I. Pembuka kata
Ini syair tentang PRRI
Di Indonesia peristiwa terjadi
Vox Populi Vox Dei
Perjuangan menegakkan demokrasi
Kisah ditulis berbentuk syair
Diisi data yang mungkin sumir
Boleh diartikan berbeda tafsir
Karena manusia bebas berpikir
Kaba dan syair budaya kita
Gunanya mengisi ranah Rasa
Bukannya dongeng tanpa fakta
Ataupun bualan yang bersifat dusta
Agar manusia menjadi orang
Rasa dan Periksa harus seimbang
Itulah inti adat Minang
Kualitas kuantitas jangan kurang
Syair tidak gantinya sejarah
Sejarah dikarang sarjana berijazah
Gurindam syair penghilang susah
Kalimatnya ada yang bagarah garah
Puji dan syukur untuk Ilahi Rabbi
Salawat dan salam kepada nabi
Kita ucapkan setiap hari
Agar selamat di akhirat nanti
Maaf diminta kepada yang ahli
Kalau salah menulis nanti
Itulah kekurangan diri kami
Para penulis syair ini
Ia. Kehendak Allah yang terjadi
Ambil hikmah oleh anak kemenakan
15 Februari tahun 58
Hari penting jangan dilupakan
Karena kita tegak di depan
Moyang kita punya petuah
Raja alim, raja disembah
Raja zalim, raja disanggah
Harus adil kalau memerintah
Mungkin Allah punya kehendak
Supaya bangsa tidak jadi budak
Kita di depan harus tegak
Membuang batil, menjaga hak
Achmad Husein pernah berpidato
PRRI bukan perjuangan sembrono
Minang Kabau berani tanggung resiko
Melawan kezaliman rejim Soekarno
Inilah sifat pemuda Mukmin
Mereka menunda hasrat kawin
Untuk mengikuti seruan pemimpin
Serta berjuang karena yakin
Karena yakin mereka berjuang
Dari rantau banyak yang pulang
Untuk serta ikut berperang
Baik gadis maupun bujang
II. Ingatan kolektif orang Minang
Walau tidak kenal menyerah
Ketika berperang bermodal darah
Tiga perang Minang kalah
Bisa dipelajari diambil hikmah
Saat perlawanan dimotivasi budaya
Perang Padri peristiwa pertama
Silungkang, Kamang, Manggopoh yang kedua
PRRI perang yang ketiga
Kejadiaannya disebut perang saudara
Karena memakai lambang yang sama
Negara tetap berazas Pancasila
Hanya pusatnya tidak di Jakarta
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia
Yang diumumkan ke seluruh dunia
Peristiwa diliput berbagai media
Berita didengar sampai Rusia
Tahun enam puluhan peristiwa terjadi
Karena belum dicatat secara rapi
Orangpun acuh kurang peduli
Kejadian penting di dalam negeri
Anak cucu perlu tahu
Peristiwa bersejarah di masa lalu
Kita berkisah tak usah malu
Bukan larangan pekerjaan tabu

Ideologi utama presiden Soekarno
Dengan Komunis harus berkonco
Pesan disampaikan di setiap pidato
Yang menolak kena buso
Akibat partai yang berpecah pecah
Timbul peristiwa yang tidak lumrah
Anak nagari jadi terbelah
Laki dan bini bisa berpisah
Ingatan kolektif orang Minang
Baik gadis maupun bujang
Kampungnya pernah terlibat perang
Dengan Pusat yang tidak seimbang
Pengalaman yang lalu perlu diingat
Bersatunya pemimpin dengan rakyat
Menghadapi perang yang lebih hebat
Kini terjadi di semua tempat
Melawan globalisasi kaum pedagang
Adalah perang yang sebenarnya perang
Inilah perintah nenek moyang
Agar waspada malam dan siang
Cupak diganti orang manggaleh
Walau kedengarannya agak aneh
Bukan petuah yang menyeleneh
Atau pesan yang dianggap remeh
III. Dwitunggal Soekarno-Hatta
Adalah Dwitunggal pemimpin Indonesia
Soekarno Hatta saling bersetia
Cita cita mereka sangat mulia
Menjadikan bangsa dikenal dunia
Walau keduanya sama cerdik
Soekarno dan Hatta berbeda genetik
Bung Karno maniak kekuasaan politik
Hatta berprilaku mamak pendidik
Karena berbeda di dalam visi
Hatta sukarela menarik diri
Dari jabatan memerintah negeri
Biarlah Soekarno berkuasa sendiri
Itulah jaman penuh horor
Saat presiden jadi diktator
Kalau tak setuju langsung diteror
Mereka dituduh sebagai provokator
Ketika perang dingin sedang berlangsung
Bung Karno membuat poros penting
Jakarta, Phnomphen, Pyongyang dan Beijing
Poros ditunggangi bahaya kuning
Kalau dilihat filosofi budaya
Asal muasal memang berbeda
Luhak ber pengulu, Rantau ber raja
Soekarno memerintah bak raja Jawa
Meniru raja di jaman kuno
Demokrasi terpimpin ciptaan Soekarno
Demokrasi Pancasila buatan Suharto
Ujudnya kawulo menanggung resiko
Ketika raja mengatur negeri
Kawula identik dengan kuli
Undang-undang dibuat seorang diri
Supaya tahta tetap berdiri
Di dalam sistem model kerajaan
Kawula hidup dalam kemiskinan
Harta ditumpuk berjumlah trilyunan
Untuk anak cucu tujuh turunan
Bila Anda belajar demokrasi
Lihatlah pengulu saat berdiskusi
Tidak memaksakan kehendak sendiri
Minta pertimbangan kanan dan kiri
Bukan seperti orang berdebat
Kanan dan kiri diminta pendapat
Mereka dianggap sebagai sahabat
Semua keputusan hasil mufakat
IV. Rejim yang memerintah telah sesat
Dua tuntutan perjuangan PRRI
Nota dibuat secara resmi
PKI jangan dijadikan kanti
Saat presiden memerintah negeri
Alasan pertama daerah bergolak
Anggota PKI bertambah banyak
Jika dibiarkan bisa merusak
Panca Sila mereka rombak
Tuntutan kedua yang dicatat sejarah
Berikan otonomi kepada daerah
Agar masyarakat tak merasa diperah
Oleh Pusat secara serakah
Rezim Soekarno telah sesat
Membagi dana tidak tepat
Semua kekayaan ditumpuk di Pusat
Otonomi Daerah dituduh berkhianat
Otonomi Daerah yang diminta
Kekayaan negeri dibagi rata
Uang tak hanya ditumpuk di Jakarta
Dipakai untuk pesta pora
V. Kemenangan pertama tidak menunggu lama
Sejak PRRI ke luar rimba
Ini ujud kemenangan pertama
Hasil perjuangan tak menunggu lama
Patut disyukuri kita bersama
Tahun sembilan belas enam enam
Komunis lenyap bagai dibenam
Banyak orang melampiaskan dendam
PKI hilang malam malam
Allah berkehendak tiada mustahil
Karena Tuhan bersifat adil
PKI dibubarkan dibuat nihil
Pimpinannya dibuang ke pulau terpencil
Suara rakyat suara Tuhan
Perintah MPRS tahun enam delapan
Soekarno dipecat lalu diberhentikan
Menunggu sidang untuk dipenjarakan
Laksana juara kehilangan tuah
Tiada lagi orang menyembah
Dia dikenakan tahanan rumah
Badan diri menanggung ulah
Untung ada isteri yang setia
Walau bukan orang Indonesia
Mereka dikenalkan ketika pesta
Kabarnya dia bekas geisya
Ratna Sari Dewi nama isteri
Dewi berasal dari luar negeri
Sangat rajin bersolek diri
Cantik nian bak bidadari
Isteri yang lain juga ada
Soekarno berpoligami bak raja Jawa
Ada yang tinggal di kota Jakarta
Semuanya cantik dan muda belia
VI. 40 tahun kemudian kemenangan kedua
Walau menunggu 40 tahunan
Setelah PRRI ke luar hutan
Sembilan belas sembilan puluh delapan
Kemenangan kedua baru kelihatan
Semangat berjuang tak pernah susut
Otonomi Daerah berhasil direbut
Rakyat Indonesia gembira menyambut
Pemerintah Pusat bertekuk lutut
Kemenangan perjuangan tak perlu dipestakan
Kekalahan bertempur memang ingatan
PRRI dipaksa untuk melawan
Peristiwa ini menjadi pelajaran
VII. Kalah dalam pertempuran, cakak nan tak seimbang
Supaya dunia tetap seimbang
Ini peribahasa orang Minang
Adat juara kalah dan menang
Membaca sejarah janganlah gamang
Bukti diri orang mulia
Bukan termasuk golongan paria
Terhadap sejarah selalu setia
Menang dan kalah permainan dunia
Kalah bertempur bukanlah cemo
Ini hanya suatu resiko
Ibarat atlit bertanding sumo
Awak kurus lawan seratus kilo
Kalah ide itulah nan bedo
Orang menyebut buruk cando
Begitulah nasib ideologi Soekarno
Laku hanya dalam pidato
Dalam pidato Soekarno berteori
Pidato diteriakkan petang dan pagi
Rakyat dilarang komunisto phobi
Inilah yang ditentang oleh PRRI
PRRI kalah dalam pertempuran
Dapat dianalisa, bisa dijelaskan
Saat perang tanpa persiapan
Ibarat petinju tidak latihan
Tehnik pertandingan tidak dikenal
Lawan yang dihadapi sangat handal
Pukulannya keras walaupun kidal
Awak amatir belum profesional
Tentara PRRI muda mentah
Kebanyakan mereka pelajar sekolah
Atau mahasiswa meningalkan kuliah
Hanya dilatih sebulan setengah
Termasuk yang pulang dari Jawa
Jumlahnya 400 para mahasiswa
Bergabung PRRI secara sukarela
Pena diganti dengan senjata
Ada juga parewa kampung
Buta huruf tak bisa berhitung
Diberi perintah dia tersinggung
Maunya bebas ibarat burung
Tanpa disiplin seperti tentara
Ke tempat musuh sendiri saja
Sering menyusup ke dalam kota
Dia bisa merusak citra
Senjata PRRI lebih moderen
Dari Bazoka sampai Bren
Dilengkapi LMG serta Sten
Nilainya sepuluh kalau diponten
Ini contoh perlu diteladani
Oleh pemuda masa kini
Tidak bersikap seperti banci
Punya martabat harga diri
Walau tubuh ada yang kurang
Komandan peleton kompi Singgalang
Saat bermarkas di Tanjung Sungayang
Sangat yakin ketika berperang
Walau hanya bertangan satu
Bantuan anak buah belum perlu
Ketika senjata diisi peluru
Sten dijepit sambil dipangku
Dia setia mengikuti sumpah
Tiada hambatan membuat susah
Meskipun tangan tinggal sebelah
Memimpin pasukan dengan gagah
Untuk orang yang sebenarnya orang
Cacat tubuh bukan halangan
Ketika ikut dalam perjuangan
Tegak di depan memimpin perang
Perlengkapan diselundupkan oleh CIA
Amerika membantu ibarat keluarga
Untuk menghadapi musuh bersama
Bahaya Komunis dari utara
Jadi prajurit, menjadi tentara
Pilihan hidup suka suka
Semua profesi sangat berguna
Termasuk algojo pemenggal kepala
Ini tidak pantas dilakukan
Pemimpin negeri bergaya komandan
Presiden Soekarno pernah lakukan
Demokrasi terpimpin dia katakan
Kalau nak menang dalam pertempuran
Ingat: The man behind the gun
Senjata moderen memang dibutuhkan
Tapi disiplin yang diutamakan
Parewa kampung dan mahasiswa pelajar
Disiplin kurang, semangat berkobar
Diserang musuh sering menghindar
Lalu mengganggu sebentar sebentar
Mungkin ini disebut taktik gerilya
Terbukti mangkus melawan Belanda
Kini musuh sangat berbeda
Kekalahan bertempur sudah diduga
Tentara Pusat menduduki kota
Pasukan PRRI di pinggir rimba
Sering mereka kontak senjata
Orang kampung yang menderita
VIII. Tentara Pusat berdisiplin dan profesional
Tentara pusat sangat berdisiplin
Patuh dan taat kepada pemimpin
Mereka bertempur ibarat mesin
Semua perintah dikerjakan yakin
Tidak membantah instruksi komandan
Disuruh berkelahi tidak segan
Susah dan senang ditanggung badan
Itulah dia prajurit teladan
Ini peribahasa dari Tirai Bambu
Besi yang baik tak dibuat paku
Paku berguna kalau dipalu
Palu istirahat, paku membatu
IX. Dewan Banteng mempelopori perjuangan
20 Desember lima puluh enam
Kejadiaan penting di satu malam
Di Bukittinggi koto rang Agam
Orang berkumpul bermacam macam
Di Bukittinggi tanah rang Kurai
Di dekat pasar di atas ngarai
Di ruangan berkumpul orang pandai-pandai
Nak mengurus negeri yang kusut-masai
Pimpinan sipil serta komandan tentara
Duduk mencekam tanpa berkata
Menunggu pengumuman sebuah berita
Soal pemerintahan negeri tercinta
Malam itu pukul sembilan
Achmad Husein sebagai komandan
Menyampaikan pidato peralihan kekuasaan
Sumatera Tengah berganti pimpinan
Hubungan dengan Pusat lalu terputus
Semua masalah daerah yang urus
Perdagangan luar negeri berjalan mulus
Pembangunan daerah berjalan lurus
Dewan Banteng mulai berjalan
Otonomi Daerah langsung dipraktekkan
Hasil pembangunan bisa dirasakan
Posisi terbaik dalam pembangunan
X. Kesepakatan Sungai Dareh
Kota kecil bernama Sungai Dareh
Dikelingi hutan banyak Ageh
Berkumpullah orang nan gateh-gateh
Menetapkan kesepakatan yang sakeh
Di Sungai Dareh mereka bersepakat
Melawan pusat yang telah sesat
Jangan ada yang ingin berkhianat
Nanti Allah akan melaknat
Banyak tokoh yang hadir di situ
Orang Daerah bersatu padu
Walaupun harus makan sagu
Ijok di dangau berdinding bambu
Inilah organisasi yang tegak di depan
Untuk menyalurkan aspirasi perjuangan
Wadahnya disebut sebagai Dewan
Kepalanya dipanggil sebagai pimpinan
Dewan Gajah di Sumatera Utara
Dewan Garuda di bumi Sriwijaya
Dewan Banteng di tengah pulau Sumatera
Sepakat berjuang bersama sama
Dewan yang berbasis di Sulawesi
Ikut bergabung dengan PRRI
Letkol Sumual sebagai pendiri
Permesta namanya organisasi
Gajah terdorong karena gading
Belang Harimau beserta saing
Dikira dukungan dari keliling
Kiranya hanya dalam berunding
Dewan Gajah, Dewan Garuda
Di awal keduanya ikut serta
Gajah dipecat tinggal celana
Garuda terbang entah ke mana
Pejuang hanya tinggal berdua
Husein di Barat, Sumual di Utara
Tekad dibulatkan semangat membaja
Mengingatkan Soekarno yang berkuasa
XI. Pengumuman tentang PRRI
Naskah ultimatum lalu disiapkan
Di kota Padang dikumandangkan
Bergantung ke Pusat perlu dilepaskan
Segala rencana mulai diprogramkan
PM Juanda ketika itu
Kerja Husein memberi malu
Karena dia tidak setuju
Lapor Soekarno tempat mengadu
Balik kepada diri Soekarno
Merasa hebat tak boleh diago
Kerahkan tentara dari seantero
Menggempur Padang ibarat galodo
Dari darat laut dan udara
Serangan dilakukan membabi buta
Menggunakan berbagai jenis senjata
Kota Padang dikuasai amat segera
Tentara Pusat menduduki Padang
Menghadapi lawan yang tidak seimbang
Sukarelawan PRRI lari lintang pukang
Menyelamatkan diri ke garis belakang
Gerilyawan PRRI masuk ke hutan
Di kampung kampung tempat bertahan
Kedua kelompok saling berintaian
Lalu rakyat yang jadi korban
Panglima Kodam III ketika diganti
Dengan Pranoto yang pro PKI
Kesempatan partai menegembangkan diri
OPR dibentuk memerangi PRRI
PKI mengganas berkembang biak
Menakuti rakyat mengertak-gertak
Diselingi tertawa terbahak-bahak
Rakyat nagari dituduh pemberontak
Kader PKI menyusup militer
Mereka diorganisir dalam OPR
Dilengkapi senjata berbagai kaliber
Diberi perintah serta order
OPR pemuda pro PKI
Ditugaskan menangkap orang PRRI
Dalam kampung berbuat sekehendak hati
Menyiksa membunuh sering terjadi
XII. Para pendukung Komunis
Ketika PKI mulai berkembang
Secara damai tak bisa dilarang
Kekuatan mereka diatur dalang
Rusia dan Cina ada dibelakang
Soekarno berlaku sebagai penyokong
Hoa Kiau berperan sebagai cukong
Si Awam ikut terbawa rendong
Sehingga PKI menjadi sombong
Kacau keributan selalu disulut
Di mana tempat si miskin dihasut
Disuruh demo menuntut nuntut
Lalu ekonomi menjadi kalut
XIII. Kalah bertempur yang meminta korban
Meski PRRI kalah bertempur
Tidak berarti sedia melacur
Hanya selangkah perlu mundur
Strategi baru perlu diatur
Lain diharap lain yang datang
Karena hitungan yang tidak matang
Gezah dan gengsi jadi terbang
Harga diri kita jadi melayang
Walaupun apa yang telah terjadi
Achmad Husein jangan dicaci
PRRI jangan anda malu_i
Bibit yang boneh tetap menjadi
Kekalahan PRRI tetap berdampak
Program keluarga menjadi rusak
Pelajar mahasiswa harapan kelak
Banyak yang luka dan mati ditembak
Beribu keluarga anak Minang
Sekolah kuliah jadi terhalang
Badan diri terlibat perang
Resiko diterima sebagai pejuang
Yang masih tinggal sebagai sisa
Hidup di kampung terlunta lunta
Lalu merantau ke berbagai kota
Mencari hidup di kaki lima
Aturan di kota masih longgar
Di pinggir jalan mereka menggelar
Dagangan lukisan ataupun gambar
Untuk mengisi perut yang lapar
Di samping mati dan tewas
Dampak perang sangatlah luas
Bila berkumpul selalu cemas
Kalau maota tak lagi bebas
XIV. Simbol dan lambang budaya MK yang digulung
Kalau kita sedikit merenung
Inilah perang yang sangat terselubung
Untuk meredam orang kampung
Simbol dan lambang yang digulung


Orang Minang punya kebudayaan
Rumah Gadang lambang persaudaraan
Tuah Nagari simbol kejayaan
Dijadikan objek untuk dihilangkan
Saat perang sedang berkobar
Rumah Gadang banyak dibakar
Di Luhak nan Tuo Tanah Datar
Bisa dibuat sebuah daftar
Andaleh Br. Bukik dibumi hanguskan
Habis sudah semua kekayaan
Termasuk pula bahan makanan
Yang tinggal hanya baju di badan
Ini catatan untuk sejarah
Peristiwa terjadi di Talang Tangah
Ketika PRRI tak mau menyerah
Nagari diamuk si jago merah
Sabu dan Andaleh dua nagari
Letaknya di lereng gunung Merapi
Rumah Gadang banyak berdiri
Kini musnah dilalap api
Kalau kebakaran terjadi di kota
Api dipadamkan oleh PBK
Kebakaran di kampung membuat sengsara
Tiada bantuan bisa diminta
Semua harta menjadi abu
Hidup serupa di rimba Kubu
Kain tersisa selembar baju
Tak ada pemerintah datang membantu
XV. Derita dan penantian seorang Ibu
Di dalam laporan tercatat resmi
Ketika perang telah terjadi
6743 orang hilang atau mati
Mereka korban membela demokrasi
Sudah takdir Allah berkehendak
Banyak yang mati kena ditembak
Jauh dari ibu, jauh dari bapak
Mayat terbujur di dalam semak
Bukannya diri yang meminta
Tapi ketetapan Tuhan yang Esa
Jasad dikubur di tengah rimba
Tak ada petunjuk, tiada penanda
Inilah derita yang sangat panjang
Saat si Buyung tak kunjung pulang
Mungkin si anak telah hilang
Tidak kembali setelah perang
Ketika damai sesudah pergolakan
Buyung belum kembali ke kampung halaman
Bunda menunggu berbulan bulan
Hati sedih tak bisa dikatakan
Terasa badan tidak di bumi
Ibu menangis sepanjang hari
Mengenang si Buyung belahan diri
Entah ke mana akan dicari
Kepada kawan diminta informasi
Tapi tiada jawaban pasti
Buyung terpisah lama sekali
Saat bergerilya seorang diri
Buyung dicari ke semua tempat
Di mana terjadi pertempuran hebat
Antara TP dengan tentara Pusat
Mungkinkah ananda ikut terlibat
Kalau boleh ibu berharap
Semoga Buyung hanya tertangkap
Kini di tahanan sedang lelap
Menunggu vonis hukuman tetap
Seandainya Buyung telah gugur
Temuilah Bunda di mimpi tidur
Nisan pusara dijadikan penghibur
Walau jasad telah hancur
Beginilah nasib Bunda terima
Tiada kabar, tiada berita
Meskipun dicari ke mana mana
Buyung raib tak tentu rimba