatur serangan
    Pasukan berbaris beriring iringan
    Granat di pinggang, senapan di tangan
    Kota Batusangkar sebagai tujuan

    Serangan dipimpin oleh para komandan
    Bisa marah seperti macan
    Terhadap prajurit pelanggar aturan
    Yang tak patuh pada perintah atasan

    Terhadap komandan harus taat
    Pimpinan mengatur taktik siasat
    Perintah diucapkan tegas dan cermat
    Tak boleh membantah atau mendebat

    Kata dubalang, kata menderas
    Kalimat pendek sangat ringkas
    Ucapan terang harus jelas
    Lama berucap satu nafas

    Senjata moderen buatan bule
    Banyak yang kecil, ada gede
    Bazoka, Mortir dan L.M.G
    Disertai Garrand, Springfield dengan L.E

    Beriring-iringan T.P berjalan
    Kepala regu ada di depan
    Memberi arah tempat tujuan
    Menunggu kode isyarat penyerangan

    Agar PRRI tidak masuk kota
    Batusangkar dilingkari kawat tembaga
    Kawat dialiri arus terbuka
    Bila tersentuh bisa celaka

    Kalau tentara keadaannya panik
    Kota dipagari arus listrik
    Sifatnya arus, bolak balik
    Siapa menyenggol langsung terpekik

    Inilah kesalahan sangat besar
    Ketika listrik dijadikan pagar
    Orang sipil tak mampu menghindar
    Konvensi perang telah dilanggar

    V. Kantor Koterketj

    Komando Teritorial Tingkat Kecamatan
    Yang mengatur logistik pasukan
    Zainal Abidin nama pimpinan
    Sebelum perang pegawai penyiaran

    Tiada ragu ataupun bimbang
    Sebagai pegawai RRI Padang
    Hidup sehari hari sudah tenang
    Abidin memutuskan ikut berperang

    Orangnya tampan badan tinggi
    Pakaian necis sangat rapi
    Tutup kepala memakai topi
    Terus siaga setiap hari


                   ;            Rumah kenangan, rumah perjuangan, home sweet home

    Kantor menumpang di rumah Datuk Soda
    Tidak dipungut uang sewa
    Niatnya menyumbang secara sukarela
    Andil perjuangan tanggungan bersama

    Zainal Abidin punya ajudan
    Untuk membantu tugas pekerjaan
    Hubungannya bak mamak dengan kemenakan
    Mereka berjaga secara giliran

    Maklum kondisi suasana perang
    Setiap saat musuh menyerang
    Kalau lengah nyawa melayang
    Diterjang peluru yang tak diundang

    Karena perang berbulan bulan
    Logistik tentara harus disiapkan
    Nasi bungkus untuk pasukan
    Pagi dan sore perlu makan

    Walau siaga sepanjang hari
    Baik petang maupun pagi
    Nasi bungkus dijatah dua kali
    Sumbangan perjuangan anak nagari

    VI. Perselisihan antara Tentara Pelajar dengan tentara reguler PRRI (serdadu)

    Banyak pelajar tentara sukarela
    Di Tanah Sirah membuat asrama
    Di Batunjam juga ada anggota
    Siang dan malam selalu siaga

    Tidak digaji, tidak diupah
    Pakaian seragam tidak dijatah
    Baju sendiri dibawa dari rumah
    Dibelikan ibu, hadiah ayah

    Seragam sukarelawan ketika itu
    Bersandal jepit tampak lucu
    Tentara reguler rapi bersepatu
    Layak disebut sebagai serdadu

    Peristiwa terjadi tahun 58
    Mungkin September bulan sembilan
    Karena tiada dalam catatan
    Bila keliru tolong dibetulkan

    Sekompi serdadu melewati Tanjung
    Menuju tujuan ke daerah Sijunjung
    Hari sore suasana mendung
    Lalu istirahat di tengah kampung

    Semua orang ingin berbakti
    Kepada ranah tanah pertiwi
    Tiada jenderal mengatur koordinasi
    Pasukan bertindak sendiri sendiri

    Para serdadu tentara asli
    Memakai sepatu bertutup tinggi
    Seragamnya lengkap gagah sekali
    Senjatanya berlebih membuat iri

    Melihat kondisi ada perbedaan
    Dirasakan TP melihat kenyataan
    Perlengkapan diminta sedikit bagian
    Serdadu marah melepas tembakan

    Tembakan dilepas berulang ulang
    Kondisinya mirip seperti perang
    Peluru ditembakkan terbuang hilang
    Untunglah tiada nyawa melayang

    Karena menolak usul permintaan
    Tembakan meletus bersahut sahutan
    Sesama kawan timbul perselisihan
    Penduduk ngeri sangat ketakutan

    Kalau mendengar ledakan keras
    Semua orang menjadi cemas
    Jantung berdetak sangat keras
    Tutup telinga jangan dilepas

    Ketika pemboman bertubi-tubi
    Telinga kanan dan kuping kiri
    Bisa pekak menjadi tuli
    Harus ditutup dengan jari

    Seperti cerita Pak Ogah
    Yang tak mau mengikuti perintah
    Gendang telinga menjadi pecah
    Untuk berkomunikasi menjadi susah

    VII. Tahun Pertama ketika Perang

    Tahun pertama ketika perang
    Tentara Pusat tak berani datang
    Nagari ditembak berulang-ulang
    Penduduk lari tunggang langgang

    Ibarat Israfil datang mendesir
    Lalu meledak seperti petir
    Bom pecah berbutir-butir
    Itulah meriam disebut Mortir


    Bom meledak serentak delapan
    Kiri, kanan, belakang depan
    Kampung Mandahiling jadi sasaran
    Mortir ditembakkan setiap pekan

    Batu dan tanah ikut beterbangan
    Membuat debu seperti pusaran
    Diri merasa sangat ketakutan
    Ingat Allah, minta perlindungan

    Walau bukan permintaan diri
    Takdir Tuhan berlaku pasti
    Terkena bom ada yang mati
    Ataupun luka di tangan kaki

    Sering tubuh telah hancur
    Darah di badan masih mengucur
    Orang yang mati segera dikubur
    Tanpa menunggu sanak sedulur

    Karena situasi siap siaga
    Mayat dikuburkan tergesa-gesa
    Kalau tembakan kembali bergema
    Jenazah ditinggal ntuk sementara

    Ketika negara dilanda pertikaian politik
    Masalahnya kompleks sangat pelik
    Rakyat terbelah tercabik cabik
    Generasi muda tetap dididik

    Dari pengalaman pelajaran sejarah
    Banyak orang hidupnya susah
    Nasib mereka tidak berubah
    Ketika remaja malas sekolah

    Untuk mengubah takdir nasib
    Menuntut ilmu sebaiknya wajib
    Ilmu nyata ataupun ilmu gaib
    Perlu dipelajari secara tertib

    Dalam suasana keadaan perang
    SMP-SMA Penampung didirikan di Sungayang
    Guru digaji tak dengan uang
    Mereka sukarela ikut menyumbang

    Pak Sjamwil dan Djamaan Azis
    Menyumbang tenaga dengan gratis
    Mengajar pemuda maupun gadis
    Mendidik karakter agar optimis

    VIII. Terdengar bunyi kenderaan dari jauh yang menimbulkan stres

    Walau bukan perbuatan sadis
    Tapi teror perang psikis
    Bermacam bentuk berbagai jenis
    Mengakibatkan stres ke luar pipis

    Inilah teror sangat ampuh
    Menciptakan suara dari jauh
    Orangpun ngeri ke luar peluh
    Hilang semua sifat angkuh

    Truk membawa para serdadu
    Dari jauh bunyi menderu
    Ibarat mendengar suara hantu
    Penduduk panik tidak menentu

    Ketika telepon jumlahnya sedikit
    Mencari informasi sangat sulit
    Belum tersedia komunikasi satelit
    Musuh berada di balik bukit

    Dari kejauhan terdengar bunyi
    Waktu senja ataupun pagi
    Setiap orang cari informasi
    Untuk bersiap ijok sembunyi

    Disebut orang sedang ijok
    Pergi sembunyi bersama kelompok
    Mencari lokasi yang agak cocok
    Di dalam rimba membangun pondok

    Ada fenomena sangat menarik
    Bunyi kenderaan menimbulkan panik
    Orang bicara satu topik
    Tentara Pusat bergerak mudik

    Waktu fajar masih tersuruk
    Tentara beroperasi menggunakan truk
    Mereka berdiri tiada yang duduk
    Di samping OPR sebagai penunjuk

    Saat menyusuri jalan tanjakan
    Truk merayap pelan pelan
    Menderu deru dari kejauhan
    Lalu disusul bunyi tembakan

    IX. Pesawat terbang menyerang Tanjung


    Tidak berjadwal dapat diduga
    Datang muncul tiba tiba
    Mungkin Jumat atau Selasa
    Setiap waktu harus waspada

    Suatu pagi dihari Jumat
    Di langit melayang dua pesawat
    Kapal terbang sangat cepat
    Terlihat jelas dari darat

    Pesawat digerakkan baling baling
    Dilengkapi mitraliur di badan samping
    Menyusuri lembah menghindari tebing
    Mencari sasaran yang dianggap penting

    Pesawat terbang setinggi kelapa
    Pilot kelihatan bertopi baja
    Target sasaran ditentukan mata mata
    Tampak jelas di atas peta

    mata mata = spion

    Kapal terbang bercocor merah
    Di bawah awan melayang rendah
    Suara mendengung seperti lebah
    Ketika menembak ibarat muntah

    Pesawat Mustang jenis pemburu
    Membawa senjata berisi peluru
    Ada sasaran hendak dituju
    Kantor Koterketj akan disapu

    Koterketj = Komando Teritorial Kecamatan milik PRRI

    Kantor menumpang di rumah Dt. Soda
    Di kampung Mandahiling sebelah utara
    Di situ tersimpan banyak senjata
    Diintai musuh sejak lama

    Pelurunya besar seempu kaki
    Bisa membakar mengeluarkan api
    Mengenai tubuh langsung mati
    Darah ke luar banyak sekali

    Bom dijatuhkan salah sasaran
    Menimpa rumah yang di depan
    Rumah hancur bak diterjang topan
    Atapnya terbang jatuh berserakan

    Agar operasi tak dianggap gagal
    Ketika perang bukan frontal
    Objek dipilih asal asal
    Banyak sasaran tidak dikenal

    Saat musuh tidak tampak
    Tempat rimbun langsung ditembak
    Peluru melesat tak mungkin ditolak
    Terkena pelor langsung tergeletak

    Banyak pohon di tepi sungai
    Di situ bersarang burung dan tupai
    Tempat sembunyi yang sangat disukai
    Dari pesawat sulit diintai

    Sudah takdir ketetapan Ilahi
    Meski tiarap di tempat sepi
    Adnan bergelar Malin Sati
    Terkena peluru langsung mati

    Saat penulis masih kecil
    Belum kuat menyandang bedil
    Ingin bertempur rasanya muskil
    Makanya tetap jadi orang sipil

    Dalam situasi keadaan panik
    Orang berlari hilir mudik
    Disertai tangis, diikuti pekik
    Bandar dicari walau ada cirik

    Tempat aman untuk sembunyi
    Di dalam bandar berisi tahi
    Jijik dan busuk tiada peduli
    Menunggu pesawat terbang pergi

    Tentara Pusat selalu menang
    Karena dibantu pesawat terbang
    Dari jauh kapal datang
    Tiada hambatan mampu menghalang

    X. Lubang perlindungan

    Dari subuh sampai petang
    Baik malam atau siang
    Anak cucu serta eyang
    Semua berlindung di dalam lubang

    Lubang digali untuk berlindung
    Setinggi tegak, sebatas hidung
    Lima orang bisa ditampung
    Di dalam lubang posisi mencangkung

    Inilah gaul sebenarnya gaul
    Takut dan gentar yang membuhul
    Di dalam lubang orang berkumpul
    Mendengar tembakan susul menyusul

    Tiada lagi perasaan optimis
    Suasana gembira telah habis
    Bayi dan anak terus menangis
    Dewasa kebelet ingin pipis

    Mungkin karena banyak teman
    Di dalam lubang terasa aman
    Hanya perut tak mau berkawan
    Karena seharian tidak makan

    Kalau terdengar ada tembakan
    Meski berjongkok di atas jamban
    Celana dipakai langsung dikenakan
    Mencari tempat lubang perlindungan

    XI. Perang kejam, rakyat yang jadi korban

    Perang saudara tidak manusiawi
    Kampung padat dibom artileri
    Rakyat tak bersalah ikut mati
    Meninggalkan dendam rasa benci


    Ketika Tanjung melawan Belanda
    Peristiwa terjadi di agresi kedua
    Musuh tidak gunakan pesawat udara
    Apalagi bom membabi buta

    Belanda memakai senjata ringan
    Untuk mencari pejuang kemerdekaan
    Gerilyawan tertangkap lalu dibebaskan
    Mereka dibujuk berhenti melawan

    Pemerintah Soekano lain lagi
    PRRI dianggap musuh negeri
    Harus dikikis segera dibasmi
    Bila perlu dibunuh mati

    Dengan senjata selalu dikokang
    Tentara naik ke rumah gadang
    Melihat lemari langsung ditendang
    Tiada orang sanggup melarang

    Memakai sepatu masuk rumah
    Tentara Pusat datang menggeledah
    Disertai bentakan marah marah
    Lemari terkunci langsung dipecah

    Pesawat radio penerima informasi
    Harus disimpan di hutan sepi
    Benda terlarang untuk dimiliki
    Dicari tentara ketika operasi

    Ganasnya tentara perintah Soekarno
    Kotak Gramophon mirip radio
    Langka jualannya di toko toko
    Kini dipecah oknum sembrono

    Kotak Gramophon benda antik
    Untuk mendengar rekaman musik
    Barang berharga hak milik
    Kini dipecah dicabik cabik

    Saat penduduk mencari nafkah
    Menangkap belut dengan lukah
    Jubek ditembak di pematang sawah
    Dia mati bersimbah darah

    Mak Jubek kepala keluarga
    Bukan parewa, tidak tentara
    Beliau hanya manusia biasa
    Orang sipil tak bersenjata

    Jubek dibunuh di tepi batang Kalano
    Oleh tentara dari Diponegoro
    Dibawah pimpinan kolonel Pranoto
    Militer ditugaskan rejim Soekarno

    Tahun 65 Pranoto terbukti
    Bersama Latif kawan seideologi
    Mendukung gestapu pemberontakan pki
    Lalu dikurung di dalam bui

    Walau tidak sedang bertempur
    Tentara menembak tanpa diatur
    Ke sekeliling kota peluru dihambur
    Banyak penduduk mati gugur

    Kak Nurma orang Melayu Atas
    Menjadi korban perang yang ganas
    Tiga beranak langsung tewas
    Ketika tidur terlelap pulas

    Saat tentara sedang kuatir
    Atau mungkin mabuk bir
    Meriam ditembakkan tanpa pikir
    Korban menerima itulah takdir

    Rusdi murid sekolah Rakyat
    Di dekat Balai pasar Jum'at
    Tangan terluka seperti disayat
    Terkena mortir tentara Pusat

    Ketika luka mengeluarkan darah
    Badan mengigil berkeringat basah
    Rusdi terjatuh lalu dipapah
    Kemudian ditidurkan di dalam rumah

    Diberi minuman kopi panas
    Air diteguk dua gelas
    Rusdi tertidur sangat pulas
    Karena tubuhnya sangat lemas

    Ketika Rusdi terbangun tidur
    Tanpa ada orang mengatur
    Banyak kawan datang menghibur
    Sambil bercakap saling bertutur

    Ketika membunuh tanpa dalih
    Menabur dendam ibarat benih
    Rasa perasaan tak bisa pulih
    Tak mungkin nyawa diganti pitih

    Korban perang tak pilih usia
    Dari bayi sampai manula
    Semua orang ikut menderita
    Inilah catatan cerita lama

    Mak Buyuang Mati syahid

    Buyuang berdangau di Tanah Sirah
    Di lereng bukit di atas lembah
    Di luar kampung, di tepi sawah
    Di situ dibangun sebuah rumah

    Tidak seperti bangunan moderen
    Berdinding bata dilapis semen
    Dangau Buyuang semipermanen
    Di dekat jalan milik kabupaten

    Walaupun hidup terkadang susah
    Buyung penyabar, jarang marah
    Kerjanya membajak mengolah sawah
    Kalau sore memasang Lukah

    Buyuang Bokiak bapaknya si Badu
    Menemukan benda yang masih baru
    Sebangsa bom sejenis peluru
    Granat dimasukkan ke kantong baju

    Seperti umumnya para petani
    Buyuang Bokiak tidak mengerti
    Bahaya besar sedang menanti
    Bisa meledak mengeluarkan api

    Ketika menemukan milik orang
    Buyuang tulus tiada bimbang
    Atau mengharap imbalan uang
    Malaikat Roqib mencatat senang

    Buyuang berjalan mencari tentara
    Ingin menyerahkan itu benda
    Malang tak mungkin dapat diduga
    Mujur bukan sekehendak kita

    Saat Buyaung sedang berjalan
    Di tanah licin sesudah hujan
    Tubuh terjatuh, sumbu tertekan
    Bom meledak hancurkan badan

    Granat meledak dalam genggaman
    Terdengar keras bunyi letusan
    Banyak orang segera berdatangan
    Ingin membantu memberi pertolongan

    Karena ledakan sangat dahsyat
    Buyuang tewas langsung di tempat
    Semoga almarhum diberi syafaat
    Karena beliau rajin solat

    Bukan wafat karena sakit
    Buyung digolongkan mati syahit
    Walau kerjanya hanya sedikit
    Mengembalikan Granat milik prajurit

    XII. Ijok

    Setiap pekan Tanjung ditembaki
    Dengan senjata meriam artileri
    Banyak penduduk menyelamatkan diri
    Ke dalam hutan mereka mengungsi


    Menempuh jalan berkelok kelok
    Belukar dirambah dengan golok
    Dangau dibangun seperti pondok
    Orang menyebut sebagai ijok

    Tempat ijok di dalam rimba
    Tidak seperti suasana kota
    Alamnya tenang ibrat surga
    Dihuni binatang berjenis margasatwa

    Bukit Mansalai, Lomba dan Talang
    Tempat bersarang beragam binatang
    Ada Rusa, Beruk dan Siamang
    Kini bertambah dihuni orang

    Dangau dibangun dilereng bukit
    Di samping pohon akar melilit
    Tiada tampak matahari terbit
    Susah terlihat dari langit

    Pohon besar pencegah erosi
    Pusaka kaum anak nagari
    Selalu dijaga sejak bahari
    Tak pernah ditebang atau digergaji

    Dangau tersembunyi tidak tampak
    Di kelilingi pohon banyak semak
    Dihuni keluarga anak-beranak
    Dengan tetangga Beruk dan Cigak

    Dibangun sendiri bukan ditender
    Luas berkisar 3 x 4 meter
    Tiangnya dipancang susah digeser
    Letak terpisah tidak berjejer

    Bukan seperti rumah di kota
    Berdinding kuat batu bata
    Dangau ditutup kayu rimba
    Ditudungi atap daun Kelapa

    Sering bocor di saat hujan
    Air menetes ke dalam ruangan
    Membasahi tubuh sebagian badan
    Badan menggigil karena kedinginan

    Begini kondisi keadaan sulit
    Orang berjualan sangat sedikit
    Celana baju selembar melilit
    Kalau sobek perlu dijahit

    Karena baju hanya selembar
    Telah kusam warnanya pudar
    Tiada pengganti, tak ada penukar
    Kini dilepas agak sebentar

    Baju dilepas lalu dipanasi
    Pakaian dihampai di dekat api
    Di atas rentangan seutas tali
    Setelah kering dipakai kembali

    Baju dihemat jarang dicuci
    Sering bersarang Tuma tersembunyi
    Kalau menggigit terasa geli
    Bisa timbulkan luka infeksi

    Luka infeksi atau terkena bisa
    Dapat timbulkan marabahaya
    Badan panas demam membara
    Lalu mengigau berkata kata

    Bila luka tertembak bedil
    Atau sakit demam menggigil
    Tiada mantri bisa dipanggil
    Pergi ke dokter sangat mustahil

    Rumah sakit untuk rakyat
    Sarana kesehatan tempat berobat
    Letaknya di kota tentara Pusat
    Tak mungkin didatangi walau sesaat

    Ada senangnya di tempat ijok
    Subuh dibangunkan ayam berkokok
    Ditingkahi suara bunyi Kodok
    Uadaranya bersih sangat cocok

    Suasana ijok ketika perang
    Seperti outbound jaman sekarang
    Ijok tidak perlu pakai uang
    Outbound ladangnya para pedagang

    XIII. Tentara Pusat menduduki nagari Tanjung

    Supaya perang tidak mulus
    Jalan ke Pato tak boleh tembus
    Titian di Tanjung harus diputus
    Kenderaan militer tak bisa terus

    Bulan Desember tahun enam puluh
    Pusat datang laksana guruh
    Mobil konvoi berpuluh puluh
    Pertahanan Marapalam telah jatuh

    Pato dimasuki di sisi belakang
    Dari Lintau musuh datang
    Lalu turun ke Tanjung Sungayang
    Di batang Selo konvoi terhalang

    Truk berhenti berderet deret
    Kenderaan diparkir agak mepet
    Lalu terdengar tembakan berentet
    Semua makhluk menjadi kaget

    Kenderaan berhenti banyak sekali
    Penumpangnya melompat berlari lari
    Ada yang tiarap di tempat sembunyi
    Mereka menembak kian kemari

    Bedil diarahkan menuju bukit
    Ditingkahi letusan bunyi dinamit
    Mendengar letusan tidak sedikit
    Orang yang kaget jatuh sakit

    Di tepi batang Kalano konvoi terhenti
    Membuat jembatan untuk meniti
    Kerambil ditebang tak diganti rugi
    Pohon dipotong lalu digergaji

    Untuk menyeberang Selo Tongah
    Jalan terhalang lapau Mak Angah
    Tentara mengambil jalan yang mudah
    Kedai dibakar sampai musnah

    Pemilik memohon bibir bergetar
    Agar kedainya tidak dibakar
    Tapi tentara tak mau dengar
    Akhirnya Mak Angah kena tampar

    Ini pesan Soekarno cs
    Kalau tak ingin bernasib apes
    Rakyat jangan lakukan protes
    Harus diam seperti bola kempes

    Ke dalam rimba PRRI menyuruk
    Lalu OPR segera dibentuk
    Wali nagari langsung ditunjuk
    Dia bernama Abdul Muluk

    Abdul Muluk aktivis partai
    Sehari hari jualan di kedai
    Dia termasuk orang yang pandai
    Dengan penduduk Muluk berdamai

    Kepada partai Muluk patuh
    Memerangi PRRI sampai luluh
    Dia tidak sembarang tuduh
    Hanya sedikit korban yang jatuh

    OPR akronim dari kalimat
    Artinya: Organisasi Perlawanan Rakyat
    Anggotanya preman dibayar Pusat
    Menerima upah setiap Jum at

    Dalam nagari di kecamatan Sungayang
    OPR didaftarkan 30 orang
    Diberi seragam dan senapang
    Lalu dilatih pagi dan petang

    Karena politik dijadikan pengulu
    Dipakai kebijaksanaan belah bambu
    Rakyat disiapkan untuk diadu
    OPR dipilih dari partai tertentu

    Para Ulama dan pangulu Adat
    Pemimpin kaum dalam masyarakat
    Mereka ditangkap tanpa diikat
    Beberapa namanya masih teringat

    Tantawi Dt. Indo Maradjo
    Mardjohan Malin Sampono
    Adnan Dt. Pono
    Makruf Dt. Maradjo

    Balai balai Adat di Pakan Senayan
    Tempat niniak mamak bersembah ucapan
    Guna menyatukan anak kemenakan
    Kini berubah menjadi rumah tahanan

    Rumah Tahanan sangat istimewa
    Tiada makanan yang ada tersedia
    Ransum diantar sanak keluarga
    OPR mengawasi dengan curiga

    XIV. Pertahanan tentara di puncak bukit

    Pertahanan dibuat di puncak bukit
    Pandangan luas ke kaki langit
    Posisi PRRI menjadi sulit
    Masuk kampung langsung dikuntit

    Supaya PRRI tidak menerobos
    Penjagaan dibuat bagaikan poros
    Di bukit Tangah didirikan pos
    Membutuhkan biaya serta ongkos

    Di puncak bukit Kayu Sebatang
    Tempat keramat Tanjung Sungayang
    Ada luak airnya tenang
    Orang berziarah banyak yang datang

    Tempat keramat kuburannya wali
    Lingkungan tenang suasana sunyi
    Ketika berdoa kepada Ilahi
    Memohon selamat penduduk nagari

    Kondisi berubah bertolak belakang
    Kayu di puncak segera ditebang
    Tempat keramat langsung dibuang
    Orang berziarah juga dilarang

    Merasa kuat ibarat banteng
    Adat nagari dianggap enteng
    Tempat keramat dijadikan benteng
    Penduduk melihat geleng geleng

    Ini peristiwa di puncak Simbatak
    Pekan Ahad sedang sesak
    Ke arah pasar tentara menembak
    Banyak yang mati bapak dan anak

    Karena peristiwa dibuat kelam
    Penulis ingatkan dengan gurindam
    Perbuatan tentara melanggar HAM
    Biasanya PBB tak mau diam

    XV. Tanjung dipagari betung

    Untuk menghalangi PRRI masuk kampung
    Nagari dipagari dengan betung
    Pagar dibuat sambung menyambung
    Dari Bakoreh sampai ke Sawah Tanggung

    Penduduk dikerahkan dengan dipaksa
    Membangun pagar tanpa gapura
    Dibalik pagar OPR berjaga
    Siap menembak pakai senjata

    Di dalam kampung OPR berpatroli
    Mencari musuh simpatisan PRRI
    Termasuk pula anggota Masyumi
    Ke mana pergi selalu diawasi

    Yang dicurigai langsung ditangkap
    Kepada wali disuruh menghadap
    Kalau ditanya jangan salah ucap
    Setiap jawaban harus mantap

    Bukan mencegah Setan Hantu
    Tapi instruksi para serdadu
    Depan rumah harus berlampu
    Lentera digantung di tiang bambu

    Jika malam gelap gulita
    Aliran listrik belum sedia
    Tanpa penerangan dianggap berbahaya
    Tentara menyuruh memasang lentera

    Ketika hari telah kelam
    Memakai pakaian serba hitam
    Mengunjungi dunsanak ketika malam
    Mereka merangkak diam diam

    Walau dipagar disekeliling Tanjung
    Gerilyawan leluasa masuk kampung
    Mereka dibantu kalau terkepung
    Ada yang disembunyikan di dalam lumbung

    Di lumbung padi Mansur disembunyikan
    Menunggu malam pukul sembilan
    Untuk kembali masuk hutan
    Membawa persediaan bahan makanan

    Bukan mencari salah dan benar
    Ketika bercerita tentang Mak Juar
    Tubuh tergeletak mati terkapar
    Karena perselisihan orang pintar

    Orang pintar kalau tak bermoral
    Sering berpidato sambil membual
    Korbannya rakyat tertimpa sial
    Yang kurang paham masalah awal

    Sebagai OPR pembantu tentara
    Setiap malam si Juar meronda
    Keliling kampung berjaga jaga
    Senjata ditangan siap siaga

    Ketika menyenter semak semak
    Karena ada yang bergerak gerak
    Terdengar suara orang membentak
    Mak Juar langsung sasaran tembak

    Dekat pagar ranjau dipasang
    Besi dan bambu bercabang cabang
    Ujungnya tajam tidak kepalang
    Ibarat ujung mata pedang

    Karena si Zubir kurang awas
    Menanam ranjau bergegas gegas
    Kakinya terluka di paha atas
    Mengeluarkan darah ke luar deras

    Bajunya sobek celananya bolong
    Dia kesakitan melolong lolong
    Orang sekampung datang menolong
    Tubuhnya diangkat lalu digotong

    Inilah kenangan saudara Marhamis
    Dia ditangkap malam Kemis
    Karena dicurigai anti Komunis
    Lalu diinterogasi pertanyaan sinis

    Marhamis berupaya cari selamat
    Kejadiaan dilaporkan ke tentera Pusat
    OPR bertindak telah sesat
    Marhamis bebas tak jadi diikat

    Ke luar kampung dia menghindar
    Pergi sembunyi ke Batusangkar
    Lalu Marhamis membuat nazar
    Niat beliau tak bisa diradar

    XVI. Latihan pelaksanaan kekejaman di Tanjuang

    Ini peringatan perlu ditulis
    Kalau militer disusupi komunis
    Muncul tindakan yang sangat sadis
    Membunuh musuh secara bengis

    Berita resmi diumumkan pemerintah
    Dokumen dicatat dalam sejarah
    Kaum Komunis berbuat ulah
    Melakukan kudeta berdarah darah

    Berita besar dari Lubang Buaya
    30 September tahun 65
    Ketika Komunis melawan negara
    Prajurit membunuh jenderal mereka

    Berpakaian lengkap mengenakan baret
    Jenderal dikeroyok ibarat copet
    Lalu disiksa diiris silet
    Disaksikan Gerwani berjoget joget

    Karena jenderal mati disiksa
    Suharto marah luar biasa
    Segera diumumkan ke pelosok negara
    Komunis kejam tiada tara

    Rakyat mengamuk kepada PKI
    Anggota partai lalu dicari
    Mereka dikejar ke pelosok negeri
    Yang tertangkap lalu dibui

    Perlu melihat contoh ke belakang
    Ketika nagari terlibat perang
    Apa yang terjadi di Tanjuang Sungayang
    Oknum berlatih menyiksa orang

    Ibarat catatan buku putih
    Di Tanjung PKI mulai berlatih
    Membunuh, menyiksa serta menyembelih
    Meneror manusia menebar sedih


    Latihan di Tanjung kelak dipraktekkan
    Berbuat kejam mengikuti setan
    Jenderal dibunuh secara mengerikan
    Ke dalam sumur tubuh dibenamkan

    Kincir padi di kampuang Batunjam
    Di tepi jalan menuju Marapalam
    Di kaki bukit tebing yang curam
    Di situ terjadi pembunuhan kejam

    Kejadiaannya ngeri luar biasa
    TP ditangkap lalu dianiaya
    Lehernya digorok dengan pisau baja
    Perbuatan setan berujud manusia

    Rakyat ketakutan bukan main
    Ada tentara tidak disiplin
    Menjadi pembunuh berdarah dingin
    Seperti gerombolan tanpa pemimpin


    Senja hari ketika pembunuhan
    Gagak berkaok ikut memberitahukan 4
    Ada iblis sedang berkeliaran
    Di nagari Tanjung menebar kengerian

    Saat penggorokan sedang berlangsung
    Isyarat disampaikan oleh burung
    Gagak terbang berkeliling kampung
    Memberi tahu orang Tanjung

    Gagak hitam berkaok kaok
    Diselingi Jago ikut berkokok
    Ada manusia sedang digorok
    Memakai pisau sejenis golok

    XVII. Tiada permusuhan sesudah perang

    Seorang bintara bernama Sudjono
    Dia tentara Divisi Diponegoro
    Tugas ke Batusangkar diperintah Soekarno
    Pergi berperang penuh resiko

    Instruksi Soekarno membasmi PRRI
    Orang Tanjung ikut diperangi
    Sudjono termasuk bagian infantri
    Dulu ke Tanjung pergi operasi

    Di Batusangkar Sudjono bertugas
    Bersenjata bedil panjang laras
    Keluarga ditinggal selalu cemas
    Mereka berdoa kepada yang di Atas

    Kepada Allah anak berdoa
    Agar selamat pulang ke Sokaraja
    Berkumpul kembali bersama keluarga
    Mendidik perempuan anak pertama

    Walau Sudjono tentara Pusat
    Dia berpihak kepada rakyat
    Sembahyang di mesjid setiap Jum-at
    Di situ terjadi tangan berjabat

    Saat perang sedang terjadi
    Sudjono berpangkat bintara APRI
    Dianggap musuh anak nagari
    Jangan ditemui, perlu dihindari

    Karena diatur Tuhan Robbana
    Musuh akhirnya jadi keluarga
    Orang Tanjung nikah di Jawa
    Putri Sudjono menjadi isterinya

    Anak pertama perempuan sulung
    Setelah kawin pergi ke Tanjung
    Ikut suami melihat kampung
    Kini silaturahmi datang berkunjung

    Datang berkunjung ke sanak saudara
    Mungkin maaf yang diminta
    Saat ayah jadi tentara
    Melaksanakan tugas perintah perwira

    Ketika perang telah berlalu
    Anak Sudjono diambil menantu
    Tiada permusuhan antar suku
    Walau APRI telah keliru

    Kelak terbukti tahun enam lima
    Jenderal dibunuh saat kudeta
    Mungkin Soekarno ikut merencana
    Begitu tertulis dalam berita

    Bukan pendapat dari pengarang
    Tapi bukti yang sangat terang
    APRI diperintah untuk berperang
    Ketika Soekarno mabuk kepayang

    Karena ini masalah politik
    Supaya tak muncul debat polemik
    Ada petuah orang cerdik
    Forgive, but dont forget it

    XVIII. Perang sebenar-benarnya perang


    Inilah perang sebenarnya perang
    Melawan globalisasi kaum pedagang
    Bila kalah menjadi wayang
    Hidup diatur oleh Ki Dalang

    Kaum dagang bernama kapitalis
    Tentara Ki Dalang disebut selebritis
    Arah kiblat Hollywood dan Paris
    Ucapan sahadat:  Ikuti modis


    Kalau dinasehati tidak patuh
    Ibarat penyakit tak akan sembuh

    Sepanjang hari selalu mengeluh
    Itulah cerdik membawa runtuh

    Air di sungai, telah menyusut
    Tinggi permukaan di bawah lutut
    Dipakai mandi tak lagi patut
    Istilah "tapian" jarang disebut

    Kini nagari sudah berubah
    Perang saudara selesai sudah
    Rejim Soekarno mengaku kalah
    Ambil pelajaran dari sejarah

    Bila melupakan adat filosofi
    Kiamat sugro pasti terjadi
    Bumi senang padi menjadi
    Jadikan acuan sepanjang hari

    Beginilah suasana di Tanjung Sungayang
    Hidup bertani sangatlah senang
    Saat manusia belum dikejar barang
    Tiada kolektor menagih utang

    Bak mitraliur ditembakkan ke nagari
    Perlengkapan dipromosikan para selebriti
    Disertai gosip petang dan pagi
    Supaya barang segera dibeli

    Lingkungan hidup bisa rusak
    Ketika orang menangkap Landak
    Walau bukan binatang ternak
    Satwa bermanfaat mengurangi katak

    Tidak layak karena nasi sepiring
    Kalau petani memburu Tenggiling
    Siklus kehidupan dia gunting
    Karena satwa sangat penting


    Kekayaan alam tak ternilai
    Seperti unggas burung Punai
    Bisa bersiul seperti serunai
    Tidak pantas untuk digulai

    Hutan dan rimba harus dijaga
    Bila digadaikan ke orang kota
    Dijadikan lokasi tujuan wisata
    Tempat maksiat berhura hura

    Kalau mencontoh kepada yang sudah
    Lokasi wisata maju meriah
    Daerah Puncak bisa ditelaah
    Di situ boleh kawin mut ah


    Melihat tuah kepada nan menang
    Pulau Bali contoh yang terang
    Ribuan turis lalu lalang
    Bercelana kotok ber bh kutang

    Bumi dijajah orang orang cerdik
    Memakai perantara produksi pabrik
    Seperti jualan industri musik
    Yang membeli kehilangan milik

    Begini strategi pemodal kapitalis
    Untuk meningkatkan jualan bisnis
    Mereka menciptakan para selebritis
    Guna membujuk bujang dan gadis

    Ketika bodoh sangat terlalu
    Karena jarang membaca buku
    Bujang dan gadis sering tertipu
    Dagangan racun, disangka madu

    Seperti iklan promosi rokok
    Sering ditempel di dinding tembok
    Ada peringatan membahayakan orok
    Hanya dijadikan bahan olok olok


    Kerja besar yang harus dimulai
    Mengumpulkan uang beramai-ramai
    Mendidik kemenakan diajar pandai
    Sarjana bermutu siap pakai


    Isu global pemanasan bumi
    Perlu ditanggapi anak nagari
    Kalau kayu sering dicuri
    Neraka di dunia akan terjadi

    Ninik mamak harus berunding
    Ada peringatan yang sangat penting
    Kondisi berada di lampu kuning
    Boncah dan sumur telah kering

    Ingatlah sumpah nenek moyang
    Pabila anak cucu tidak sembahyang
    Lupa adat, hilang Minang
    Ke bawah tidak berurat
    Ke atas tidak berpucuk
    Di tengah-tengah digirik kumbang

    1 T.P = Tentara Pelajar
    2 L.E = Lee Enfield, sejenis bedil digunakan dalam P.D 2
    3 ber ere-ere (MK) tidak serius
    4 Di tempat-tempat yang belum terpolusi, dan air hexagonal atau (minang masih banyak tersimpan di perut bumi), maka alam akan cepat bereaksi memberi tanda-tanda.
    Di tempat tsb. komunikasi makhluk hidup lainnya dengan manusia dapat dilihat/terjadi secara langsung.
    Sebagai contoh, burung gagak akan memberi tanda-tanda kematian, ayam Jago berkokok dan anjing meraung-raung di malam hari menandakan kampung dikotori.
    Ujung-ujung pelangi muncul dari sumur-sumur alam.
    Selanjutnya Harimau tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah, dan petir hanya akan menyambar tempat penyimpanan racun atau kuburan orang yang zalim ketika hidupnya.
    Inilah tanda-tanda/kekuatan alam nan hidup yang bersumber dari adanya air asli di bumi seperti yang dibuktikan dengan penelitian kristal air oleh DR. Masaru Emoto.
    Sebagai anak nagari, sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap menjaga minang.




    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH ||
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px