|
|||||||||||||
Telah dibaca oleh: 4983 orang.Kemiskinan di nagariDikarang oleh : DR. Saafroedin BaharOleh: DR. Saafroedin Bahar Makalah lengkap sebagai bahan diskusi pada teleconference antara UI dgn UNP. tg. 28 Nopember 2007 Dihadiri oleh para walinagari/Sekr. ngr., Dekan FT. mewakili Rektor UI, Rektor UNP, Gubernur Sumbar, pengurus Gebu Minang Jkt, Imami Jkt, Permato Plg dan DR. Mestika Zed/PKSBE UNP Dalam penglihatan saya, ada dua hal yang menjadi agenda pembicaraan kita hari ini, yaitu 1) Potensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam memajukan ekonomi nagari di Sumatera Barat. Saya kira tidak ada seorangpun di antara kita yang akan menolak, bahwa TIK mempunyai potensi untuk memajukan ekonomi di daerah Sumatera Barat. Dengan memanfaatkan TIK secara cerdas – yang dewasa ini demikian mudah untuk dikuasai oleh karena disainnya yang user-friendly, bersahabat dengan para pengguna – maka masyarakat nagari bisa mengetahui dengan cepat dan mudah berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat serta peluang ekonomi yang terbuka untuk dimanfaatkannya. Para petani serta penduduk desa dengan mudah dan cepat dapat mengetahui berbagai masalah pendidikan, kesehatan, serta harga komiditi di berbagai pasar, bukan hanya di Tanah Air, tetapi juga di seluruh dunia. Menurut penglihatan saya, nagari-nagari di kabupaten-kabupaten di Sumatera Barat sungguh-sungguh memerlukan pembangunan ekonomi, jauh lebih serius dari kebutuhan pembangunan ekonomi di kota-kota yang banyak sedikitnya sudah setingkat dengan rata-rata nasional. Kesimpulan tersebut dapat dilihat dari angka-angka Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index, HDI) 2006 yang disajikan oleh Sdr Wahyu Handoyo . Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat Sumatera Barat yang berdiam di nagari-nagari -- jadi di daerah kabupaten -- jauh di bawah taraf hidup dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berdiam di kota-kota Sumatera Barat. Baik dunia pada umumnya maupun Republik Indonesia pada khususnya, untuk satu windu ke depan bertekad untuk mewujudkan delapan program yang tercantum dalam Sasaran Pembangunan Milenium 2015 (Millenium Development Goals 2015), yaitu: melenyapkan kemiskinan dan kelaparan absolut; menjamin pendidikan dasar secara universal; mendorong kesetaraan jender dan memberdayakan kaum perempuan; mengurangi tingkat kematian anak; memperbaiki kesehatan ibu; memerangi penyakit HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; menjamin kelesatian lingkungan;dan mengembangkan kerjasama sedunia untuk pembangunan. Ketersediaan TIK jelas akan mendorong terwujudnya Sasaran Pembangunan Milenium itu.
Masalah selanjutnya yang perlu kita bahas adalah: kesiapan masyarakat nagari serta pemerintah daerah untuk memanfaatkan TIK ini untuk memajukan nagari-nagari di Sumatera Barat. Bagaimana keadaannya pada saat ini tercantum dalam halaman 2 Term of Reference Workshop ini, yang menyatakan: “Namun sungguh ironis, bahwa hingga 5 tahun sejak diluncurkan, komunitas nagari belum terlibat secara aktif dalam mengelola data web mereka. Ringkasnya, program ini sudah berjalan dan disediakan selama lima tahun sampai saat ini, tetapi belum banyak kemajuan yang dicapai.
Secara pribadi saya sangat menghargai prakarsa Lembaga Kekerabatan Datuk Soda – baik pada tahun 2002 maupun dalam tahun 2007 ini – dan berharap sungguh-sungguh agar program ini berhasil baik. Saya percaya bahwa berhasil tidaknya program CIS ini dalam tahun-tahun mendatang banyak bergantung pada keberhasilan upaya kita untuk memahami dan mengatasi akar masalah kecilnya minat komunitas nagari serta Pemerintah Daerah Tingkat II terhadap TIK ini. Menurut penglihatan saya, kurangnya minat tersebut antara lain dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut.
1. Belum banyak yang mengetahui adanya kemudahan CIS yang ditawarkan oleh Lembaga Kekerabatan Datuk Soda sejak tahun 2002.
2. Belum tersedianya sarana serta tenaga teknis yang mampu mengoperasikan TIK di tingkat nagari.
3. Belum banyak yang memahami kegunaan fasillitas TIK yang ada untuk memajukan taraf hidup penduduk.
4. Merasa sudah puas dengan keadaan sekarang ini, yang bisa disebabkan oleh karena tidak adanya keinginan untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik lagi, atau oleh karena bantuan dari para sanak saudara yang merantau dirasakan sudah memadai.
5. Merasa khawatir bahwa ketersediaan fasilitas TIK dapat menggoyahkan moral masyarakat.
Ada suatu hal yang perlu saya mohonkan perhatian kita sekalian, yaitu risiko yang bisa timbul dari keterbukaan yang akan mengiringi penggunaan TIK ini. Masalahnya bukanlah apa nagari-nagari akan kita buka untuk pengaruh global atau tidak, oleh karena pada saat inipun nagari-nagari sudah mengalami pengaruh tersebut, melalui video CD, melalui apa yang disebut sebagai ‘organ tunggal’, melalui kunjungan para warga nagari ke rantau, melalui para perantau yang sekali setahun pulang kampung, melalui demikian banyak media massa, baik media nasional maupun media lokal, atau melalui siaran televisi.
Masalah kita sekarang adalah bagaimana mempersiapkan masyarakat nagari agar pada suatu sisi mampu memanfaatkan peluang yang terbuka untuk memajukan ekonomi penduduk, dan pada sisi yang lain bagaimana memelihara warisan sejarah serta ciri khas budaya Minangkabau terhadap pengaruh-pengaruh yang merusak.
Langsung atau tidak langsung, jawaban terhadap masalah ini akan terkait dengan sistem nilai sosial serta struktur masyarakat nagari-nagari sendiri.
Dengan demikian, dapat kita bayangkan bahwa pada dasarnya nagari-nagari menghadapi peluang dan ancaman globalisi yang merupakan kekuatan besar ini secara sendiri-sendiri saja. Agar dapat mengambil manfaat serta mengatasi ancamannya secara bersama-sama, izinkan saya menyarankan agar dikembangkan sistem nilai sosial dan struktur masyarakat supra nagari yang pada suatu sisi mampu memanfaatkan peluang yang terbuka secara optimal, pada sisi lain mampu memelihara esensi terbaik dari jati diri Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Wallahua’lam bissawab. |
|||||||||||||
|
Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.org This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px |